Cerita Mistis Mbah Joho, Tempat Bertapa Tapi Disenangi Murid SMAN 13 Semarang


Cerita Mistis Mbah Joho, Tempat Bertapa Tapi Disenangi Murid SMAN 13 Semarang

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Sebuah pohon joho yang berusia ratusan tahun berdiri kokoh di sudut halaman SMA Negeri 13 Semarang, Jawa Tengah.
Para siswa dan guru di lingkungan sekolah negeri di Kelurahan Ngadirogo, Kecamatan Mijen, itu menyebut pohon tersebut Mbah Joho.
"Sebelum sekolah berdiri sudah duluan ada pohon Joho. Bahkan pernah ada peneliti datang ke sini dan bilang kalau di pulau Jawa hanya tersisa dua pohon Joho. Salah satunya di tempat kami," kata kepala SMA Negeri 13 Semarang, Endah D Wardani belum lama ini.
Mbah Joho terletak di sebelah Selatan halaman sekolah dan menghadap langsung ke bangunan sekolah.
Pohon itu tingginya lebih dari 30 meter dan butuh tiga orang untuk merangkul batang pohon raksasa itu.
Mbah Joho jadi tempat favorit siswa bersantai saat istirahat juga selfie para siswa serta tamu yang datang.
Pojok Mbah Joho saat ini rapi karena ada alumni yang membangunkan 'pot' lengkap dengan ukiran sejarah pohon Joho mulai zaman Belanda hingga sekarang.
Endah menerangkan, konon pohon joho di wilayah Mijen sudah ada sejak zaman dulu.
Dahulu kala, wilayah Mijen merupakan rawa dan ada warga yang hendak tinggal di sekitar pohon Joho.
Menurut cerita, supaya air tidak menggenangi wilayah rawa di dasar Pohon Joho ditambal Gong.
"Sejak saat itulah lambat laun, pohon joho jadi pusat kehidupan di Mijen," tutur dia.
Pohon Joho terus berdiri kokoh melewati masa penjajahan hingga kemerdekaan. Mitos keangkeran Mbah Joho pun berkembang di masyarakat.
Dulu, banyak orang yang memanfaatkan pohon Joho untuk bertapa bahkan melakukan ritual menggunakan kemenyan.
Hingga SMA Negeri 13 Semarang berdiri pada 1987, masih banyak orang yang bertapa di bawah Mbah Joho.
Akhirnya, pada tahun 1990-an, pemerintah memagari pohon joho sekaligus menutup akses masuk orang luar ke pohon joho.
Sejak saat itu, Mbah Joho tinggal di dalam lingkungan sekolah.
"Sudah tidak ada praktik kemenyan sih, tapi kadang-kadang yang jaga sekolah cerita kalau bulu kuduknya suka berdiri pas lewat Mbah Joho," katanya lalu tertawa.
Khas lain dari Mbah Joho yaitu ketika bunga mekar, baunya samar-samar mirip kentut dan membuat orang luar kaget.
Seiring berjalannya waktu, keangkeran Mbah Joho tidak lagi jadi bahasan utama.
Tak ada lagi kemenyan di sekitar pohon Mbah Joho. Kini jadi tempat bersantai para murid kala senggang hingga jadi objek swafoto.
Risma Laylinisa (17) XII IPS 3, Ketua OSIS SMA Negeri 13 Semarang, mengatakan bahwa Mbah Joho merupakan ikon sekolahnya.
Setiap siswa pasti pernah merasakan 'sentuhan' Mbah Joho saat senggang.
"Bangga banget bisa punya Ikon yang usianya ratusan tahun, apalagi pohonnya termasuk langka," tutur Risma.
Septiana Tri Sayekti (16)siswa kelas XII IPS 1 bercerita kadang suka lupa waktu ketika bersantai di bawah Mbah Joho.
Ia pernah hampir terlambat karena terlalu asyik bersantai di Mbah Joho.
"Saya harus lari ke dalam kelas, untungnya dekat sama mbah Joho," ucapnya lalu tertawa.
(TribunNews)

Related

Info Unik 4672716047690509169

Post a Comment

item