Selain Pemerintah, Masyarakat Juga Bisa Redam Rupiah Rontok

Selain Pemerintah, Masyarakat Juga Bisa Redam Rupiah Rontok

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Kata 'Rupiah' semakin sering terdengar di telinga masyarakat beberapa waktu terakhir ini. Hal itu tak lepas dari fluktuasi sekaligus pelemahan nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berlangsung drastis dan menimbulkan kepanikan di semua kalangan.

Berdasarkan data Reuters pada Rabu (5/9) sore, rupiah terkapar hingga level Rp14.930 per dolar Amerika Serikat (AS), padahal awal tahun ini masih berada di posisi Rp13.368 per dolar AS. 

Ketidakpastian membuat masyarakat penasaran dengan apa yang akan terjadi pada ekonomi nasional ke depan. Sebagian besar berpikir untuk mengambil keuntungan dari fluktuasi nilai tukar yang terjadi, sebagian lain bisa jadi ingin menyelamatkan investasi yang dimilikinya. 
Ketimbang resah dengan kondisi yang terjadi tanpa berbuat apapun, mengapa kita tidak menjadi solusi untuk mengatasi persoalan nasional. Bukan tak mungkin, langkah kecil yang dilakukan setiap orang akan menjadi kekuatan massal yang mampu meredam pelemahan rupiah dan memulihkan kembali kondisi ekonomi Indonesia.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih mengungkapkan salah satu masalah utama perekonomian Indonesia saat ini adalah aktivitas impor yang tinggi. Tak hanya impor bahan baku dan barang modal, tetapi juga impor energi, dan impor konsumsi.

Peningkatan aktivitas impor yang tinggi, dibarengi ekspor yang stagnan menyebabkan neraca perdagangan mengalami defisit, dan mempengaruhi neraca transaksi berjalan. Ujung-ujungnya nilai tukar rupiah melemah.
Mengamati fenomena tersebut, masyarakat bisa membantu mengurangi aktivitas impor energi dengan cara menahan diri menggunakan kendaraan pribadi, dan menggunakan transportasi publik. Hal itu akan sangat efektif untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), sekaligus mengurangi impor minyak mentah. 

"Pakai kereta, bis, atau angkutan umum trans-perkotaan. Ke depan nanti ada MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit). Kalau bisa menjadi hastag 'transportasi berjamaah'," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (5/9). 

Tak hanya itu, masyarakat juga bisa berupaya mengurangi penggunaan produk konsumsi impor, seperti bahan makanan impor, buah impor, dan sandang impor seperti pakaian, sepatu, tas, dan lainnya. 
Masyarakat juga sebaiknya tak membeli barang-barang keperluan rumah tangga impor, dan beralih membeli barang buatan lokal.

Hal yang sering dilakukan kalangan menengah, terutama masyarakat milenial adalah mengganti ponsel pintar sesuai tren teknologi terbaru, padahal kebutuhan konsumen sudah terpenuhi. 

"Masyarakat tidak perlu mengganti ponsel hanya karena modelnya sudah lama, kecuali handphone-nya rusak. Secara umum, konsumen diajak betul-betul berhemat dari penggunaan produk impor," ujarnya.

Dari sisi investasi, masyarakat sebaiknya jangan latah membeli valuta asing, terutama dolar AS hanya karena panik atau berpikir untuk memperoleh keuntungan dari fluktuasi nilai tukar yang terjadi. Pasalnya, hal itu bisa memperburuk kurs rupiah
"Lagipula rupiah juga sudah mahal. Aset yang sudah mahal biasa jadi turun," katanya.

Bagi produsen industri manufaktur, Lana menyarankan sebisa mungkin menggunakan bahan baku yang tersedia di dalam negeri.



































sumber : CNNindonesia,com

Related

Berita Ekonomi 8672794171923590949

Post a Comment

item