PETANI CENGKEH KELUHKAN TURUNNYA PRODUKSI DAN HARGA JUAL



Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Musim panen cengkeh tahun ini tidak seramai panen setahun lalu. Sebagian besar petani di Buleleng mengeluh karena tanaman tidak mampu berproduksi optimal.

Situasi sulit ini terjadi karena pengaruh cuaca ekstrem yang menyebabkan tanaman gagal berbunga. Selain produksi melorot, harga jual cengkeh belakangan juga sama.
Salah seorang pemilik kebun, Putra Ariyana asal Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Rabu (26/7) menuturkan penurunan produksi cengkeh dari kebunnya termasuk paling parah dari musim panen tahun sebelumnya. Tahun lalu dirinya mendapat hasil bersih dari petani penggarap sebanyak dua ton cengkeh kering siap jual. Di panen tahun ini, hanya 20 kilogram cengkeh kering yang diperolehnya. “Bisa dibayangkan lebih dari 90 persen penurunan produksi dan ini yang paling parah dari musim panen tahun sebelumnya,” katanya.
Tidak saja produksi tanaman yang turun, harga jual cengkeh sekarang ini juga terus melorot. Dia mencontohkan, pada Mei 2017 yang lalu harga cengkeh kering sebesar Rp 129.000 per kilogram. Sekarang harganya turun menjadi Rp 112.000 per kilogram. “Heran juga dengan situasi sekarang harusnya produksi sedikit harga tinggi, tapi faktanya harganya turun drastis. Mungkin ini ada permainan spekulan untuk mendapatkan keuntungan lebih dari petani,” tegasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng Nyoman Swatantra membenarkan produksi cengkeh pada musim panen tahun ini diprediksi turun antara 10 sampai 70 persen. Swatantra mengatakan, penurunan ini terjadi sebagian besar disebabkan karena tanaman gagal berbunga.
Meski produksi turun, situasi ini dinilai wajar terjadi, karena pada budi daya tanaman cengkeh mengenal istilah dua tahun panen raya, dan satu kali panen biasa. Untuk mengembalikan produksi, petani harus melakukan pemeliharaan yang benar dan pemupukan berimbang.
Tidak ketinggalan pemangkasan ranting yang tidak produktif harus dilakukan dengan baik. “Laporan petugas penyuluh pertanian (PPL) karena hujan berkepanjangan pada saat tanaman akan berbunga sehingga bakal bunga tumbuh menjadi daun. Ini yang memicu produksi tanaman turun drastis,” katanya.
Selain pengaruh cuaca, Swatantra menyatakan penurunan produktiftas tanaman terjadi karena kesalahan cara memetik bunga cengkeh. Pada musim petik, petani kebanyakan mematahkan tangkai bunga sampai daun yang paling muda. Teknik ini mengakibatkan bakal bunga yang dapat diharapkan pada musim panen berikutnya otomatis hilang. “Harusnya yang dipetik saat panen itu tangkai yang ada bunganya, tetapi sering kita temukan banyak daun muda yang harus dibiarkan ikut dipetik. Kondisi ini harusnya diperhatikan, mungkin karena kebanyakan buruh petik bukan pemilik kebun, sehingga asal petik saja,” jelasnya.
(BaliPost)

Related

Seputar Bali 9106287568395299734

Post a Comment

item