Harga Minyak Dunia Stabil Diwarnai Sentimen Sanksi Iran

Harga Minyak Dunia Stabil Diwarnai Sentimen Sanksi Iran

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali     Harga minyak dunia bergerak relatif stabil sepanjang pekan lalu. Pergerakan masih dipengaruhi oleh sentimen kemungkinan pengenaan sanksi baru Amerika Serikat (AS) kepada Iran. 

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka pada Jumat (27/4) lalu ditutup di level US$74,64 per barel atau naik sekitar 0,5 persen secara mingguan. Bulan ini, harga Brent sempat menyentuh level US$75 per barel, atau tertinggi sejak akhir 2014.

Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun tipis sekitar 0,5 persen secara mingguan menjadi US$68,10.
Berdasarkan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC), pelaku pasar memangkas kombinasi kontrak berjangka dan opsi minyak mentah AS di New York dan London sebesar 17.021 kontrak menjadi 455.855 sepanjang pekan yang berakhir pada 24 April.


Presiden AS Donald Trump bakal memutuskan terkait rencana pengenaan sanksi baru terhadap Iran pada 12 Mei mendatang. 

Sebagai catatan, AS bersama enam negara adi kuasa dunia lainnya membuat kesepakatan dengan Iran terkait program nuklir yang dikembangkan. Pengenaan sanksi baru kemungkinan akan menurunkan ekspor minyak Iran dan mengganggu pasokan minyak global.

"Hal itu adalah faktor terbesar penggerak pasar saat ini. Karenanya, Anda menyaksikan volatilitas yang rendah hari ini (Jumat (2/4), dan sebagian besar pekan ini," ujar Manajer Portfolio Trtoise Capital Rob Thummel di Leawood, Kansas.

Dalam perhitungan bulanan sampai 27 April, Brent telah menguat sekitar enam persen sedangkan WTI bergerak naik hampir lima persen. Penguatan harga minyak terjadi meskipun kurs dolar AS menguat melawan sekeranjang mata uang lain ke level tertingginya sejak 11 Januari 2018 lalu.

Sebagai catatan, penguatan dolar membuat komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal di mata pemegang mata uang lain.

Perhatian terhadap pengetatan pasar juga dipicu oleh merosotnya kondisi politik dan perekonomian di Venezuela yang membuat penurunan produksi minyak mentah 40 persen sepanjang dua tahun terakhir.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dibatasi oleh produksi minyak mentah AS yang menanjak seiring peningkatan aktivitas pengeboran minyak shale. Hal ini juga membuat diskon harga Brent terhadap WTI melebar ke level terbesarnya sejak 28 Desember 2017 menjadi US$6,74 per barel.

Peningkatan produksi minyak AS, yang naik ke level 10,59 juta barel per hari pekan lalu, telah membantu ekspor minyak AS memecahkan rekor.

Baker Hughes mencatat pengebor minyak AS menambah lima rig pekan lalu, membuat jumlah rig minyak yang beroperasi di Negeri Paman Sam naik menjadi 825 rig, tertinggi sejak Maret 2015. Sepanjang bulan ini, jumlah rig AS telah meningkat 28 rig.
Sementara produsen minyak mentah AS mempercepat aktivitas pengeboran di berbagai kawasan di AS, produksi yang lebih tinggi tidak berarti peningkatkan hasil penyulingan kilang untuk beberapa perusahaan minyak.

Margin penyulingan yang lemah menyakiti dua perusahaan energi terintegrasi terbesar di dunia untuk dua kuartal berturut-turut, Chevron Corp dan Exxon Mobil Corp. Kendati demikian, keuntungan produksi Chevron pada kuartal I 2018 masih mampu melampaui Exxon. 

























sumber : CNNIndonesia.com

Related

Berita Ekonomi 6732700371448004841

Post a Comment

item