Ditemukan Selonding Zaman Raja Jaya Pangus, Keris, Perabot Keramik


www.nusabali.com-ditemukan-selonding-zaman-raja-jaya-pangus-keris-perabot-keramik

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Temuan lingga yoni dan sejumlah artefak oleh krama Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, beberapa waktu yang lalu langsung mendapat tanggapan dari Balai Arkeologi (Balar) Denpasar. Tiga orang anggota tim Balar melakukan identifikasi sejumlah temuan tersebut di Jaba Tengah Pura Desa Bengkala, pada Saniscara Paing Klawu, Sabtu (5/8) pagi.

Selain lingga yoni yang sudah ditemukan tujuh tahun silam oleh Made Suyasa, warga Desa Tajun, kemudian temuan tersbeut dikembalikan kepada Desa Pakraman Bengkala, Sabtu (22/7) lalu, juga ditemukan sejumlah artefak berupa mata tombak, keris, cawan, dan perabotan keramik, selonding, dan sejumlah instrumen lainnya saat pemugaran meru tumpang 9 dan 11 yang ada di Pura Desa Pakraman Bengkala.

Sekretaris Desa Pakraman Bengkala I Ketut Darpa, yang ditemui kemarin mengatakan bahwa penemuan sejumlah barang yang diyakini memiliki nilai arkeologi tersebut setelah dilaksanakannya pemugaran palinggih meru tumpang 9 dan 11. Semisal cawan dan perabotan berbahan dasar keramik yang ditemukan di gedong meru tumpang 9.

“Memang baru kami temukan, sebelumnya tidak ada yang berani membuka. Karena kami sedang melakukan rehab pura, ketemu lah barang-barang ini. Ada yang ditemukan di antara atap meru, ada di gedongnya secara tidak teratur, pada 26 Juli lalu,” kata dia. 

Meski sudah pernah dipugar pada tahun 1951 silam, namun para tetua di Bengkala tidak mengetahui keberadaan benda-benda tersebut. Kemungkinan karena pemugaran hanya dilakukan pada atap palinggih meru saja.

Dengan temuan itu pihaknya langsung memberitahukan hal tersebut kepada pihak Balar Denpasar. Desa Pakraman Bengkala pun mengaku merasa sangat senang, karena kedatangan Balar untuk mengidentifikasi barang-barang temuan mereka secara cepat. Selanjutnya jika sudah ada hasil yang pasti, Desa Pakraman Bengkala berencana mensosialisasikan kembali kepada seluruh kramanya.

“Kami saat ini terbuka kepada masyarakat, berbeda dengan dulu yang mungkin sengaja disembunyikan karena suatu alasan. Nah, ke depannya ini adalah milik kami, kekayaan kami selaku warga Bengkala untuk terus dijaga dan dilestarikan,” imbuh Ketut Darpa.

Sementara itu Tim Balar Denpasar yang dipimpin oleh Kepala Balar Denpasar I Gusti Made Suarbawa, di akhir identifikasi mengatakan ada beberapa artefak yang memang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Seperti salah satu cawan atau mangkok keramik yang ditemukan bersama satu set teko keramik berjumlah sepuluh dan empat cawan kecil.

Dari hasil identifikasi awal, belasan perabotan keramik tersebut ada satu cawan yang berasal dari Dinasti Ming antara abad ke 13 – 14. Cawan keramik tersebut memiliki diameter atas 13 cm, diameter dasar 6,5 cm, tinggi 6 cm, dan ketebalan 6,8 inci, berwarna hijau telur asin dengan hiasan floris biru. Ciri khas mangkok tersebut sebagai benda zaman Dinasti Ming dengan glasir jejak proses pembuatannya. Cawan yang dibuat dengan teknik dibakar dan ditumpuk sangat khas di bagian dalam cawan yang masih terlihat bekas penumpukan pada proses pembuatannya.

Sedangkan perabotan keramik lainnya berupa sepuluh buah teko keramik dan empat cawan kecil disebut produk Eropa yang angka tahunnya masih sangat muda. Diperkirakan seluruh perabotan keramik tersebut disakralkan sejak dahulu karena dipakai untuk melengkapi sarana upacara oleh leluhur krama Desa Bengkala.

Selanjutnya yang dinyatakan memiliki nilai sejarah lainnya adalah temuan instrumen selonding berbahan dasar perunggu, dengan panjang 34,5 cm, lebar 3 cm, dan tebal 6,87 cm tersebut dinyatakan sama seperti bilah selonding yang sempat dijemput krama Desa Bengkala ke Kalimantan. Instrumen selonding ditemukan dalam kotak hitam berbahan dasar seng di gedong meru tumpang 11.

“Ini adalah bagian lain dari selonding sebelumnya yang ditemukan warga di sini. Masih dalam satu kesatuan,” kata Suarbawa. Berdasarkan perbandingan di beberapa tempat ditemukannya benda bersejarah serupa, seperti di Kintamani, hampir bersamaan juga disertai dengan penemuan prasasti yang berkonteks prasasti Jaya Pangus. Selonding ini pun disebut berasal dari zaman Bali kuno saat kejayaan Raja Jaya Pangus di Bali.

Sementara satu temuan yang sempat ditelisik mendalam oleh tim Balar adalah lingga yoni yang melambangkan purusa pradana. Secara fisik lingganya berukuran lebar 9,4 cm dan panjang 15 cm. Sedangkan yoni-nya berukuran panjang 20 cm, lebar 14 cm, dan tinggi 11 cm. Lingga yoni yang terbuat dari batu andesit yang disakralkan krama Desa Pakraman Bengkala tersebut diyakini sebagai salah satu sarana pemujaan, yang sudah ada sebelum pengaruh Hindu Budha masuk ke Indonesia. Hal tersebut dipastikan dari bentuk kedua batu itu yang jika disatukan tidak memiliki celah. Sedangkan jika dibandingkan dengan lesung atau alat tumbuk lainnya tidak relevan. Karena lesung atau alat tumbuk pada umumnya memiliki celah antara batu yang satu dengan yang lainnya jika disatukan.

Hanya saja untuk memastikan tahun pastinya, Suarbawa menyebutkan perlu adanya penelitian lebih lanjut yang dilakukan di laboratorium untuk mengetahui lapisan yang menempel di batu tersebut. 

“Namun yang terpenting bukan angka tahunnya tetapi lebih kepada konsep dan nilai dari benda tersebut. Dari bentuknya ini adalah benda yang dipakai sebagai salah satu sarana pemujaan dan ritual tertentu yang menggambarkan aspek kesuburan,” tuturnya.

Setelah identifikasi tersebut, pihak Balar kembali menyerahkan benda-benda dimaksud kepada pihak Desa Pakraman Bengkala untuk disimpan sebagai mana mestinya. Rencananya benda-benda artefak itu akan disimpan kembali di gedong palinggih meru apabila pemugaran palinggih sudah selesai dilakukan. Saat ini masih disimpan di piyasan Pura Desa Bengkala. Terkecuali lingga yoni akan dilinggihkan sesuai dengan hasil paruman yang akan digelar. Karena lingga yoni merupakan wujud pemujan kepada Dewa Siwa yang umumnya oleh umat Hindu di Bali disungsung di Pura Dalem. 

Sebelumnya diberitakan, Desa Pakraman Bengkala, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng mendapatkan kembali sebuah benda bersejarah. Benda tersebut berbentuk sepasang batu lingga yoni, yang ditemukan seorang warga 7 tahun silam dan sempat dibawa pergi dari Desa Bengkala. Pengembalian lingga yoni yang memiliki kekuatan gaib dan sempat bikin merana penemunya ini dilakukan melalui prosesi upacara ritual di Pura Desa Pakraman Bengkala pada Saniscara Pon Ugu, Sabtu (23/7) sore.

Adalah pasangan suami istri (pasutri) I Made Suyasa, 52, dan Ni Ketut Karnadi, 51, yang mengembalikan benda bersejarah lingga yoni ke Pura Desa Pakraman Bengkala melalui prosesi upacara ritual ala Hindu. Pasangan Made Suyasa dan Ketut Karnadi merupakan pasutri asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng yang dulu menemukan batu berbentuk lingga yoni ini ketika membeli sebidang tanah di Desa Bengkala, 7 tahun silam.

Batu lingga yoni yang dikembalikan ke asalnya ini awalnya ditemukan pasutri Made Suyasa dan Ketut Karnadi, sekitar tahun 2010 silam. Kala itu, pasutri asal Banjar Pudeh, Desa Tajun ini membeli sebidang tanah di wilayah Desa Bengkala. 

Ketika pertama kali mutar-mutar di tanah yang dibelinya di Desa Bengkala tersebut, pasutri Made Siyasa-Ketut Karnadi langsung menemukan sepasang batu yang diyakini sebagai lingga yoni. 

Yang pertama ditemukan Made Suraya —yang mantan Camat Buleleng yang kini menjabat Sekretaris Perpustakaan Daerah Buleleng— adalah batu berbentuk yoni (simbol perempuan). Batu berwarna abu-abu ini ditemukan terserak di atas permukaan tanah di bawah pohon mangga. 

Batu berbentuk yoni ini ditemukan Made Suyasa tanpa sengaja. Sebab, matanya seketika melihat ujung batu yang sebagian tertutup tanah. Setelah didekati dan diangkat, bentuknya ternyata bagus. Karena penasaran, Suyasa pun kembali menelisik bebatuan di hamparan tanah yang baru dibelinya. Ternyata, dia menemukan lagi batu berbentuk lonjong yang disebut lingga (simbol lelaki), dalam jarak 10 meter dari titik temuan batu pertama. Batu berbentuk lonjong yang juga warna abu-abu ini memiliki panjang 10 cm dan diameter sekitar 5 cm.

Suyasa kemudian menaruh batu berbentuk lonjong itu di atas di atas batu pertama, ternyata pas dan cocok. Sepasang batu lingga yoni ini pun akhirnya dibawa pulang ke rumahnya di Kota Singaraja. Suyasa yang mantan Camat Buleleng kemudian menyimpan sepasang batu lingga yoni ini di Palinggih Surya merajan (pura keluarga)-nya.

“Awalnya, sepasang batu ini saya taruh di pelataran Palinggih Surya rumah saya di Jalan Komodo Singaraja wilayah Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng. Setelah sepasang batu ini berada di rumah, saya mengalami banyak kejadian aneh,” kenang Suyasa.

(NusaBali)

Related

Seputar Bali 2138979603155195208

Post a Comment

item