Lima Pamangku Mulang Pakelem di Gunung Agung


www.nusabali.com-lima-pamangku-mulang-pakelem-di-gunung-agung

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Ritual mulang pakelem ini dilaksanakan serangkaian upacara guru piduka di Pura Pasar Agung, Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem.

Ritual mulang pakelem, Senin kemarin berlangsung sejak pagi pukul 08.30 Wita hingga siang pukul 14.00 Wita, disinkronkan dengan kegiatan mengecek kondisi riil kawah puncak Gunung Agung di ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut (Dpl). Lima pamangku yang naik ke puncak untuk melaksanakan ritual mulang pakelem kemarin dipandu pramuwisata pendakian Gunung Agung, I Ketut Ngenteg.

Rombongan pamangku yang mulang pakelem di kawah puncak Gunung Agung kemarin dikoordinasikan Jro Mangku Nyoman Reta, Pamangku Puncak Gunung Agung asal Desa Sebudi, Kecamatan Selat. Sedangkan empat pamangku lainnya masing-masing Jro Mangku Kadek Rimpug (asal Banjar Kelodan, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung), Jro Mangku Wayan Subrata (asal Banjar Kelodan, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung), Jro Mangku Pasek (asal Banjar Kaler, Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Karangasem), dan Jro Mangku Seleg (dari Banjar Langsat, Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem). Selain mereka, ikut juga Kelian Banjar Yehmalet, Desa Antiga Kelod, Kecamatn Manggis, I Nengah Sarianta.

Jro Mangku Reta memaparkan, suasana visual Gunung Agung, Senin kemarin, tampak normal seperti biasanya. Burung-burung tetap berkicau riang, binatang yang hidup di hutan Gunung Agung pun masih berkeliaran. Kemarin terjadi kabut tebal dan cuaca sejuk, dengan suhu 19-20 derajat celcius di sekitar hutan Cemara.

Sedangkan dari kawah puncak Gunung Agung, kata Jro Mangku Reta, berhembus asap putih bertekanan rendah dengan ketinggian 50 meter, yang terlihat di 11 titik. Juga tercium tipis bau belerang. "Ini buktinya kawah Gunung Agung menghembuskan asap putih dan mengeluarkan suara gemuruh terus menerus," ujar Jro Mangku Reta.

Jro Mangku Reta mengaku tiba di kawah puncak Gunung Agung lebih cepat dari biasanya, karena tidak sempat berhenti saat mendaki. Biasanya, untuk bisa sampai ke puncak Gunung Agung, memerlukan waktu sekitar 3 jam. “Kali ini, saya tempuh pendakian dalam waktu 2 jam 10 menit,” katanya.

"Saya hanya selama 10 menit berada di puncak Gunung Agung, karena perasaan saya waswas. Saya cepat-cepat balik dari puncak Gunung Agung, seusai ritual mulang pakelem,” lanjut pamangku asal Banjar/Desa Sebudi, Kecamatan Selat ini.

Stibanya kembali dari mulamg pakelem di kawah puncak Gunung Agung pukul 14.00 Wita, Jro Mangku Nyoman Reta dan rombongan langsung menuju Pura Pasar Agung untuk menggelar upacara guru piduka. Prosesi upacara guru piduka di Pura Pasar Agung kemarin dipuput Jro Mangku Gede Umbara, pamangki dari Desa Sebudi, Kecamatan Selat.

Sementara itu, persembahyangan di Pura Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Re-ndang, Karangasem tetap berlangsung, meskipun areal pura ini masuk Kawasan Rawanm Bencana (KRB) Gunung Agung. "Persembahyangan rutin tetap dilaksa-nakan, namun hanya dilakukan satu-dua pamangku secara bergiliran," ungkap Bendesa Pakraman Besakih, Jro Mangku Widiartha, dilansir Antara di Penataran Agung Besakih, Senin kemarin.

Jro Mangku Widiartha menyebutkan, persembahyangan rutin di Pura Besakih hanya melibatkan kalangan internal pamangku. Pihaknya sangat menghormati imbauan PHDI Bali kepada umat Hindu agar menunda pelaksanaan upacara ritual nyegara gunung ke Pura Besakih, terkait status awas Gunung Agung. Namun demikian, Pura Besakih sebagai tempat suci harus tetap melaksanakan prosesi ritual keagamaan rutin. 

Jro Mangku Widiartha sendiri yakin Gunung Agung tidak akan meletus, karena berbagai pertimbangan spiritual yang ada. "Kami yakin Gunung Agung bukan belum meletus, tapi tidak akan meletus, dan ritual keagamaan akan tetap dijalankan," katanya. 

(NusaBali)

Related

Seputar Bali 3585513779714260642

Post a Comment

item