Alasan WHO Tetapkan 'Kecanduan Video Game' Gangguan Kesehatan

Alasan WHO Tetapkan 'Kecanduan Video Game' Gangguan Kesehatan

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) baru saja menetapkan kecanduan video game sebagai salah satu bentuk gangguan kesehatan mental. Kecanduan video game masuk dalam versi terbaru klasifikasi penyakit yang dirilis WHO pada Senin (18/6).

Dalam klasifikasi itu, WHO mendefinisikan kecanduan bermain game ditandai dengan pola perilaku permainan yang berulang, baik online atau offline. Kecanduan bermain itu terlihat dari beberapa manifestasi yakni ketidakmampuan mengontrol permainan, memprioritaskan game dibandingkan kepentingan hidup lain dan melanjutkan permainan walaupun memberikan akibat negatif.

"Yang penting adalah bahwa perilaku ini (bermain game) terus berlanjut meskipun ada konsekuensi negatif ini," kata ahli kesehatan mental dan penyalahgunaan zat untuk WHO Vladimir Poznyak, dikutip dari The San Diego Union-Tribunne.
Poznyak menjelaskan seseorang dapat dikualifikasikan mengidap gangguan kesehatan mental kecanduan video game jika kegiatan bermain yang berulang itu merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

WHO menyebut gangguan ini biasanya terbukti setelah 12 bulan. Namun, gejala yang parah dapat menyebabkan diagnosis lebih cepat. Poznyak menuturkan diagnosis itu hanya boleh dilakukan oleh seorang tenaga kesehatan yang profesional.

WHO memasukkan kecanduan game sebagai salah satu bentuk kesehatan mental agar orang-orang dan tenaga kesehatan dapat melakukan upaya pencegahan. 

WHO meminta agar orang yang bermain game selalu memperhatikan jumlah waktu yang dihabiskan untuk bermain dibandingkan dengan kegiatan lain. Orang-orang juga harus memperhatikan perubahan kesehatan fisik dan psikologis serta fungsi sosial selama bermain.
Tuai kontroversi

Di sisi lain, keputusan WHO juga menuat kontroversi. Para ahli kesehatan mental menilai keputusan ini terlalu gegabah. Seorang psikolog dari The Telos Projext, Texas, Anthony Bean menyebut pemberian diagnosis itu terlalu dini.

"Agak terlalu dini untuk menyebut ini sebagai diagnosis.Saya seorang dokter dan peneliti, jadi saya melihat orang-orang yang bermain gim video dan percaya diri tidak berada di garis kecanduan," kata Bean dikutip dari CNN.

Bean justru berpendapat orang-orang menggunakan video game untuk mengatasi kecemasan dan depresi.

Seorang psikolog dan peneliti dari Stetson University di DeLand, Christopher Ferguson juga menilai keputusan WHO tak didukung dengan basis yang kuat.





















































sumber : CNNIndonesia.com

Related

Gaya Hidup 1096222233663918549

Post a Comment

item