Jaksa Beber Pelaku Penembakan Polisi Paris

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali -  Kamis 20 April 2017 malam terjadi penembakan di Paris. Seorang polisi tewas ditembak dan dua lainnya terluka di Champs-Elysees, Paris, sementara penyerang berhasil dilumpuhkan petugas.
Jaksa setempat menyebutkan bahwa pria pelaku penembakan polisi Paris itu diidentifikasi sebagai seorang mantan narapidana bernama Karim Cheurfi.

"Dia menggunakan senapan serbu Kalashnikov untuk membunuh petugas polisi tersebut, dengan dua peluru ke kepala," ujar Jaksa Paris, Francois Molins di ibu kota Prancis seperti dikutip dari BBC, Sabtu (22/4/2017).
Sebuah catatan yang membela kelompok teroris ISIS ditemukan di dekat jasadnya.
"Cheurfi terlibat dalam empat kasus kriminal," kata jaksa penuntut.
"Pembunuh tersebut telah berbicara tentang keinginan untuk membunuh petugas polisi, namun ia tak memiliki kaitan nyata dengan radikalisme," jelas Molins.

Kandidat dalam pemilihan presiden hari Minggu kemudian dituduh mengeksploitasi penembakan polisi Paris secara politis. Saat serangan pada Jumat, merupakan hari terakhir kampanye.

Latar Belakang Penembak Polisi Paris
Jaksa Molins menuturkan, bahwa sejumlah benda diamankan saat penggeledahan rumah Cheurfi.
"Cheurfi ditangkap dan rumahnya pernah digeledah pada Februari dalam penyelidikan atas laporan pengakuannya untuk membunuh polisi dan mendapatkan senjata," beber Molins.
Pisau berburu, masker dan kamera GoPro ditemukan di rumahnya. Tapi benda-benda tersebut tak dianggap sebagai bukti kuat yang mendukung niat membunuhnya.
"Pada tahap itu, tidak ada hubungan dengan gerakan radikal. Tidak ada yang bisa digunakan untuk menentukan keterlibatannya dengan hal itu untuk diselidiki lebih lanjut oleh pengadilan," jelas jaksa Paris tersebut.

Cheurfi lahir pada Malam Tahun Baru tahun 1977 di pinggiran Livry-Gargan di timur laut Paris. Ia dipenjara empat kali karena percobaan pembunuhan, kekerasan dan pencurian.
Pada bulan April 2001, saat mengemudikan mobil curian, dia menembaki dan melukai dua orang yang telah mengejarnya. Salah satunya adalah petugas polisi berpakaian preman.
Dia terakhir di penjara pada Oktober 2015 dan tinggal di pinggiran timur Chelles.
Pengacaranya menggambarkan bahwa Cheurfi merupakan sosok rapuh secara psikologis. Tetangga di Chelles mengatakan bahwa dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada agama.
Tiga anggota keluarga Cheurfi kemudian diamankan untuk diinterogasi lebih lanjut.

(Liputan6)

Related

Dunia 3394818196442766084

Post a Comment

item