Pemerintah Mesir Dituding Gagal Melindungi Umat Kristen Koptik


Kristen Koptik

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Umat Kristen Koptik Mesir menilai, pemerintah gagal memberikan perlindungan terhadap mereka. Perspektif ini mengemuka pascateror terhadap sebuah bus yang menewaskan 29 jemaat Kristen Koptik dan melukai 20 lainnya. Kelompok teroris ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Salah satu kerabat korban tewas menerangkan, serangan berawal saat sekelompok pria bersenjata menghentikan konvoi yang tengah menuju ke kapel Saint Samuel di dekat kota Minya, Mesir selatan.
Dua dari korban tewas dalam peristiwa yang terjadi pada Jumat, 26 Mei itu diketahui sebagai Kirollos Mahrous (19) dan sepupunya Guirguis Mahrous (25). Teman Gurguis, Mina Adel, mengatakan, pria itu akan menikah dalam beberapa minggu mendatang.

"Dia berusaha masuk kepolisian setelah lulus SMA, tapi ditolak karena ia Kristen," kata Mina seperti dilansir The Guardian, Senin (29/5/2017).

"Semuanya hanya omongan, tak ada tindakan. Kondisi darurat yang mereka umumkan hanya untuk menenangkan opini publik, namun sama sekali tidak membantu. Bahkan pendeta, uskup, dan anggota parlemen tidak saling menghormati. Sekarang tidak ada satu pun yang mendengarkan kata-kata mereka. Kami muak, ditambah lagi pemerintah tak melakukan upaya ekstra. Faktanya, perlakuan polisi sekarang jauh lebih buruk dibanding dulu," imbuhnya.

Sementara itu, Eid Fares Ishak, salah seorang sepupu Guirguis dan Kirollos mengatakan, "Status darurat nasional tidak membuat kondisi menjadi lebih baik, seolah-olah itu tidak berguna. Pemerintah seharusnya melakukan tindak pencegahan dan lebih tegas dalam kasus serangan semacam itu, seperti segera mencari pelakunya dan tidak mengulur-ulur waktu."

Pemerintah Mesir sebelumnya telah berjanji akan meningkatkan keamanan dan melindungi warga Kristen pascateror bom bunuh diri yang menimpa dua gereja saat ibadah Palm Sunday pada April 2017. Setidaknya, 45 orang tewas dalam serangan tersebut.

Namun mayoritas umat Kristen Koptik yang berjumlah 10 persen dari total populasi rakyat Mesir menilai, status darurat nasional yang mulai diberlakukan sejak 10 April tidak berdampak banyak dalam melindungi mereka.

Teror penembakan di dekat Kota Minya itu merupakan yang keempat sejak Desember 2016, di mana seorang pengebom bunuh diri menargetkan Gereja Katedral St Mark di Kairo. Serangan tersebut menewaskan 29 orang.

Pada Februari, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan di bulan Desember tersebut. Kelompok teror itu menyebut, umat Kristen Mesir sebagai "target utama dan favorit kami".
Sementara itu, bereaksi atas serangan penembakan terhadap umat Kristen Koptik, Paus Fransiskus memimpin sebuah doa bagi para korban pada Minggu waktu Vatikan. Fransiskus belum lama ini melawat ke Mesir untuk mempromosikan dialog antaragama. Di Negeri Piramida tersebut ia juga bertemu dengan Presiden Abdel Fatah al-Sisi.

(Liputan6)

Related

Dunia 3642891062516539209

Post a Comment

item