Nahas, Mata Novel Luka Serius Disiram Air Keras, Diintai Orang Misterius Sejak 2 Minggu


Nahas, Mata Novel Luka Serius Disiram Air Keras, Diintai Orang Misterius Sejak 2 Minggu

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Di tengah persidangan dan penyidikan kasus megakorupsi proyek KTP elektronik (e-KTP), ketua satgas penyidikan kasus tersebut, Novel Baswedan, mendapat serangan teror berupa siraman air keras, di dekat tempat tinggalnya, kawasan Jl Deposito T,  RT 03, RW 10, Kelurahan Pesanggrahan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, sekira pukul 05.10 WIB, Selasa (11/4/2017).  
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut menderita luka serius di kedua matanya.
Selain itu, Novel juga menderita luka benjol di dahi karena membentur pohon nangka di dekat rumahnya, ketika berusaha kembali ke Masjid Al Ihsan untuk mencuci wajah dan kepala menggunakan air.
Kontan peristiwa membuat kegemparan hingga Istana Presiden.
Setelah mengalami serangan, Novel bahkan sempat menelepon Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.
Kapolri kemudian membentuk tim khusus terdiri dari petugas Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri.
Novel mengungkapkan dua minggu sebelum jadi korban teror, dirinya merasa dibuntuti orang tak dikenal.
Informasi itu disampaikan Abdur Rahim Hasan, Imam Masjid Al Ihsan, yang berlokasi tak jauh dari rumah Novel.
Sebelum diserang, Novel menjalankan Salat Subuh berjamaah di masjid tersebut.
"Pak Novel pernah cerita ke saya beberapa hari lalu. Ia bilang sudah dua minggu ini merasa dibuntuti. Namun Pak Novel tidak cerita kepada orang lain karena takut dikira paranoid," ungkap Hasan di Masjid Al Ihsan.
Cerita serupa disampaikan Novel kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, seusai menjenguk korban di Rumah Jakarta Eye Centre (JEC), Menteng, Jakarta, kemarin.
"Ada gejala‑gejala mencurigakan. Ada orang yang sering datang ke lingkungan dia," ujar Mahfud.
Novel bahkan mencegat dan memotret orang yang kerap membuntuti dirinya.
Meski tidak dapat dipastikan orang tersebut adalah pelaku atau terkait penyerangan, foto tersebut dapat dijadikan bukti awal penyelidikan.
Siap Hadapi Teror
Begitu pula cerita disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.
Kepada Dahnil, Novel mengungkapkan ada pihak yang belakangan ini mengintai rumahnya.
"Saya beberapa Minggu lalu berbincang dengan Novel. Waktu itu ia mengaku sudah ada yang mengikuti dirinya dan mengawasi rumahnya," ujar Dahnil di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta.
Novel juga mengungkapkan tetangga rumahnya sudah memotret orang tak dikenal itu.
"Novel sudah dapat foto orang-orang yang mengawasi rumahnya secara rutin. Setiap hari ada orang yang tidak dikenal mengawasi rumah Novel," ujar Dahnil.
Ditambahkan, tak hanya kali ini Novel jadi sasaran teror.
Satu di antaranya Novel pernah ditabrak orang tak dikenal menggunakan mobil.
Saat itu, Novel tengah mengendarai kendaraan roda dua.
Saudara sepupu Novel, Anies Baswedan, menyebut keluarga korban sejak lama siap menghadapi berbagai teror terhadap mantan anggota Polri itu. "Keluarga tidak gentar. Kami siap menghadapi ini semua. Ini bukan barang baru," kata Anies seusai menjenguk Novel di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading.
Meskipun kecewa dan marah, keluarga korban tetap tegar menghadapi perisitwa itu.
"Saya bilang pada Ibu (ibu kandung Novel), Ibu sudah mendidik anak sehingga menjadi garda terdepan perang melawan korupsi. Jadi Ibu jangan sedih, kita terus bangga," kata Anies.
Anies mengaku sering berkomunikasi dengan Novel.
Namun Novel tidak pernah cerita apapun mengenai kasus yang ditanganinya.
"Saya juga tidak pernah bertanya mengenai kasus," katanya.
Menurutnya, Novel sangat menjaga etika sehingga urusan kerja dan penanganan perkara di KPK tidak pernah diceritakan kepada keluarga.
Oleh karena itu Anies mengaku tidak tahu terkait perkara apa Novel disiram air keras.
"Ini (teror) bukan yang pertama kali. Ini sudah yang kelima kali," jelas mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini.
Mengenai jenis teror yang pernah dialami Novel, sang sepupu, Anies Baswedan mengungkapkan rinciannya.
"Pertama kali, motor mau ditabrak. Kedua, diproses hukum ketika menangani kasus korupsi di Korlantas. Ketiga, dijaring sebagai tersangka," katanya.
Sedangkan teror keempat yaitu mobil Novel ditabrak seseorang.
Dengan demikian penyerangan menggunakan air keras yang terjadi Selasa (11/4/2017) pagi merupakan teror kelima.
Pernah Dikawal Marinir
Sejumlah pejabat Polri, mulai dari Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian hingga Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, datang menjenguk Novel yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga dan kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Jakarta Eye Centre, Jakarta, Selasa (11/4/2017).
Kapolda Metro Jaya mengungkapkan keheranannya mengapa Novel yang saat ini tengah menangani kasus besar tidak minta pengamanan dan pengawalan dari Polri.
"Hal itu saya tanyakan. Kan sedang ada kegiatan (penyidikan, kemudian saya tanya mengapa nggak ditempel (dikawal) terus? Pak Novel mengatakan nanti saja," ujar Kapolda ketika ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Poltik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam), Jakarta.
Saat bertemu Novel, Kapolda juga diberitahu korban sempat mencurigai sesuatu selama beberapa hari terakhir.
Namun sayangnya Kapolda tidak menjelaskan lebih lanjut kecurigaan Novel yang disampaikan kepadanya itu.
"Nah dia sadar, dan beberapa hari memang, ada kecurigaan, tapi beliau kan....," ujar Kapolda tidak melanjutkan pernyataannya.
Ditambahkan,  pengamanan terhadap keselamatan penyidik KPK saat ini sudah ditingkatkan agar kasus serupa tidak terulang.
Pada saat Novel menangani kasus korupsi proyek simulator SIM yang melibatkan petinggi Polri, ia mendapat pengawalan personel Marinir TNI AL.
"Dulu pernah dijaga aggota marinir. Dulu di rumah Pak Novel ada dua sampai empat orang anggota marinir yang menjaga," kata Wisnu Broto, Ketua RT di tempat tinggal Novel.
Wisnu masih ingat betul, mobil angggota marinir kerap diparkir di depan rumah Novel.
Anggota marinir itu dilengkapi senjata api laras panjang.
Anggota marinir juga menjaga keluarga Novel di rumah.
"Marinirnya masuk ke dalam (rumah), menjaga keluarga. Saat Salat Subuh, Pak Novel juga  dikawal anggota marinir," ujarnya.
Sedangkan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan sempat ditelepon Novel terkait penyerangan terhadap dirinya.
"Habis Salat Subuh, saya terus yasinan. Lalu ada telepon dari Novel," ujar Tito.
Setelah selesai yasinan Tito balik menghubungi Novel.
"Novel menyampaikan ia diserang air keras. Saya tanyakan bagaimana kondisinya. Saya kemudian memerintahkan Kapolres Jakarta Utara untuk memeriksa tempat kejadian perkara (TKP)," kata Kapolri.
Tito juga memerintahkan agar dilakukan pengamanan di rumah sakit dan kediaman Novel Baswedan.
Selain itu ia juga memerintahkan pembentukan tim penyidik gabungan dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya dan Mabes Polri.
Ketua KPK Agus Rahardjo menjamin aksi teror yang menimpa Novel tidak akan menyurutkan semangat dalam memberantas dan mengusut kasus korupsi.
"Pimpinan, penyelidik, penyidik, karyawan, sampai jaksa penuntut KPK tidak akan surut dan terpengaruh kepada teror ini," ujar Agus Rahardjo.
Adanya teror itu, lanjut Agus, pimpinan KPK semakin tertantang untuk mengungkap kasus korupsi di Indonesia.
"Kalau tujuan teror berkaitan dengan penanganan kasus perkara korupsi, itu salah sasaran. Kami pimpinan KPK bertanggung jawab atas segala perkara korupsi. Kami siap ambil alih dan siap ambil risiko," tutup Agus. 
(Tribunnews)

Related

Indonesia 6259801254218516937

Post a Comment

item