Habib Ali Diangkat Raja Klungkung sebagai Guru Bahasa Melayu

www.nusabali.com-habib-ali-diangkat-raja-klungkung-sebagai-guru-bahasa-melayu

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali     Salah satu wali pitu (tujuh wali) berperan melakukan syiar ajaran Islam di wilayah Klungkung, yakni Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid. Semasa hidupnya, Habib Ali bin Abu Bakar bin umar Al-Khamid sempat diangkat sebagai guru Bahasa Melayu ketika Kerajaan Klungkung diperintah Raja Ida Dewa Agung Jambe. Makam Waliyulilah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid kini berada di Desa Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung. 

Menurut Juru Kunci (Kuncen) Makam Waliyulilah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid, Haji Mugeni, menyatakan dalam makam keramat tersebut terdapat sebuah prasasti bertahun 1441 Masehi, yang membuktikan Islam masuk di kawasan Kusamba. Ajaran Islam dibawa oleh orang Bugis yang mensuplai barang ke Klungkung. Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid ikut berperan dalam syiar tersebut.

Haji Mugeni menyebutkan, Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid dikenal memiliki kemampuan Bahasa Melayu. Itu sebabnya, Raja Klungkung (waktu itu) Ida Dewa Agung Jambe mengangkat Habib Ali sebagai guru Bahasa Melayu. 

Sejak awal, Habib Ali tinggal di kawasan yang kini bernama Desa Kampung Islam, Kecamatan Dawan. Raja pun memberikan Habib Ali seekor kuda tunggangan berwarna putih sebagai kendaraan pulang-pergi Kusamba-Klungkung. “Ya, beliau (Habib Ali) dihadiahi raja seekor kuda putih sebagai transportasi Kusamba-Klungkung,” ungkap Haji Mugeni saat ditemui NusaBali di Makam Waliyulilah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid, Senin (14/5) lalu.

Diceritakan, suatu ketika Habib Ali pulang dari Klungkung dan berpapasan dengan seorang putra mahkota kerjaaan di Desa Kusamba. Kala itu, putra mahkota kerajaan tersebut sedang berjalan kaki dengan teman-temannya. Sang putra mahkota kemudian menghentikan langkah kuda putih yang ditunggangi Habib Ali. Masalahnya, Habib Ali tidak turun menyembah sang putra mahkota.

Nah, peristiwa itu kemudian diceritakan Habib Ali kepada raja Klungkung keesokan harinya. Oleh raja, Habib Ali diperintahkan untuk mencari jalur alternatif pulang-pergi Kusamba-Klungkung yang lebih aman, agar tidak bertemu lagi dengan putra mahkota. “Habib Ali kemudian mencari jalan alternatif dengan menelusuri pantai di sisi selat-an Desa Kusamba,” ungkap Mugeni.

Dalam perjalanan pulang dari Klungkung menuju Kusamba, tiba-tiba Habib Ali diserang oleh sekelompok orang tak dikenal dengan menggunakan senjata tejam. Serangan itu menyebabkan Habib Ali wafat. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kawasan Desa Kampung Kusamba. 

Malam hari pasca pemakaman Habib Ali, terjadi peristiwa gaib. Muncul gulungan api di atas makam Habib Ali. Kemudian, gulungan api itu terbang mengejar para pelaku penyerangan yang menewaskan Habib Ali. “Tidak ada satu pun pelaku yang berhasil selamat,” papar Mugeni.

Sementara itu, untuk mengenang Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid, guru Bahasa Melayu Kerajaan Klungklung yang tewas diserang gerombolan orang tak dikenal, dibuatkanlah sebuah patung di malamnya. Patung itu menggambarkan Habib Ali menunggangi kuda putih.

Menurut Mugeni, Makam Waliyulilah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid dikenal sebagai makam keramat. Bahkan, kerap terdengar suara gaib dan muncul sosok Habib Ali yang didengar dan dilihat orang-orang tertentu saat ziarah di makam keramat tersebut. 

Setiap pengunjung yang berziarah ke Makam Waliyulilah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid diimbau agar selalu menjaga etika dan sopan santun. Pantang bicara tak senonoh di makam keramat ini. “Berdasarkan karomah yang dimiliki Habib Ali, bila ada orang berkata tak senonoh di makam keramat ini, bisa bertiap angin kencang disertai suara gaib yang menakutkan,” jelas Mugeni. 

Mugeni mengisahkan, seorang peziarah dari Arab pernah mengalami kejadian gaib di Makam Waliyulilah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid. Usai berziarah, malamnya orang Arab tersebut bermimpi aneh bertemu Habib Ali. Oleh Habib Ali, orang Arab ini diberi sepasang burung. “Tak berselang lama, rumah orang Arab tersebut malah didatangi burung walet yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi,” papar Mugeni.

Menurut Mugeni, para peziarah ramai datang ke Makam Waliyulilah Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar Al-Khamid di Kampung Kusamba pada hari-hari tertentu. Paling ramai menjelang bulan puasa. Peziatrah bukan hanya dari Bali, tapi juga datang dari luar seperti Jawa Timur, Jakarta, Jawa barat, bahkan Malaysia. “Biasanya mereka datang dalam rombongan bus,” ujarnya.




































sumber : nusabali.com

Related

Warta Semarapura 442665984941317682

Post a Comment

item