Umat Hindu Perlu Menggelar Tawur


www.nusabali.com-umat-hindu-perlu-menggelar-tawur

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Belakangan ini terjadi bencana alam di sejumlah tempat di Bali hingga memakan korban. Bencana ini pun diyakini membawa pesan-pesan mistis hingga masyarakat penting membenahi alam baik secara sekala dan niskala. 

“Bali belum pernah mengalami bencana longsor dengan korban sebanyak sekarang,” kata Ida Pedanda Gde Ketut Keniten saat ditemui di Griya Jumpung Anyar, Desa Dawan Kelod, Kecamatan Dawan, Klungkung, Selasa (14/2). Sebagaimana diketahui, korban meninggal akibat bencana longsor di Kintamani, Bangli mencapai 13 orang dan di Buleleng 3 orang. Bencana alam karena hujan lebat terus-menerus juga merata di Bali hingga menimbulkan korban material tak kecil. 

Terlebih lagi ada gempa pada Minggu (12/2), pada Sasih Kawulu. Kata Ida Pedanda Keniten, sesuai palelindon atau pencatatan linuh (gempa) sesuai sasih, linuh Sasih Kawulu merupakan pertanda negeri tidak aman, rakyat berduka cita dan banyak terjadi pertengkaran. “Secara sekala, manusia supaya kembali intropeksi diri, dengan berhenti merusak alam, tidak mengeploitasi alam dan lainnya,” terangnya.

Secara niskala, lanjut Ida Pedanda, umat Hindu khususnya diingatkan selalu tanggap bahwa terjadinya bencana alam ini tidak terlepas dari ‘tangan’ Tuhan. Ida Pedanda memahami, kesadaran umat melaksanakan yadnya (upacara keagamaan) sudah semakin meningkat. Namun perlu diingat yadnya yang lebih besar berkaitan dengan buana agung seperti Tawur, Sad Kertih yakni enam jenis upacara untuk menjaga keharmonisan alam. Salah satu upakara yang bisa dilaksanakan pasca bencana ini adalah tawur. Upacara tawur tepat dilaksanakan pada Sasih Kesanga, Maret 2017. ‘’Fungsi tawur sendiri selain nyomia bhuta yang menyebabkan bencana, juga untuk menyeimbangkan, menyelaraskan, mengharmoniskan bhuwana agung dan bhuwana alit,’’ ujarnya.
(nusabali)

Related

Warta Semarapura 8074411621276768171

Post a Comment

emo-but-icon

item