Warga Australia Bantu Siapkan Banten hingga Ngayah Menari


www.nusabali.com-warga-australia-bantu-siapkan-banten-hingga-ngayah-menari

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Pelaksanaan Hari Raya Kuningan yang digelar umat Hindu di Gold Coast, Brisbane, Australia pada Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu (15/4), berlangsung semarak. Krama Bali (Hindu) yang tinggal di Gold Coast dan sekitarnya hari itu kumpul di Pantai Harley Park, Labrador untuk melakukan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Uniknya, warga Australia juga ikut sibuk membantu krama Bali perantauan, mulai dari penyiapkan banten hingg ngayah menari.

Kegiatan ritual perayaan Kuningan di Brisbane ini dikoordinasikan oleh Yayasan Balinese Indonesian Multicultural Assocation (BIMA), yang dipimpin I Wayan Wiednya selaku Presiden-nya. Sejak 3 tahun terakhir secara berturut-turut, Yayasan BIMA yang bermasrkas di Gold Coast ini rutin melaksanakan upacara Kuningan di Pantai Harley Park. 

Tujuan utamanya, untuk membantu para diaspora Bali menghidupkan tradisi dan budaya Bali di luar negeri, sambil memadamkan rasa rindu kepada kampung halaman. Selain itu, anggota Yayasan BIMA juga ingin mengajak teman-teman dari suku bangsa dan agama lain untuk datang dan merasakan keindahan budaya dan kesenian Bali, sekaligus menjalin hubungan baik dengan masyarakat Australia.

Nah, dalam upacara Kuningan yang dilakukan di Harley Park ini, Yayasan BIMA mengun-dang pamangku dari Gympie untuk memimpin persembahyangan bersama. Para anggota dan teman Yayasan BIMA juga bergotong-royong membangun tempat pemujaan, lengkap dengan banten, umbul-umbul, dupa, dan tirta. Bukan hanya itu, sejumlah warga Australia juga membantu pelaksanaan ritual, mulai membuat sesajen, makanan, hingga ada yang ngayah menari Bali.

Setelah sembahyang bersama, upacara dilanjutkan dengan pertunjukan tari tradisional Bali yang dibawakan oleh Sanggar Anahata dari Brisbane. Para anggota Sanggar Anahata merupakan campuran budaya dan kewarganegaraan. Termasuk di antara mereka adalah Jane Ahlstrand (bule perempuan asal Australia), Arathy Thirukumar (perempuan keturunan Sri Lanka), dan Ari Dharma (asal Bali). Mereka bersama menampilkan tiga jenis tari Bali saat perayaan Kuningan kemarin, masing-masing Tari Baris, Tari Margapati, dan Tari Jauk Keras.

Presiden Yayasan BIMA, Wayan Wiednya, merasa sangat puas karena para sahabat dari berbagai latar belakang telah bergabung untuk merayakan Hari Raya Kuningan bersama di Gold Coast, Sabtu kemarin. “Yayasan BIMA hanya menyediakan tempat buat saudara-saudara kami yang seperantauan untuk bisa melakukan persembahyangan dan sekaligus silaturahmi,” ungkap Wayan Wiednya kepada NusaBali, Minggu (16/4).

Wayan Wiednya mengakui, sejauh ini umat Hindu memang belum punya pura di Australia. Namun demikian, pihaknya merasa sangat beruntung karema punya teman-teman yang bisa membantu untuk melaksanakan upacara ritual. Teman-teman dimaksud termasuk warga Australia.

Sementara itu, salah seorang bule perempuan Australia, Jane Ahlstrand, memaparkan pihaknya selama seminggu membantu persiapkan kelengkapan sesaji untuk perayaan Kuningan krama Bali di Brisebane. Khusus untuk tempat perayaan, krama Bali sudah booking (pesan) tempat kepada Pemerintah Kota Gold Coast sejak sebulan sebelum hari H. 

Jane Ahlstrand menceritakan, dalam pembuatan sesaji, mereka kesulitan mendapatkan bahan baku berupa gedebong (batang pisang) untuk rangka gebogan (susunan buah-buahan) dan busung (janur). “Tapi, warga di sini sudah tahu beberapa tempat untuk mendapatkan bahan-bahan sesaji,” tutur Jane Ahlstrand, Minggu kemarin.

Menurut Jane, iklim di Bali dengan Australia tidak jauh beda, sehingga mudah mendapatkan bunga jepun di Negeri Kanguru. Jane sendiri bisa membantu persiapan upacara Kuningan dan ikut pentas tari Bali, karena dia pernah belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Dalam membuat sesaji, kata Jane, mereka dibantu oleh krama Bali yang kawin dan tinggal di Australia. “Mereka dengan senang hati membantu membuatkan sesaji untuk Hari Raya Galungan dan Kuningan,” tandas Jane.

Jane sendiri saat ini dikenal sebagai pelatih Tari Bali di Asuralia. Ilmunya itu diperoleh Janse saat kuliah di ISI Denpasar. Selain itu, Jane juga pernah belajar tari di Sanggar Tari Lokananta, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar. “Dulunya saya malu-malu. Tapi, karena niat belajar menari Bali begitu kuat, saya akhirnya bisa. Sekarang saya jadi pelatih tari di Australia sambil menjadi asisten dosen. Saya tengah menyelesaikan tesis S3,” beber Jane. 

(NusaBali)

Related

Seputar Bali 7474909505160211215

Post a Comment

item