King Kobra Sepanjang Dua Meter Hebohkan Warga Minahasa

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Warga Kecamatan Kakas Barat, Minahasa berbondong-bondong mendatangi rumah Ruddy Kolang di Desa Panasen Jaga II.
Tertangkapnya seekor ular jenis King Kobra menjadi magnet bagi mereka. Bagaimana tidak, jenis ular tersebut sangat langka muncul di daerah mereka.
Ruddy, pemilik King Kobra sepanjang dua meter lebih dengan berat hampir tiga kilogram tersebut mengaku, ular tersebut ditemukannya Rabu (27/8/2014) di kebunnya yang tak jauh dari rumah. Ia mendapati, King Kobra tersebut sedang melalap ular jenis lain.
"Saya kaget, ini seperti bukan ular biasa. Tiba-tiba ia membuka kepalanya, baru saya tahu kalau itu Kobra. Tak tahu jenis King Kobra atau hanya Kobra biasa. Saya lihat, badan ular yang dilalap Kobra itu langsung mengering," ujarnya.
Tak mau melewatkan kesempatan, PNS di Kantor Camat Kakas Barat ini langsung mengambil kayu hendak menangkapnya. Dibantu seorang temannya, sempat terjadi saling adu, sebelum King Kobra tersebut berhasil ditangkap.
"Akhirnya ular bisa ditangkap. Saya masukkan di bambu yang biasa untuk menampung nira," kenangnya.
Sesampainya di rumah, kabar tersebut cepat menyebar. Warga pun berbondong-bondong ingin melihat langsung rupa King Kobra tersebut.
"Waduh, kalau saya buka karcis, uangnya banyak itu," candanya.
Antusias warga tersebut sangat beralasan. Pasalnya, di wilayah Remboken dan Minahasa sekalipun sebelumnya tak pernah didapati King Kobra.
"Saya tanya ke orang yang umurnya 70 sampai 80 tahun, mereka bilang tak pernah ada Kobra di Remboken. Bahkan wilayah lainnya. Makanya kami heran kenapa sampai ada," tutur Ruddy.
Memang menurutnya, di desa tetangga yakni Desa Totolan, sebelumnya sudah ditangkap empat Kobra berukuran besar. Juga di desanya sudah beberapa kali dilihat Kobra.
"Di Totolan, Kobranya ditangkap di perkampungan warga. Ukurannya besar seperti Kobra ini. Yang dilihat warga di kebun masih kecil, baru sekarang di desa kami muncul yang besar," jelasnya.
Ia menganalisa, ular tersebut terbawa bersama alat berat yang dibawa dari Kalimantan saat pembuatan bendungan di Sungai Kakas.
"Tersisip di situ, lalu kemudian berkembang biak. Kemungkinan seperti itu," katanya menerka.
Ruddy berencana menjual King Kobra tersebut. Ia enggan memeliharanya.
"Di Desa Totolan, empat Kobra yang ditemukan dibeli orang Manado dengan harga Rp 1 juta per ekor. Katanya dibuat obat. Saya pun akan menjualnya," tuturnya.
Sementara menunggu peminat, Ruddy pun bersiap untuk menyajikan makanan bagi King Kobra tersebut.
"Saya belum memberinya makan, karena kemarin dia baru saja makan ular. Ini lagi mau cari-cari tikus untuk dikasih ke Kobra itu," ujarnya.
Warga Kakas berbagai usia tampak antusias melihat keberadaan King Kobra tersebut.
Mereka bahkan terheran-heran, tak menyangka ada ular jenis tersebut. King Kobra itu pun tampak tak bisa tenang akibat warga yang tak hentinya menggoda. Merasa terancam, King Kobra tersebut terus mengangkat badan dan membuka sayap di lehernya. Semakin ia marah, semakin besar sayapnya, semakin puas pula warga yang menyaksikannya.
Sementara itu, Pengamat Lingkungan Universitas Negeri Manado, Prof Orbanus Naharia menganalisa, munculnya King Kobra di perkampungan warga akibat putusnya rantai makanan. Pasalnya, tikus yang menjadi makanan ular, juga diincar untuk dikonsumsi manusia.
"Ketika ular-ular itu tak lagi mendapat makanan di hutan, mereka otomatis turun ke perkampungan warga," ujarnya.
Selain itu, faktor lainnya adalah rusaknya kawasan hutan.
"Pengelolaan hutan yang tak baik saat ini, berimbas pada ekosistem di dalamnya. Ular-ular tersebut otomatis mencari tempat lain, yang ternyata muncul ke permukiman warga," jelasnya.
Menurutnya, hutan Sulawesi memang banyak dihuni ular Kobra. Warga yang kaget melihat, karena sebelumnya Kobra tinggal di hutan.
"Hutan Sulawesi banyak didiami Kobra. Namun seperti saya bilang tadi, rusaknya hutan atau hilangnya makanan terpaksa membuat mereka berpindah," jelasnya. 
 
Source : tribunnews.com

Related

Dalam Negeri 4423536661018665266

Post a Comment

emo-but-icon

item