Pasokan Seret, Garam 'Langka' di Pasaran


www.nusabali.com-pasokan-seret-garam-langka-di-pasaran

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Dampaknya harganya melonjak, membuat pedagang dan warga kelimpungan.  Dari penuturan para pedagang, gejala kelangkaan tersebut sudah dirasakan sejak beberapa pekan lalu. Puncaknya sangat dirasakan sejak tiga hari lalu. “Harganya naik drastis, karena barangnya seret ada,” ujar Ari, seorang pedagang bumbu di Pasar Kumbasari Denpasar, Jumat (22/7).

Ada dua jenis garam yang lumrah dijual para pedagang, yakni garam kemasan bermerk beryodium dan garam  putih kiloan tak bermerk, yang di antaranya merupakan produksi petani garam lokal. “Keduanya harganya naik keras,” lanjut Ari. 

Karena harganya yang tinggi tersebut, pedagang kesulitan memasok. Selain stok yang terbatas, harganya yang mahal menyebabkan pedagang khawatir konsumen ogah membelinya. “Terutama garam kemasan (bermerk) yang sulit barangnya,” tambah Ari.

Hal yang sama diakui pedagang lainnya. “Benar memang  naik harga garam naik. Kita pedagang jadi susah,” ucap I Gusti Biyang Rai, pedagang lainnya. Dia pun menunjukkan  jenis garam yang dijual, yakni garam kiloan dan garam beryodium kemasan bermerk. “Kalau yang ini sulit membelinya di toko,” tunjuk Gusti Biyang Rai, mempelihatkan  garam dagangannya. 

Para pedagang menuturkan warga pembeli maupun konsumen juga banyak kaget dengan lonjakan harga garam yang dirasakan  terlalu drastis kenaikannya.

Terkait kenaikan harga garam tersebut, Perum Bulog menyatakan sejauh ini untuk garam Bulog tidak ada kewenangan. “Kita tidak mengani soal garam,” ujar Kabid Pengadaan Operasional Pelayanan Publik  (POPP) Bulog Regional Bali I Made Agustama. 

Bulog sejauh ini fokus pada beras. “Sedang garam belum,” kata Agustama. Namun demikian, Pemerintah meminta agar Bulog mengadakan atau mengimpor garam, Bulog tentu siap melaksanakannya.  Sampai saat ini belum ada untuk itu,” jelasnya.

Terpisah Kadis Perikanan Ir  I Made Gunaja, mengakui terjadinya kenaikan  harga garam di pasaran. “ Informasi memang demikian (naik),” ujar Gunaja. Pihaknya menduga ‘kelangkaan’ garam dominan karena factor cuaca.  Cuaca  kerap hujan beberapa waktu lalu, sehingga petani garam kesulitan membuat garam. “Saya pikir factor cuaca penyebab pokoknya,” terang Gunaja. Selain itu, produksi garam, yakni  garam petani terus menurun. Karena jumlah petani garam menyusut. “Petani garam kan hanya orang  tua saja. Sedang anak muda tidak ada lagi,” kata Gunaja menyebut beberapa nama tempat /sentra penggaraman di Bali. Di antaranya Gerokgak, Pemuteran di Buleleng, Tulamben di Kubu Karangasem dan Kusamba Klungkung.  

Jelas Gunaja, produksi garam (lokal) tertinggi terjadi  tahun 2015 yakni  11.000 ton. Tahun 2016 produksi menurun jadi  10-an ton.  “Memang tetap kekurangan (produksi garam) sehingga didatangkan dari luar, seperti dari Madura,” ucap Gunaja.  

Sementara pantauan, harga per kilogram garam biasa  atau garam lokal, beragam. Namun demikian kisaranya antara Rp 10.000 sampai Ro 14.000 per kilogram. Padahal harga sebelumnya hanya Rp.5000 per kilogram.  Sedang harga garam kemasan bermerk dan beryodium berkisar Rp 38.000 per kilogram. Sedang sebelumnya harganya sekitar Rp 35.000 per kilogram.

(NusaBali)

Related

Berita Ekonomi 3092362421897266406

Post a Comment

item