Studi: Diet Perempuan Bisa Pengaruhi Usia Menopause

Studi: Diet Perempuan Bisa Pengaruhi Usia Menopause

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    "You are what you eat," ungkapan ini ternyata tak sekadar soal kepribadian. 

Namun menurut studi terbaru, makanan yang disantap perempuan ternyata juga berefek pada perkiraan usia mereka mengalami menopause. 

Studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Leeds dan dipublikasikan di Journal of Epidemiology & Community Health.


Mengutip Refinery 29, konsumsi diet tinggi karbohidrat akan menyebabkan munculnya gejala-gejala menopause lebih cepat. Diet tinggi karbohidrat dan konsumsi banyak pasta serta nasi diklaim akan mempercepat menopause sampai 1,5 tahun lebih awal. 
Di Inggris sendiri, rata-rata perempuan mengalami menopause pada usia 51 tahun. 

Sebaliknya, ketika diet dengan menyantap makanan yang mengandung ikan dan kacang-kacangan alias diet tinggi serat, seorang perempuan akan dianggap bisa menunda jadwal normal menopause. 

Dalam studi selama empat tahun yang melibatkan 914 perempuan berusia 40-65 tahun menemukan bahwa diet dengan tinggi asupan legum, kacang, lentil, dan lainnya akan menunda menopause sekitar 1,5 tahun. 

Peneliti pun melihat adanya beberapa faktor yang berkontribusi dalam hal ini. Beberapa di antaranya adalah bobot tubuh, 'sejarah' alat reproduksi seseorang, dan penggunaan hormone replacement therapy (HRT). Mereka belum bisa menemukan adanya hubungan faktor genetik dalam hal ini. 

Hanya saja berdasarkan temuan ini, mereka mengungkapkan bahwa perempuan tak perlu mengganti diet mereka hanya karena penelitian tersebut. 

Sayangnya, peneliti juga belum bisa membuktikan penyebab dan hubungan antara diet dengan usia menopause. Hanya saja mereka mengklaim memiliki berbagai penjelasan terkait hal tersebut. 
Aneka jenis legum dan kacang-kacangan mengandung antioksidan. Antioksidan ini dihubungkan dengan masa menstruasi yang lebih normal dan lama. Sementara itu asam lemak omega 3 yang banyak terdapat di minyak ikan, bisa meningkatkan jumlah antioksidan. 

Berbeda dengan kacang dan legum, konsumsi karbohidrat olahan yang tinggi akan meningkatkan risiko resistansi insulin. Hal ini akan mengacaukan hormon seks dan meningkatkan level oestrogen yang memicu ovulasi. Hal ini akan berimbas pada siklus menstruasi seseorang dan dianggap mempercepat 'habisnya' produksi sel telur.
































sumber :CNNIndoneesia.com

Related

Gaya Hidup 25520783075192814

Post a Comment

item