Karena Sampah, Masyarakat di Sekitar Hutan Mangrove Surabaya Raup Berkah

Penggerak bank sampah di Gunung Anyar Tambak, Surabaya, Senun (19/2/2018).

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali     Banyaknya sampah di laut menjadi permasalahan sendiri bagi masyarakat di pesisir. Selain membuat kondisi lingkungan menjadi tak nyaman, hal itu juga membuat hasil tangkapan ikan tidak bisa maksimal.
Kondisi ini yang dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya. Sebelum tahun 2011, kelurahan yang berada di muara sungai perbatasan antara Surabaya dan Sidoarjo ini sering menghadapi masalah sampah.
Bagaimanapun, wilayah muara menjadi tempat berakumulasinya sampah-sampah yang dibuang ke sungai. Aliran air membawa barang-barang yang dianggap tak berharga tersebut menuju ke laut.
Saat sungai surut, sampah-sampah tersebut mengendap di pinggiran sungai dan di sela pohon bakau yang tumbuh subur di wilayah ini. Sehingga membuat wilayah Gunung Anyar Tambak menjadi kumuh.
Padahal, saat itu wilayah ini sering didatangi oleh banyak tamu dari berbagai lembaga pemerintah serta korporasi karena ditetapkan sebagai lokasi proyek penanaman pohon bakau oleh Pemkot Surabaya. 
Karena menjadi lokasi proyek penanaman bakau, wilayah ini tidak selayaknya kumuh.
Adalah Bu Kusni, seorang warga Gunung Anyar Tambak yang merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Dia ingin sekali menggerakkan warga untuk membersihkan lingkungan di sekitar muara agar lingkungan menjadi bersih dan nyaman.
“Namun terus terang, untuk menggerakkan warga agar mau membersihkan sampah di sungai dan perairan sekitar muara sangatlah susah. Mereka harus mencari nafkah, sedangkan kalau kerja bakti mereka tidak mendapatkan apa-apa,” jelas dia saat berbincang dengan para jurnalis, Senin (19/2/2018).
Merasa sulit menemukan jalan keluar, Bu Kusni lantas meminta saran kepada PT PLN (Persero) untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebelumnya, PLN merupakan salah satu institusi yang melakukan program penanaman bakau di wilayah ini.
Menurut Bu Kusni, PLN dipilih menjadi tempat "curhat" lantaran BUMN ini dianggap paling serius dalam menjalankan program penghijauan dan pemberdayaan di wilayah Gunung Anyar Tambak.
“Jika instansi lain setelah penanaman bakau tidak ada tindak lanjutnya, PLN beda. PLN selalu memantau perkembangan dari waktu ke waktu atas program yang dijalankannya,” kata Bu Kusni.
Saat itu, Bu Kusni sering berkonsultasi dengan salah satu perwakilan PLN Jawa Timur yang menjalankan program CSR di wilayah ini, yakni Pak Mirza. Dalam konsultasinya, Bu Kusni meminta agar PLN bisa mencarikan jalan keluar sehingga masyarakat bersedia melakukan pembersihan sampah, sekaligus bisa mendapatkan tambahan penghasilan.
PLN lantas menawarkan solusi. Alih-alih memberikan uang untuk membayar masyarakat melakukan pembersihan sampah, PLN mencetuskan ide untuk membangun bank sampah.
Bank sampah ini difungsikan sebagai tempat untuk mengumpulkan sampah-sampah yang disetorkan masyarakat. Baik sampah yang dikumpulkan dari rumah sendiri, maupun yang dipungut dari sungai dan laut.
Masyarakat yang menyetor sampah akan mendapatkan kompensasi dari bank sampah. Di sisi lain, bank sampah menjual sampah-sampah yang disetorkan itu kepada pengepul. Sehingga ada uang yang diputar.
Pada April 2012, bank sampah di Gunung Anyar Tambak mulai beroperasi. Sebagai modal awal, bank sampah ini mendapatkan bantuan dari desa sebesar Rp 400.000.
Tak disangka, masyarakat cukup antusias untuk menyetorkan sampah ke bank sampah yang bernama "Bintang Mangrove" ini. Tak hanya sampah domestik, warga sekitar juga berinisiatif mengumpulkan sampah-sampah dari muara sungai, bahkan hingga ke laut.
Antusiasme masyarakat untuk mengumpulkan sampah memaksa Bu Kusni dan para pengurus Bintang Mangrove memutar otak untuk mencari tambahan pendanaan.
Lagi-lagi, pilihannya adalah PLN. Dan, gayung pun bersambut. Setelah meyakinkan PLN bahwa program bank sampah telah berjalan, BUMN kelistrikan ini memberikan bantuan modal sebesar Rp 10 juta, perahu, serta sepeda motor roda tiga untuk mengangkut sampah.
Dengan tambahan modal tersebut, bank sampah Bintang Mangrove mampu meningkatkan serapan sampah dari masyarakat sekitar serta menjualnya dalam kuantitas yang lebih besar lagi. 
Hingga saat ini sudah ada 218 nasabah bank sampah yang secara aktif menyetorkan sampah mereka.Saat ini bank sampah telah beroperasi secara penuh. Uang yang diputar melalui bank sampah ini mencapai Rp 9 juta hingga Rp 12 juta per bulan.
Kesuksesan ini yang kemudian membuat Bintang Mangrove menjadi pilihan studi banding sejumlah tamu dari mancanegara untuk mengetahui metode peningkatkan taraf ekonomi masyarakat di kawasan pesisir.
"Kami sampai dikunjungi oleh para tamu dari berbagai negara di ASEAN untuk melihat keberhasilan pengelolaan sampah di pesisir," kata Bu Kusni.
Dia mengaku tak bisa mengambil untung besar dari sampah yang dijual ke pengepul. Alasannya, agar tidak menimbulkan kesenjangan antara bank sampah dengan nasabah yang menyetorkan sampah,
Dia sering melihat, bagaimana susahnya nelayan sekitar yang harus berjuang untuk memungut sampah di laut dan di sela-sela tanaman bakau.
"Yang penting menjalankan program bank sampah ini kuncinya iklas. Meski keuntungannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali, alhamdulillah seluruh biaya operasional tercukupi," pungkas Bu Kusni. 













sumber : kompas.com

Related

Berita Ekonomi 2299859980536388819

Post a Comment

item