Berburu kabar berkorban nyawa di Negeri Sakura



Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Karena mencintai dunia jurnalistik, akhirnya dia memutuskan terjun ke dalamnya. Sebagai pewarta muda, semangatnya menggebu-gebu memburu narasumber. Apapun dilakukan asal mendapat berita eksklusif.

Perempuan pewarta sebuah surat kabar di Negeri Matahari Terbit itu lantas membeberkan bagaimana cara dia mendapatkan berita. Dia ditugaskan buat mengejar perdana menteri dan anggota legislatif di Ibu Kota Tokyo.

Saking kerasnya persaingan, di mengaku selalu pulang liputan paling cepat pukul 01.00 dini hari waktu setempat. Namun empat jam kemudian sudah harus bangun lagi jika tidak mau kebobolan oleh jurnalis lain. Kini dia mulai menyadari tuntutan kerjanya bukan sekedar kerja keras, tetapi lebih mengarah ke perbudakan.

"Saya enggak sadar karena hal itu terjadi lantaran kami kerja kaya orang gila. Kaya budak. Saya pikir bakalan mati kalau kaya gini terus," kata jurnalis perempuan minta identitasnya dirahasiakan itu, seperti dilansir dari laman AFP, Sabtu (14/10).

Perempuan kini berusia 30 tahun itu sempat bergabung dengan perkumpulan jurnalis 'garis keras' Jepang. Mereka punya ritual khusus saban hari bernama 'Yomawari'. Yakni berkeliling dan menunggu di luar rumah politikus setempat walau dapat berita atau tidak. Tidak peduli saat itu sedang musim dingin atau hujan, mereka tetap harus rela nongkrong di depan kediaman narasumber.

"Saya sampai selalu menggunakan penghangat tubuh sekali pakai, tapi tetap aja kedinginan. Mau pipis aja enggak bisa. Pokoknya bikin enggak sehat," ujar dia.

Karena tuntutan pekerjaan dan persaingan yang di luar nalar, dia mengaku bukan hal aneh lagi kalau mendengar sejawatnya jatuh sakit atau malah mengalami gangguan kejiwaan. Jalan-jalan akhir pekan? Menurut dia jangan pernah mimpi bisa melakukannya karena mereka terlalu sibuk menguntit anggota parlemen menemui konstituen saban Jumat malam. 

Lain lagi cerita dari seorang reporter perempuan Tokyo TV. Dia sudah tidak mau mengingat lagi masa lalunya. Yakni saat-saat dia harus kerja gila-gilaan memburu narasumber. Apapun dilakukan demi berita. Kini kalau disinggung apakah dia bangga soal prinsip semangat bertarung habis-habisan ala Jepang dianutnya saat liputan dulu, dia enggak perlu banyak bicara dan memilih segera mengacungkan jari tengahnya. Sebab cara seperti itu membuat dia lupa diri.

"Saya bahkan sampai enggak punya waktu buat memeriksa kesehatan saya. Pernah tahu-tahu pas saya periksa ternyata temperatur badan saya sampai 39 derajat Celcius. Atasan cuma nuntut jangan malas, tetapi enggak ngasih tahu kapan kami harus istirahat karena kerja terlalu keras. Lama-lama jadi kaya zombie," ujar reporter itu.

Sudah rahasia umum kalau jam kerja jurnalis lebih panjang dari pekerja biasa di belahan dunia manapun. Namun, budaya di Negeri Sakura lebih gila. Mereka bisa memburu berita 24 jam dalam tujuh hari sepekan. 

Seorang reporter perempuan stasiun televisi NHK, Miwa Sado, meninggal karena mengalami kegagalan jantung empat tahun lalu. Setelah diusut, ternyata dia bekerja terlalu keras hingga catatan lemburnya mencapai 159 jam. Alasan itu baru diungkap oleh kantor tempatnya bekerja baru-baru ini. Berita itu menyebar luas dan membikin dunia jurnalistik tersentak akan fakta mengerikan itu.

Hal itu jelas mencoreng NHK selama ini dikenal kerap keras mengkritik budaya kerja di Negeri Sakura menyebabkan karoshi. Namun, salah satu karyawan mereka malah terjerumus ke dalam pusaran itu.

Meski petinggi NHK, Ryoichi Ueda, sudah membungkuk minta maaf di depan orang tua Sado, hal itu tetap tidak bisa memperbaiki keadaan. Mereka cuma berjanji bakal mencari jalan keluar supaya hal itu tidak berlanjut.

Menteri Tenaga Kerja Jepang, Katsunobu Kato, mendesak industri media massa setempat mengubah jam kerja yang panjang supaya hal serupa tak terulang.

"Saya kaget wartawan NHK saja meninggal karena kebanyakan kerja. Padahal mereka selama ini selalu mengkritik budaya kerja Jepang," kata pakar perburuhan Jepang dari Universitas Ryukoku, Profesor Shigeru Wakita.

Pemerintah Jepang sudah mencoba segala cara menekan angka pekerja mati karena kebanyakan bekerja. Mereka membatasi waktu lembur sepekan paling banyak seratus jam. Namun, ide itu dikecam banyak pihak.

Perdana Menteri Shinzo Abe sudah mengajukan usul digelar program 'Jumat Ceria'. Di mana para pekerja di sektor apapun pulang lebih awal saban Jumat akhir bulan. Namun, semua solusi itu dianggap mandul karena pemerintah dianggap tidak punya niat baik.

"Paling itu cuma buat perusahaan kecil. Kalau korporasi besar mereka nampaknya cuek saja," ucap Wakita.

(Merdeka.com)

Related

Dunia 8335536132757608141

Post a Comment

item