Perubahan Nama Jalan di AS Bikin Rusia Marah, Ada Apa?

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali -  Rusia dibuat meradang setelah baru-baru ini pemerintah kota Washington DC mengganti nama jalan yang berada di depan gedung kedutaan besarnya di Amerika Serikat.

Nama jalan yang baru mengambil nama salah satu mendiang tokoh oposisi negara yang pernah berjuluk negeri tirai besi tersebut.

Seperti dilansir dari laman BBC, dewan kota setempat memilih menamai ulang jalan tersebut dengan nama Boris Nemtsov, seorang tokoh oposisi Rusia yang tewas tertembak di luar Kremlin pada 2015 lalu.

Secara khusus, penamaan ulang jalan terkait merujuk pada sebagian ruas jalan protokol Wisconsin Avenue yang melintas di depan Kedubes Rusia. Pernyataan resmi dari dewan kota menyebut keputusan itu sudah bulat sebagai bentuk penghargaan terhadap 'keberanian pejuang demokrasi'.

Keputusan tersebut sontak memicu kritik keras dari para politisi Rusia, termasuk salah satu anggota parlemennya menyebut hal itu sebagai 'trik kotor'.

Kantor berita resmi Rusia, Interfax, mengutip pernyataan pemimpin Partai Demokratik Liberal Rusia, Vladimir Zhirinovsky, menuding pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan sengaja melakukan trik-trik kotor di depan Kedubes Rusia.

Politisi lain dari Partai Komunis, Dmitry Novikov, mengatakan pada kantor berita yang sama, "Pemerintah AS telah lama tenggelam dalam permainannya sendiri yang mengganggu urusan dalam negeri Rusia."
Mendiang Nemtsov sendiri merupakan seorang pengkritik keras Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia ditembak pada Februari 2015 ketika berjalan pulang dari sebuah restoran di Moskow.

Tokoh Rusia yang Berpikiran Terbuka

Penyematan nama Nemtsov sebagai nama jalan di Washington DC bukan tercetus begitu saja. Sang putri, Zhana, bercerita bahwa pemerintah Rusia terus berupaya menghilangkan jejak mendiang sang ayah dari memori publik.

Bahkan, sebuah altar peringatan kecil yang diletakkan di dekat lokasi penembakan, kerap diganti berkali-kali karena sering diserang vandalisme dan dibongkar sepihak oleh petugas kebersihan kota.
Zhana sendiri sempat terbang ke Washingtong DC untuk meneruskan proses advokasi untuk mengubah nama jalan terkait. Ia menyebut sang ayah sebagai 'pahlawan Rusia yang berpikiran terbuka' dan namanya pantas untuk diabadikan.

"Untuk saat ini, kami tidak dapat mengabadikannya di Rusia karena ancaman perlawanan keras yang sangat mungkin terjadi. Tapi, kami memiliki kesempatan baik di sini," jelas Zhara.
Pada pertengahan 2017, lima orang keturunan Chechnya terbukti bersalah atas penembakan terhadap Boris Nemtsov. Namun, keluarga dan para simpatisannya meyakini bahwa otak di balik pembunuhan tersebut masih bebas berkeliaran hingga kini.

Keputusan Washington DC itu diambil sehari setelah pemerinyah Turki melakukan hal serupa, mengubah nama jalan di depan Kedubes Uni Emirat Arab di ibu kota Ankara dengan merujuk nama seorang komandan militer yang tengah terlibat perselisihan diplomatik di antara kedua negara.

(Liputan6)

Related

Dunia 226948185331369407

Post a Comment

item