Pencarian Korban Hilang Dilakukan Secara Sekala-Niskala


www.nusabali.com-pencarian-korban-hilang-dilakukan-secara-sekala-niskala

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Pencarian dilakukan secara sekala maupun niskala.Namun pencarian pada hari kedua itu belum membuahkan hasil. Pantauan NusaBali, Selasa pagi, pencarian secara sekala melibatkan tim gabungan dari Basarnas, BPBD Klungkung, Pol Air, Tagana dan warga setempat termasuk keluarga korban. Mereka menyisir sekitar lokasi korban tenggelam bersama dua korban selamat masing-masing Saleh,35, dan keponakannya Wahyu Saputra,10, pada Senin (8/5) sektiar pukul 18.00 Wita.

Selama pencarian petugas menggunakan peralatan selam, perahu karet, serta baju pelampung. Ada warga nekat membantu pencarian secara manual, tanpa peralatan. Namun setelah berjam-jam menyisir sungai yang bermuara dari Tukad Unda ini korban tak kunjung ditemukan. Pencarian dihentikan pukul 16.30 Wita. Pencarian diwarnai isak tangis keluarga korban.

Kepala Pelaksana BPBD Klungkung I Putu Widiada mengatakan petugas kesulitan dalam pencarian karena air keruh dan banyak eceng gondok di sungai. Pencarian dilanjutkan, Rabu (10/5) ini. 

Keluarga korban juga melakukan pencarian dengan jalur niskala yaitu menanyakan kepada orang pintar. Menurut ipar korban Ni Wayan Farida, sesuai petunjuk orang pintar korban memang disenangi oleh Ratu Nyi Roro Kidul, sehingga Senin kemarin, rerencangan Ratu berupa buaya datang untuk membawa korban. “Komang Budiasa sebenarnya bisa berenang, tapi kemarin malah tenggelam,” ujarnya.

Atas petunjuk orang pintar, pihaknya menghaturkan banten di lokasi, termasuk di Pura Watu Klotok. Dengan harapan korban bisa segera ditemukan. “Kami sudah mengiklaskan semua ini, kami hanya ingin dia bisa ditemukan,” ujarnya sedih. 

Kata Farida, korban selama ini dikenal sebagai sosok yang pendiam serta diyakini melik atau bisa berkomunikasi langsung dengan makhluk halus. Hal ini juga terlihat dari keseharian korban sering bercakap-cakap seorang diri di rumahnya. Bahkan dari kebiasaannya itu korban hingga berusia 35 tahun belum menikah, karena pacarnya keburu kabur setelah mengetahui kalau Budiasa sering berbicara seorang diri.

Farida menambahkan tiga hari sebelum korban tenggelam seorang kerabat korban sempat bermimpi rumahnya disapu gelombang air laut tinggi. Namun tidak diketahui secara pasti apa arti mimpi tersebut. 

Sesuai cerita di masyarakat kawasan bekas galian C di areal tersebut memang terkenal angker, dan di lokasi sekitar sudah memakan tiga korban jiwa. Ada yang tenggelam ada pula yang sengaja menenggelamkan diri. 

Salah satu korban selamat, Wahyu Saputra,10, kejadian ini bermula pada senin sekitar pukul satu siang, dia bersama pamannya Saleh (tinggal di Banjar Lebah, Kelurahan Semarapura Klod Kangin, Klungkung) memancing ikan di hilir Tukad Unda, bekas galian C, Banjar Dukuh, Desa Gelgel sekitar pukul 13.00 Wita.

Kemudian pukul 18.00 Wita tepatnya saat Trisandya dia dan pamannya Saleh pulang dengan membawa tangkapan tiga ekor ikan. Karena arusnya deras, Saputra digendong (disunggi) oleh pamannya. Di saat yang bersamaan korban Komang Budiasa yang merupakan teman pamannya juga sama-sama melewati sungai namun posisi berjarak sektiar 5 meter dari mereka.

Ternyata setelah hendak di tepi sungai Saleh terjatuh akibat terseret arus. Melihat hal tersebut Budiasa langsung menolong mereka dengan cara mendorong dari belakang. Akhirnya keduanya selamat, sedangkan korban malah tenggelam.

(NusaBali)

Related

Warta Semarapura 8980773256278280624

Post a Comment

item