Jaga Kesucian Keris Pusaka di Hari Tumpek Landep

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Tiada hari tanpa alunan instrumen musik tradisional (gamelan) melengkapi kegiatan ritual yang digelar oleh masyarakat Pulau Dewata maupun mengiringi gerak tari.

Kegiatan ritual, alunan musik, dan gerak tari serta ritme kehidupan yang kaya nuansa ritual serta cita rasa keindahan.

Aktivitas rutinitas kehidupan orang Bali itu mampu memberikan getaran sekaligus kesejukan kepada setiap masyarakat, termasuk wisatawan dalam menikmati liburan ke Pulau Dewata.

Umat Hindu Dharma di Bali kini memperingati hari Tumpek Landep, persembahan suci yang khusus ditujukan untuk keris pusaka dan semua jenis benda yang terbuat dari besi, tembaga, perak, dan lainnya pada hari Sabtu (24/8) Hari Tumpek Landep, kegiatan ritual menggunakan kelengkapan sarana banten, rangkaian janur kombinasi bunga dan buah-buahan dipersembahkan untuk keris pusaka dan berbagai jenis alat produksi dan aset dari bahan besi, tembaga, dan emas, tutur dosen Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar Dr. I Ketut Sumadi, M.Par.

Ritual Tumpek Landep yang diperingati setiap 210 hari sekali bermakna untuk memohon keselamatan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata.

Kegiatan ritual Tumpek Landep sekaligus “pujawali” Betara Siwa yang berfungsi melebur dan “memralina” (memusnahkan) untuk kembali keasalnya.

Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu, teknologi canggih harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif sesuai dengan konsep hidup orang Bali, yaitu “Tri Hita Karana”, hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk itu, seluruh peralatan yang digunakan umat manusia dalam mengolah isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau perak harus tetap terjaga kesucianya.

Dengan demikian, selamanya akan dapat digunakan dengan baik, tanpa merusak alam lingkungan, termasuk perajin pande besi tidak membuat produksi yang bisa membahayakan kehidupan umat manusia.

Keris selain menjadi koleksi museum, masing-masing rumah tangga di Bali juga memiliki koleksi keris yang umumnya digunakan untuk kelengkapan ritual.

Keris memiliki pamor, yakni guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam itu mirip dengan keris adalah badik, pada masa lalu berfungsi untuk berperang, sekaligus benda pelengkap upacara. Namun, belakangan penggunaan keris lebih menekankan pada benda aksesori dalam “payas agung” busana Bali.

Keris-keris itu pada tumpek landep dibuatkan ritual bersama benda lainnya, seperti kendaraan, sepeda motor, maupun pesawat televisi.

Perlakuan Istimewa Guru besar Institut seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof.Dr. I Wayan Dibia menilai keris sebagai salah satu warisan budaya Nusantara diperlakukan secara istimewa dalam aktivitas keseharian masyarakat Bali.

Keris selain dalam aktivitas seni juga untuk kelengkapan ritual dan adat. Keris di kalangan masyarakat Bali secara perorangan maupun kolektif hingga sekarang dijadikan benda pusaka yang suci dan sakral karena diyakini memiliki suatu kekuatan yang khusus.

Di Bali masih banyak terdapat keris yang “metaksu”, yakni memiliki kekuatan spiritual yang diwarisi sejak dahulu dengan cara membuat dan mendatangkan jenis benda itu dari berbagai daerah di Indonesia.

Profesor Dibia, seniman serba bisa yang menggunakan keris sebagai salah satu unsur seni dan kelengkapan dalam pagelaran kesenian Bali itu, untuk memahami keberadaan keris pusaka itu diperlukan eksplorasi terhadap konsep serta makna taksu pada keris pusaka dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat.

Taksu keris pusaka itu perlu eksplorasi untuk memaklumi akumulasi dan interaksi dari kekuatan-kekuatan internal dan eksternal yang masuk atau dimasukkan selama pembuatan keris hingga akhirnya menjadi benda pusaka.

Dengan keyakinan yang kuat terhadap kekuatan taksu yang ada dalam keris sehingga dapat digunakan yang umumnya untuk tujuan positif meskipun tidak tertutup kemungkinan ada yang menggunakan untuk kepentingan negatif.

Keris metaksu adalah benda pusaka bertuah yang multifungsi yang mengandung nilai-nilai budaya Bali. Karakteristik keris Bali, bagian dan pembuatan serta keberadaannya dalam kehidupan masyarakat Bali, termasuk menjadikan kelengkapan dalam pementasan kesenian, musik, tari, dan teater.

Keris pusaka yang memiliki taksu dengan karakter yang berbeda-beda dengan karisma dalam seni pertunjukkan sehingga perlu pemahaman serta apresasi dan perhatian masyarakat terhadap keris pusaka.

Demikian pula mampu membangkitkan kesadaran masyarakat untuk melindungi dan menjaga keberadaan keris-kerus metaksu di Bali.

Pemerintah Kota Denpasar dalam memperingati Hari Tumpek Landep menggelar berbagai kegiatan, antara lain pameran keris, kirab keris, sarasehan keris, serta pameran perajin keris.

Kegiatan yang digelar di Museum Bali berlangsung selama tiga hari, 20–22 Agustus 2013, sekaligus peluncuran buku berjudul “Jelajah Keris Bali Pusaka Budaya Nusantara” oleh Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra.

Dikutip dari : Metrobali.com

Related

Budaya 8473495389851606061

Post a Comment

emo-but-icon

item