Gelombang Aksi Pelajar di Seluruh AS Tuntut Pengetatan Aturan Senjata

Murid sekolah dari Montgomery County melakukan aksi solidaritas mengenang korban penembakan di Florida. Aksi tersebut berlangsung di Gedung Capitol di Washington DC, Rabu (21/2/2018). (AP Photo/ J Scott Applewhite)

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Gelombang demonstrasi pelajar di seluruh AS, dari Arizona sampai Maine menuntut pengetatan aturansenjata dan untuk menghormati korban penembakan massal di SMA diFlorida pada pekan lalu.
Para pelajar keluar dari kelas mereka dan turun ke jalan pada Rabu (21/2/2018).
Mereka menyerukan agar pembatasan penjualan senapan AR-15 dan senjata serupa lainnya, mengingat pelaku penembakan di SMA di Florida, Nikolas Cruz (19), dapat membeli senjata tersebut.
Ratusan murid dari sekolah-sekolah di Maryland meninggalkan kelas untuk berkumpul di Gedung Capitol, Washington DC. Ratusan lainnya keluar dari sekolah di kota-kota dari Chicago ke Pittsburgh, kemudian ke AUstin, Texas, pada jam makan siang.
Di Washington DC, aksi demonstrasi dihiasi dengan momen khusus untuk mengenang 17 orang yang terbunuh di SMA Marjory Stoneman Douglas, Parkland, Florida.
Daniel Gelillo, pelajar dari SMA Richard Montgomery di Maryland, mengatakan, para murid yang berunjuk rasa meminta anggota parlemen untuk bertindak lebih jauh dalam pengendalian senjata.
Penembakan di Orlando, Las Vegas, dan sekarang Parkland. Orang-orang tidak bersalah tewas karena mudahnya akses kepemilikan senjata api di negara ini," katanya.
Sekitar 200 murid dari SMA Dublin Scioto di Ohio juga melakukan aksi untuk mengenang korban penembakan massal di sekolah. Mereka duduk di luar dan berdiam selama 17 menit.
"Tidak ada anak yang pergi ke sekolah dan mengkhawatirkan hidup mereka," kata Daviyana Warren," kata seorang murid, Daviyana Warren (15).
Sementara itu, beberapa kelompok telah mengorganisir untuk aksi demonstrasi nasional yang akan digelar dalam beberapa pekan ke depan.
Beberapa kepala sekolah mengizinkan muridnya untuk melakukan demonstrasi dan berjanji untuk tidak menghukum mereka karena telah meninggalkan kelas.
Namun, beberapa sekolah mengancam akan memberikan skors kepada muridnya yang bergabung dalam gelombang unjuk rasa.
Curtis Rhodes, kepala sekolah salah satu sekolah di Texas mengatakan, akan memberikan skors tiga hari bagi murid yang meninggalkan kelas, bahkan dengan izin dari orangtua mereka.
"Kami akan menskors murid, tidak peduli apakah itu satu murid, 50 atau 500 murid," katanya.
Aksi demonstrasi juga akan digelar pada 14 Maret 2018, tepat satu bulan setelah penembakan di Florida, dan pada 20 April 2018, untuk mengenang pembantaian di SMA Columbine di Colorado.









sumber : kompas.com

Related

Dunia 7518518387163599172

Post a Comment

item