Waspada, Makan Cabai Terpedas di Dunia Ternyata Bisa Melukai Otak Manusia

Carolina Reaper, cabai terpedas di dunia, yang berisiko memicu kerusakan pada otak manusia (Sandra Allison/AP Photos)

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali     Para dokter di Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan keras terhadap batasan konsumsi cabai terpedas di dunia, Carolina Reaper.
Peringatan itu dikeluarkan lantaran muncul kasus sakit kepala luar biasa -- kerap disebut "thunderclap" -- yang diderita seorang pria usai mengonsumsi Carolina Reaper.
Dikutip dari South China Morning Post, Selasa (10/4/2018), dokter menemukan gejala yang mengerikan pada korban pria berusia 34 itu, yakni nyeri yang terasa kuat di bagian leher dan kepala setelah mengikuti kontes menyantap Carolina Reaper.
Setelah itu, pria tersebut diketahui terus mengalami hal serupa selama beberapa detik -- dalam waktu yang tidak bisa ditebak -- sepanjang setahun terakhir.
Dalam kejadian yang terjadi pada 2016 itu, korban disebut hanya menyantap satu buah cabai Carolina Reaper. Ia langsung mendadak tumbang beberapa saat setelahnya.
Menurut laporan yang dimuat di jurnal medis BMJ Case Reports, setelah mendapat perawatan darurat, korban terpaksa menjalani berbagai tes neurologis, yang semuanya menunjukkan hasil negatif.
Pada akhirnya, dokter mendiagnosis pria itu dengan kondisi kerusakan otak sementara, yang disebut reversible cerebral vasoconstriction syndrome (RCVS).
Gejala ini ditandai dengan penyempitan pembuluh darah ke otak untuk sementara waktu.
Menurut laporan medis, ini merupakan kasus pertama yang dilaporkan seorang pasien, dengan diagnosis RCVS setelah makan cabai.
Sering disertai dengan sakit kepala "thunderclap", kondisi ini biasanya terjadi sebagai reaksi terhadap obat resep tertentu, atau setelah mengonsumsi obat-obatan terlarang.
"Ini adalah kejutan besar bagi semua orang," kata dokter Kulothungan Gunasekaran dari Henry Ford Hospital di Detroit, salah satu penulis artikel yang turut memperingatkan bahaya menyantap cabai api, sebutan lain Carolina Reaper.
Korban pria disebut berangsur-angsur sembuh setelah melakukan tindakan CAT, selama lima minggu berturut-turut, sebelum kemudian ruang arterinya telah kembali ke ukuran normal.



























sumber : liputan6.com

Related

Info Unik 32002647375727501

Post a Comment

item