Putin Sebut Kasus Racun di Inggris Tak Masuk Akal

Putin Sebut Kasus Racun di Inggris Tak Masuk Akal

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Presiden Rusia Vladimir Putin membantah klaim bahwa Rusia terlibat dalam kasus peracunan mantan agen intelijen Sergei Skripal di Salisbury, Inggris. Putin menyebut tuduhan itu tidak masuk akal.

Putin yang kembali terpilih sebagai Presiden Rusia dalam pemilihan, Minggu (18/3) menyatakan Skripal dan putrinya Yulia bakal mati seketika jika diserang dengan zat syaraf.

Dia juga menyatakan bahwa jika serangan itu benar, maka lebih banyak lagi orang yang terkena dampak dari racun tersebut.


"Hal pertama yang terlintas di benak saya adalah bahwa jika itu benar zat yang digunakan untuk berperang, orang akan mati seketika. Itu jelas faktanya," kata Putin seperti dilansir The Independent, Senin (19/3).

"Rusia tidak punya zat semacam itu. Kami telah memusnahkan semua senjata kimia di bawah pengawasan internasional," kata dia sambil menambahkan kesediaannya untuk bekerja sama dengan pemerintah Inggris untuk menyelidiki kasus peracunan itu.

Pernyataan Putin terlontar setelah Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson menuduh Rusia melanggar aturan internasional dengan menyimpan cadangan zat syaraf Novichok selama satu dekade.

Boris mengklaim dia memiliki informasi yan menunjukkan bahwa Moskow tak hanya terus mengumpulkan senjata kimia, tapi juga mengeksplorasi penggunaannya untuk pembunuhan selama 10 tahun terakhir.
Putin mengamankan masa jabatan keempat tahunnya selama enam tahun mendatang di tengah tuduhan kecurangan pemilihan.

Para pengawas dari Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) akan tiba di Inggris, Senin (19/3) untuk menguji sampel bahan kimia yang digunakan dalam serangan di Salisbury, pekan lalu. Namun hasil dari pemeriksaan OPCW paling cepat baru akan diumumkan dua pekan mendatang. 

Tim dari Den Haag itu akan menggunakan laboratorium internasional untuk menguji zat syaraf tersebut.

Johnson akan terbang ke Brussels, Belgia untuk menjelaskan kepada para menteri luar negeri Uni Eropa soal kasus racun itu, sebelum bertemu dengan Sekjen NATO Jens Stoltenberg.
Duta Besar Rusia untuk Uni Eropa Vladimir Chizhov menyebut zat syaraf tersebut kemungkinan berasal dari laboratorium Porton Down, sekitar delapan mil dari Salisbury, lokasi dimana Skripal dan putrinya Yulia ditemukan pingsan pekan lalu.

Swedia dan Ceko membantah tuduhan Rusia bahwa zat syaraf tersebut kemungkinan berasal dari mereka.

Seperti dilansir The Independent, Dewan Keamanan Nasional Inggris akan membahas soal balasan Moskow atas pengusiran 23 diplomatnya dari London.


















sumber : CNNIndonesia.com

Related

Dunia 6277240602690295969

Post a Comment

item