Perangi Kebrutalan ISIS di Marawi, AS Terjunkan Pasukan Elite Bantu Militer Filipina


Perangi Kebrutalan ISIS di Marawi, AS Terjunkan Pasukan Elite Bantu Militer Filipina

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Pasukan elite Amerika Serikat sedang membantu Angkatan Bersenjata Filipina untuk membebaskan Kota Marawi dari kekuasaan kelompok milisi Maute yang pro-ISIS.
Menurut juru bicara Kedutaan Besar AS di Manila, permintaan bantuan telah diajukan pemerintah Filipina beberapa waktu lalu.
"Sesuai dengan permintaan pemerintah Filipina, pasukan operasi khusus AS sedang mendampingi AFP (militer Filipina) dalam operasi di Marawi guna menolong para komandan AFP di lapangan dalam perlawanan menghadapi Maute dan ASG (kelompok Abu Sayyaf)," kata sang juru bicara kepada kantor berita Reuters.
Dari sisi Filipina, juru bicara militer Filipina di Marawi, Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera, mengonfirmasi bantuan AS.
"Mereka tidak bertempur. Mereka hanya menyediakan sokongan teknis," kata Herrera, kepada kantor berita Agence-France Press, tanpa merinci sokongan teknis yang dimaksud.
Pada Jumat (9/6/2017), pesawat pengintai P3 Orion milik militer AS terlihat terbang di atas Kota Marawi, namun belum ada bukti bahwa AS telah mengirim pasukan.
Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera mengatakan, 13 personel marinir Filipina yang tewas dalam pertempuran melawan kelompok Maute baru-baru ini.
Jumlah itu menambah daftar serdadu Filipina yang tewas menjadi 58 orang sejak pertempuran berlangsung tiga pekan lalu.
Selain serdadu, pemerintah Filipina mengatakan sedikitnya 138 milisi dan 20 warga sipil meninggal dunia.
Kelompok Maute, yang dipimpin kakak-beradik Omar dan Abdullah Maute, masih menguasai Kota Marawi walau mengalami gempuran berhari-hari.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT, kelompok Jamaah Ansharut Daulah turut mengirimkan sejumlah warga Indonesia yang memperkuat kelompok Maute.
Sejauh ini, ada empat WNI yang ditetapkan sebagai daftar pencarian orang oleh otoritas Filipina.
Mereka adalah YO, AS, Y, dan AKY.
Pasukan elite AS
Bergabungnya pasukan AS dalam upaya merebut kembali Kota Marawi mengemuka di tengah ketegangan AS dan Filipina sejak Duterte menjabat presiden.

"Saya mengumumkan perpisahan dengan Amerika Serikat," katanya, "Amerika tidak mengendalikan hidup kami. Cukup sudah omong kosong," kata Duterte pada Oktober 2016 usai bertemu dengan Presiden Cina, Xi Jinping, di Beijing.
Sebelum Duterte menjadi presiden, aliansi AS dan Filipina di bidang militer terjalin kuat.
Pada 2002, Washington menerjunkan pasukan elite ke Mindanao untuk melatih dan memberi arahan kepada tentara Filipina yang bertugas memerangi kelompok milisi Abu Sayyaf.
Program saat itu melibatkan 1.200 warga AS.
Akan tetapi, kerja sama itu berhenti pada 2015, walau AS masih tetap memberi sokongan logistik dan teknis.
(TribunNews)

Related

Dunia 5002538853684542340

Post a Comment

item