'Lingkaran Setan' Kesepian Memuncak Usai Lulus Kuliah

'Lingkaran Setan' Kesepian Memuncak Usai Lulus Kuliah

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Konon, usia produktif adalah masa emas bagi setiap orang. Produktivitas akan meningkat saat seseorang baru saja menyelesaikan masa kuliahnya.

Di masa itu, berbagai pengalaman baru bakal datang menghampiri. Akan ada teman-teman baru yang mengelilingi, pesta, dan kegembiraan lainnya pada rentang usia 20-30an.

Kebebasan yang didapat setelah berhasil merampungkan pendidikan tinggi bak impian. Namun, siapa sangka jika di balik gemerlap usia 20-30an itu tersimpan rasa sepi yang diam-diam menyerang?


Sebuah studi yang diterbitkan dalam Developmental Psychology menemukan bahwa kesepian akan terjadi dalam rentang usia 20an (atau tepat setelah seseorang lulus kuliah) hingga usia 30an.
Pada tahun 2017, Jo Cox Loneliness Commission (sebuah kampanye Inggris yang bertujuan untuk memaparkan krisis kesepian) melakukan jajak pendapat terhadap sejumlah pria Inggris. Hasilnya, rata-rata dari mereka merasa kesepian pada usia 35 tahun. Sebanyak 11 persen di antaranya mengatakan bahwa rasa sepi itu muncul setiap hari.

Hal itu agak kontradiktif dengan anggapan masyarakat umum di zaman kiwari. Publik selalu berpikir bahwa rentang usia 20-30an adalah masanya bagi seseorang untuk berkembang. 

"Ada banyak mitos tentang apa makna usia 20an," ujar seorang terapis psikologi asal San Fransisco, Amerika Serikat, Tess Brigham, yang sehari-harinya mengkhususkan diri untuk melayani permasalahan generasi milenial.

"Banyak klien saya berpikir bahwa mereka perlu memiliki karier yang luar biasa, menikah, dan memiliki kehidupan sosial yang hebat sebelum berusia 30 tahun," papar Brigham mengutip Healthline.
Lantas, apakah kesepian berakar dari sebuah kegagalan?

"Media sosial, yang merupakan sorotan utama dari semua orang, membuat banyak anak muda merasa sendirian dan tersesat," kata Brigham.

Usia 20an memang penuh dengan gejolak. Namun, di lain sisi, masa itu juga merupakan waktu bagi seseorang untuk berusaha menentukan siapa mereka dan kehidupan seperti apa yang mereka inginkan.

Di masa ini, anggota dalam kelompok atau lingkaran pertemanan akan berpencar dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Akibatnya, membangun kedekatan dengan teman adalah sesuatu yang rumit.

"Banyak orang dewasa muda tak mampu membangun persahabatan," kata Brigham. Padahal, membangun kelompok pertemanan yang mendukung akan membantu seseorang menepis rasa sepi.
Saat seseorang merasa takut akan kesepian, dia akan terjebak dalam 'lingkaran setan'. Stigma buruk soal rasa sepi bakal membuat seseorang semakin terjatuh dan merasa lebih kesepian.

Carla Manly, seorang psikolog klinis asal California, Amerika Serikat, menyoroti ihwal siklus ini. Kesepian, kata dia, membuat seseorang merasa malu. Banyak anak muda yang tak mau mengaku kesepian.

"Siklus ini terus berlanjut dan kerap berujung pada depresi atau isolasi yang kuat," kata Manly. "Jika kita terus berpikir tentang apa yang kita inginkan dalam hidup, hal itu hanya akan semakin membuat kita kecewa"

Kunci untuk mengatasi kesepian sesungguhnya sederhana dan tak sulit. Manly menyebut, seseorang hanya perlu melakukan sesuatu yang disukainya untuk menangkis rasa sepi. Hal itu akan membuat seseorang merasa lebih 'hidup' dibanding sebelumnya.






























sumber :CNNIndonesia.com

Related

Gaya Hidup 228218851185534878

Post a Comment

item