Daya Beli Buruh Tani Loyo Tertekan Inflasi Pedesaan

Daya Beli Buruh Tani Loyo Tertekan Inflasi Pedesaan

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali  Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan daya beli buruh tanimenurun pada Desember 2018 dibanding bulan sebelumnya. Hal ini karena upah nominal yang didapat tidak lebih tinggi dari laju kenaikan harga atau inflasi barang konsumsi sehari-hari.

Tercatat, upah nominal buruh tani meningkat tipis sebesar 0,19 persen dari Rp52.955 menjadi Rp53.056 per hari. Namun, upah riil yang mencerminkan daya beli buruh tani justru melemah 0,38 persen dari Rp38.237 menjadi Rp38.090 per hari. 

"Hal ini karena inflasi cukup tinggi pada bulan lalu, inflasi pedesaan mencapai 0,58 persen," ujarnya di kantor BPS, Selasa (15/1). 
Begitu pula dengan buruh bangunan, buruh potong rambut, dan pembantu rumah tangga, daya beli ketiganya rontok tertekan inflasi nasional yang mencapai 0,62 persen pada Desember 2018. 

Buruh bangunan tercatat memiliki kenaikan upah nominal sebesar 0,1 persen menjadi Rp87.385 per hari. Namun, upah riilnya minus 0,51 persen menjadi Rp64.543 per hari. 

Sementara itu, upah riil buruh potong rambut wanita turun 0,19 persen menjadi Rp20.136 per kepala, meski upah nominalnya meningkat 0,43 persen menjadi Rp27.262 per kepala. 
Sedangkan pembantu rumah tangga mengalami kenaikan upah sekitar 0,14 persen menjadi Rp403.095 per bulan. Namun, kemampuan daya belinya justru terkoreksi hingga 0,47 persen menjadi Rp297.728 per bulan.



























sumber : CNNIndonesia.com

Related

Berita Ekonomi 1474905958524724575

Post a Comment

emo-but-icon

item