Bulung Sangu: Pasokan Terbatas, Harga Melonjak


www.nusabali.com-bulung-sangu-pasokan-terbatas-harga-melonjak

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Bulung Sangu, sejenis rumput laut  yang biasanya dicampur kuah pindang  dari Serangan Denpasar Selatan, semakin langka.

Penyebabnya, diperkirakan beberapa faktor. Di antaranya  pencarian atau pemetikan yang semakin  meluas dari waktu ke waktu. Di pihak lain kondisi perairan  seperti suhu  dan limbah laut lainnya, diperkirakan juga berpengaruh melambatnya pertumbuhan bulung sangu.

I Made Netra, seorang nelayan menuturkan menyusutnya  ‘panen’ bulung sangu, sudah cukup lama; sudah lebih dari 5 tahun lalu. “Sekarang dapat 20 kilo saja sudah banyak,” ujar Netra, Jumat (2/6).  

Sedang sebelumnya, ketika masih banyak dan gampang dipetik, Netra mengaku bisa dapat 100 kilogram bulung sangu.  Untuk mendapatkan dan memetiknya tidak gampang. Papar Netra, tak semua lokasi atau tempat perairan di Serangan dan Sanur  yang ‘mau’ ditumbuhi  bulung sangu.  

Di perairan Sanur, tempat yang tumbuhnya bulung sangu di sekitar Pantai Semawang.  “Kita mencarinya dengan menyelam, tidak petik di atas karang,” jelas Netra.

Dia tidak bisa memastikan apa yang menjadi penyebab kian sulitnya mendapatkan bulung sangu.  Namun demikian dia memperkirakan, karena pencarian bulung sangu semakin banyak. Kalau waktu dulu, mungkin hanya belasan nelayan yang mencari bulung sangu, namun sekarang  puluhan  nelayan bahkan  mungkin lebih, menc ari memetik bulung sangu.  

“Sepertinya  bulung itu sepanan ( tak cukup waktu tumbuh),” lanjut  Netra. Karena itulah, dia mengiyakan bulung sangu semakin langka. Harganya tentu juga semakin mahal. Kata Netra, yang suka banyak, namun barangnya semakin sedikit.

Di kalangan pedagang rujak ‘bulung sangu’ harga bulung sangu berkisar antara Rp 25.000 per kilogram (warna hijau) sampai Rp 30.000 per kilogram (warna putih). Kedua bulung sama, namun prosesnya pengolahan dan pengeringan beda. Yang hijau dalam proses direndam dengan air dicampur pamor (bubuk kapur). Sedang yang putih dengan pengeringan total sinar matahari.

Kuah ruak pindang berbahan baku bulung sangu, merupakan salah satu penganan ‘khas’ dari Denpasar khususnya dari Serangan.  Tak hanya di Denpasar, namun kegemaran terhadap rujak bulung  kuah pindang juga sampai ke luar Denpasar. Karenanya permintaan bulung  sangu jadi tinggi. “Mahal mangkin bulunge,” ucap Men Sonia, seorang pedagang  rujak bulung kuah pindang  di Serangan. 

Namun karena sudah menjadi ciri khas jualan, Men Sonia berusaha mendapatkan, walau tidak banyak memperolehnya. “ Kadang cukup tiyang cari yang putih saja,” ujarnya. 

(NusaBali)

Related

Berita Ekonomi 773696557628602581

Post a Comment

item