Jurnalis Australia jadi sumber yang dikutip dokumen AS soal pembantaian PKI pada 1965



Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Pemerintah Amerika Serikat pekan ini merilis dokumen rahasia soal peristiwa pembantaian Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965-1966 di Indonesia. Dalam serangkaian dokumen itu terpampang jelas pemerintah AS mengetahui peristiwa pembantaian massal terhadap anggota PKI dan diduga para simpatisannya.

Di antara 39 dokumen dengan 30 ribu halaman yang dirilis itu, pemerintah AS mengutip seorang sumber yang disebut sebagai 'jurnalis Australia yang bisa diandalkan'.

Wartawan Australia sekaligus sejarawan bernama Frank Palmos, yang ketika itu jadi koresponden harian the Sydney Morning Herald dan sejumlah surat kabar lainnya, tidak diragukan lagi adalah sumber yang dimaksud dalam dokumen AS tersebut.

suharto di masa peristiwa 1965 ©nsarchive.gwu.edu



"Duta Besar Amerika untuk Indonesia ketika itu Marshall Green tertawa karena saya tahu lebih banyak dari dia," ujar Palmos, yang kini berusia 70-an tahun kepada Fairfax Media, seperti dilansir laman the Sydney Morning Herald, Sabtu (21/10).

Palmos rupanya juga menjadi inspirasi bagi terciptanya film The Years Living Dangerously yang dibintangi Mel Gibson tentang peristiwa seputar 1965. Palmos termasuk salah satu warga asing yang menjadi saksi pembunuhan 500 ribu lebih orang-orang yang diduga komunis di Indonesia.

Dalam dokumen telegram 1516 dari Badan Arsip Keamanan Nasional menyatakan, ada komunikasi antara pengamat Barat dan sejumlah aktivis dari PKI.

Telegram tertanggal 20 November 1965 menyebutkan ada 'jurnalis Australia yang bisa diandalkan' dan fasih berbahasa Indonesia serta merupakan wartawan Barat pertama yang mengunjungi Jawa Tengah pada 10 Oktober.

"Dia mengatakan sudah berkomunikasi dengan kader PKI di sejumlah tempat di Jawa Tengah dan mereka bingung serta tidak tahu ada peristiwa Gerakan 30 September," bunyi telegram itu.

Menurut Palmos, dia dan jurnalis stasiun televisi Kanada, CBC, Don North, mengunjungi Jawa Barat dan Jawa Tengah selama 10 hari setelah peristiwa G30S.

"Saya ingin tahu apakah peristiwa di Jakarta itu tersampaikan dengan baik ke seluruh anggota PKI," kata Palmos. "Bendera bintang merah komunis sudah pada diturunkan, pertanda mereka mulai tiarap."

Palmos tidak terkejut ketika mengetahui para kader PKI di daerah tidak mengetahui peristiwa G30S di Jakarta.

"Pemancungan paling sering terjadi, tapi dalam skala yang lebih besar, eksekusi dengan penembakan sudah dianggap biasa," tulis Palmos waktu itu di The Sun News, koran terbesar di Melbourne saat ini. 

(Merdeka.com)

Related

Dunia 8326122577777141378

Post a Comment

item