Maret-April, 962.810 Anak di Bali Dapat Imunisasi JE

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali melakukan sejumlah persiapan untuk menyukseskan program yang dirancang Kementerian Kesehatan RI dimana Bali menjadi pilot project dari program imunisasi JE.

“Jumlah vaksin yang sudah disiapkan sebanyak 1.200.000 dosis. Sedangkan jumlah anak yang akan divaksin sebanyak 962.810 orang, dengan menyasar mulai bayi umur 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun,” ujar Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr I Gusti Ayu Raka Susanti saat dikonfirmasi Selasa (13/2).

Bali menjadi pilot project pemberian vaksin JE karena setiap tahun selalu ada kasus JE di Pulau Dewata. Berdasarkan data tahun 2016, terdapat 246 kasus suspect JE, dan 17 diantaranya positif. Sementara tahun 2017 kasus suspect JE sebanyak 181 kasus, 4 diantaranya positif. 

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya, cukup tingginya kasus tersebut tidak selalu berarti buruk. Bisa jadi provinsi Bali selalu mencatat dan melaporkan setiap kejadian, sehingga kasus benar-benar terdata. “Belum tentu jelek kalau kasusnya tinggi. Mungkin saja karena dinasnya rajin melapor dan mencatat bila ada kasus. Kalau di Bali ada kasus dikejar, bahkan mulai dia sakit kita sudah cari, sehingga kita terlihat tinggi. Tapi yang terpenting kan bagaimana kita mencegahnya,” ungkap dr Suarjaya.

Terkait persiapan imunisasi JE bulan depan, dr Suarjaya mengaku Dinkes telah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya persiapan SDM, dimana pada 18 November 2017 Diskes Bali telah melaksanakan workshop Petugas imunisasi dalam rangka introduksi imunisasi Japanese Encephalitis (JE). Selain petugas imunisasi, pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat. “Sosialisasi informasi sudah dilakukan kepada masyarakat dan juga lintas sektor terkait mulai tahun 2017. Dan tahun ini sudah lebih banyak lagi. Kesiapan di lapangan, mulai dari persediaan vaksin, sarana prasarana, dan SDM semua sudah siap. Karena imunisasi bukanlah sesuatu yang baru, kita sudah biasa melakukan imunisasi,” imbuhnya.

Kampanye Imunisasi JE dijadwalkan pada Maret-April 2018 dengan dibagi menjadi 2 tahap pelaksanaan. Pada bulan Maret dilaksanakan di sekolah-sekolah seperti PAUD, TK, SD, dan SMP Se- Provinsi Bali, sedangkan bulan April di Posyandu, Pustu, Puskesmas, Rumah Sakit dan Pos Pelayanan Imunisasi JE. “Kami sempat mengundang Disdik untuk sosialisasi, serta untuk mendapatkan data valid siswa yang usianya kurang dari 15 tahun,” terang dr Suarjaya.

Meski capaian cakupan imunisasi di Bali hingga saat ini sudah di atas 95 persen, pihaknya berharap tetap bisa memenuhi target 100 persen untuk cakupan imunisasi JE kali ini. Namun tidak bisa dipungkiri, ada beberapa faktor yang mempengaruhi meski jumlahnya sangat kecil. “Terkadang memang ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi, misalnya saat imunisasi anak sakit, atau sasaran imunisasi (anak) tidak ketemu, atau bisa juga pindah rumah, sehingga tidak bisa meningkat jadi 100 persen,” bebernya.

Kendati demikian, dari sisi teori, kata dr Suarjaya, kalau cakupan imunisasi sudah bisa mencapai 95 persen, itu berarti sudah dapat melindungi keseluruhan. Artinya orang yang tidak imunisasi itu akan mendapatkan perlindungan dari yang imunisasi jika cakupannya sudah bisa sebesar itu.

“Itu namanya herd imunination. Artinya kalau seorang yang tidak terimunisasi, ada dalam lingkungan orang yang kebal, maka dia akan ikut kekebalan pasif. Namun demikian, kami tetap melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat agar semua anak bisa diimunisasi,” katanya.

Dikatakan dr Suarjaya, pencegahan penyakit JE tidak cukup dengan vaksinasi, karena itu hanya cukup untuk kekebalan individu. Untuk kekebalan menyeluruh pihaknya mengajak masyarakat melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air, serta memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Sebab, penyakit JE ini penularannya dari hewan ke manusia melalui gigitan nyamuk, yaitu nyamuk culex.

Dijelaskan, Japanese Encephalitis adalah suatu penyakit yang dapat menyebabkan peradangan otak pada hewan dan manusia. JE merupakan penyebab utama infeksi virus neurologis dan cacat pada anak-anak. Pada hewan virus ini biasanya menyerang babi dan burung liar. Penyakit ini disebut arbovirus karena penularannya dari hewan ke manusia melalui gigitan nyamuk, yaitu nyamuk culex.

Gejala yang ditunjukkan dari orang yang terjangkit penyakit ini biasanya berupa gejala yang non-spesifik yaitu sakit kepala, mual, muntah, demam. “Gejalanya mirip DBD, tapi JE ada gejala kejang-kejangnya,” jelas dr Suarjaya.

Karena penyakit ini menginfeksi jaringan yang menutup otak dan sumsum tulang belakang, biasanya penderita juga mengalami kesulitan untuk menggerakkan lehernya. Kemudian dalam dua atau tiga hari, penderita mulai mengalami efek pembengkakan pada otak. Efek ini dapat berupa gangguan dengan keseimbangan dan koordinasi, kelumpuhan pada beberapa kelompok otot, tremor, kejang, dan gangguan dalam kesadaran.

“Angka kematiannya cukup tinggi, sampai 35 persen. Artinya dari 10 penderita, yang meninggal bisa 3 atau 4 orang. Dan bila sembuh bisa menimbulkan gejala sisa, sebab enchaphilitis itu kan radang pada otak. Jika sembuh akan menyisakan gejala sisa. Bisa ayan, bisa juga IQ nya jelek, karena otaknya yang terinfeksi oleh virus,” tandasnya.






sumber : nusabali.com

Related

Seputar Bali 7807944855486098502

Post a Comment

item