Pleidoi Aman Abdurrahman dan Nasib Orientasi Para Loyalisnya

Pleidoi Aman Abdurrahman dan Nasib Orientasi Para Loyalisnya

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Nota pembelaan atau pleidoi pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Oman Rochman alias Aman Abdurrahman di persidangan berusaha mematahkan anggapan selama ini. Sikap Aman dinilai bisa mempengaruhi pemikiran para pengikutnya. 

Narapidana kasus terorisme itu menyatakan tak pernah menyerukan kepada para pengikutnya untuk menyerang aparat keamanan meskipun menganggap pemerintah sebagai kaum kafir. 

Aman juga menyebut para pelaku bom di Surabaya sebagai orang-orang yang sakit jiwanya karena melibatkan anak-anak dalam aksinya dan mengganggu umat lain. Dia berpendapat mereka tak memahami ajaran Islam.
Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai Aman telah mengalami perubahan pemikiran jika diperhatikan dari pleidoi yang disampaikan hari ini. 

Terkait serangan teror misalnya, sikap Aman dianggap lebih proporsional karena memilih melakukan serangan di wilayah yang semestinya atau area konflik seperti Suriah.

"Kalau memang itu yang disampaikan artinya dia mengalami metamorfosis dalam pemikiran Aman," kata Harits kepada CNNIndonesia.com, Jumat (25/5).

Dia tak mau menduga bahwa pemikiran yang disampaikan Aman dalam pleidoi sebagai taktik agar hakim meringankan hukuman nantinya. Namun yang jelas, kata Harits, Aman telah mengubah pemikirannya.
"Ada metamorfosa dalam pemikiran dia. Kita beranjak dari fakta, kalau betul apa yang disampaikan hari ini berarti ada perubahan mindset," katanya.

Perubahan pemikiran itu, menurut Harits bisa dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari perenungan hingga melakukan kajian ulang terhadap pandangan-pandangan sebelumnya. Dia mengatakan pandangan lama dan baru dalam khasanah pemikiran adalah hal yang lumrah.

"Ada perubahan, itu hal yang biasa pula dalam mindset kalangan jihadis seperti Aman Abdurrahman," ujarnya.
Harits menganggap sikap Aman kali ini sebagai iktikad baik yang bisa mempengaruhi pengikutnya. Di hadapan publik, Aman menegaskan bahwa serangan teror bom terhadap aparat dan umat agama lainnya bertentangan dengan dalil Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW.

Menurut Aman, Islam tak pernah mengajarkan kekerasan. Kalaupun ada pengikutnya yang ingin jihad, dia menyarankan agar pergi ke Suriah. 

"Kejadian di Surabaya itu, orang-orang yang melakukannya atau merestuinya melaksanakan jihad adalah orang-orang yang sakit jiwanya," kata Aman di persidangan.

Harits berharap sikap Aman tersebut bisa mengubah orientasi para loyalisnya terkait serangan. "Kalau dia mau bicara itu, kan bagus. Kalau dia punya pandangan yang berubah berarti berpengaruh juga ke pengikutnya," katanya.
Namun perlu ada riset lebih lanjut untuk mengetahui apakah sikap Aman yang tertuang dalam pleidoi bisa benar-benar mengubah pemikiran para pengikutnya.

Aman Abdurrahman membacakan pleidoi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini. Jaksa mengajukan tuntutan kepada hakim agar menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Aman dianggap bertanggung jawab atas aksi teror yang menewaskan sejumlah orang serta dalang serangan selama sembilan tahun terakhir.

Aman tak gentar atas tuntutan hukuman mati itu. Dia justru meminta majelis hakim tak ragu menjatuhkan vonis hukuman mati atau penjara seumur hidup kepadanya.

"Jangan ragu atau berat hati. Tidak ada sedikitpun gentar dan rasa takut dengan hukuman zalim kalian ini di hatiku. Aku hanya bersandar kepada Sang Penguasa dunia dan akhirat, dan nantikanlah oleh kalian balasan kezaliman ini di dunia dan akhirat," kata Aman.

Aman dianggap melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6, subsider Pasal 15 juncto Pasal 7 UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dan Pasal 14 juncto Pasal 7 subsider Pasal 15 juncto pasal 7 UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.































sumber :CNNIndonesia.com

Related

Indonesia 1924402611293025427

Post a Comment

item