Pengusaha Tahu Pilih Kedelai Impor


www.nusabali.com-pengusaha-tahu-pilih-kedelai-impor

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Kedelai  produksi lokal ternyata tidak menjadi pilihan para pengusaha untuk bahan baku tahu dan tempe.

Alasan pokoknya  karena  faktor kualitas. Tahu  yang berbahan baku kedelai  lokal tidak cukup awet.  Terutama warnanya, berubah menjadi kecoklatan dalam hitungan jam. Sebaliknya tahu yang berbahan baku kedelai impor kondisinya relatif stabil. Warna tetap putih segar meksipun hingga seharian. Sedang alasan lain, produksi kedelai lokal yang langka.

Para perajin/pengusaha tahu mengakui soal  pemanfaatan kedelai impor sebagai bahan baku produksi tahu dan tempe. “ Tak jelas apa sebabnya,” ujar Zia, seorang pengusaha tahu di kawasan Jalan Kemuda  Kelurahan Tonja Denpasar Utara, Jumat (16/6). 

Dari penuturannya, pernah dicoba menggunakan kedelai lokal untuk tahu. Setelah proses, memasak, mencetak  terus penjualan ke pasar dan konsumen, warna tahu berubah. Dari awalnya putih, kemudian kecoklatan dan agak gelap.  Tahu jadi tidak segar. Karenanya  kedelai impor lah yang dipilih. “Meski seharian  warnanya tetap putih segar,” tunjuk  Zia.

Cerita yang sama disampaikan pengusaha tahu dan tempe  lainnya. “ Sejak awalnya memang gunakan kedelai impor,”  ujar  Dodi,  pengusaha lain di Jalan Antasura di Banjar Bantas Desa Peguyangan Kangin Denpasar Utara. Karena merasa kualitasnya sesuai dengan kebutuhan, para pengusaha mengaku ‘ tak kapok’  menggunakan kedelai impor, meski harganya per kilo cenderung terus naik.  Dari Rp 6.500 per kg pada bulan lalu kini naik jadi Rp 7.200 per kg. Itu harga untuk jenis yang biasa dipakai bahan baku tahu dan tempe.  Ada jenis  merk lain yang biji lebih bulat, harganya juga lebih mahal. “Yang penting tetap lancar, meski untungnya sedikit,” ujar Zia.

Kedelai tidak termasuk dalam salah satu kebutuhan yang distok Bulog Bali. Alasannya karena  kebutuhan kedelai dinilai  tidak  terlalu banyak. “Permintaan juga tidak ada,” ujar Kabid Pengadaan Operasional Pelayanan Publik (POPP) Bulog Bali I Made Agustama.  Dikatakan kalau Bulog nanti mengadakan kedelai, tentu juga wajib dijual. Tetapi karena permintaan tidak ada, lanjut Agustama  tentu tak mungkin dilakukan penjualan.

Sementara dari pantauan kebutuhan kedelai diperkirakan cukup tinggi. Hal itu mengacu jumlah kedelai yang diperlukan kalangan pengusaha  tahu dan tempe yang terbilang lumayan banyak. Seorang pengusaha tahu, memerlukan tidak kurang dari 100 kg lebih kedelai per hari. Sedang  sentra usaha tahu dan tempe menyebar di berbagai tempat di Denpasar.  Itu karena potensi pasar yang  lumayan tinggi, mengingat tahu maupun tempe merupakan kebutuhan harian.

(NusaBali)

Related

Berita Ekonomi 1745001105068020880

Post a Comment

item