Bulog Paparkan Alasan Harga Beras Masih Mahal

Bulog Paparkan Alasan Harga Beras Masih Mahal

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) memaparkan salah satu penyebab harga beras di beberapa daerah sulit terkendali adalah dimulainya perubahan skema bantuan langsung kepada masyarakat.

Saat ini, harga besar masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Padahal Kementerian Perdagangan mewajibkan penjualan beras di pasar tradisional harus sesuai HET sejak April 2018 silam.

Kepala Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Bulog Sopran Kenedi menjelaskan skema bantuan untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) berubah pada 2017, dari semula Beras Sejahtera (Rastra) menjadi Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).
Melalui skema BPNT, Bulog tidak mendistribusikan rastra secara langsung, melainkan memberi bantuan melalui kartu elektronik. Dengan begitu, masyarakat dapat membeli bahan pangan secara mandiri di pedagang yang bekerja sama dengan Bank Himbara.

"Ini yang menyebabkan perkembangan harga beras sulit dikendalikan. Biasanya dipenuhi di tingkat desa atau kecamatan, sekarang rumah tangga sasaran bebas melakukan pembelian melalui mekanisme pemberian program BPNT," kata Sopran di Menara Kadin, Rabu (17/10). 

Pemerintah menargetkan penyaluran BPNT hingga akhir 2018 bisa mencapai 10 juta KPM, dari total 15,5 juta keluarga yang membutuhkan. Dengan demikian, porsi penerima bantuan rastra hanya 5,5 juta KPM. 
Selain itu, menurut Sopran, Bulog mendapat penugasan untuk mengendalikan beras medium melalui Operasi Pasar (OP) dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Namun kenyataannya masih banyak beras premium dengan berbagai varian di pasar yang tidak terjangkau oleh Bulog.

"Itu kami serahkan ke mekanisme pasar. Sulit untuk kami kendalikan stok yang premium, tapi paling tidak sudah ada instrumen HET oleh Kementerian Perdagangan untuk membantu mengendalikan harganya," ujar Sopran.

Khusus beras medium, Bulog memiliki ketersediaan sekitar 1,5 juta-2,5 juta ton di seluruh gudang setiap tahun. Jumlah ini sangat jauh dibanding konsumsi nasional 2018 yang diperkirakan mencapai 33,47 juta ton. Sopran memaparkan ketersediaan pasokan beras di seluruh gudang Bulog saat ini sebesar 2,43 juta ton.

"Artinya jauh sekali, mungkin kalau kita lihat dari total konsumsi tidak sampai 8 persen dikuasai Bulog untuk memenuhi kebutuhan penyaluran rutin," jelasnya.

Sekadar informasi, Kementerian Perdagangan telah menetapkan HET beras medium per wilayah. Untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi HET beras medium ditetapkan sebesar Rp9.450 per kilogram (kg). 
Kemudian, Sumatra lainnya dan Kalimantan Rp9.950 per kg, Nusa Tenggara Timur Rp9.500 per kg, Maluku dan Papua Rp10.250 per kg.

Akan tetapi, menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional hari ini, harga rata-rata beras medium I di pasar tradisional sebesar Rp11.750.

























sumber : kompas.com

Related

Berita Ekonomi 1382049501000985327

Post a Comment

emo-but-icon

item