Hasil Karyanya Merambah Lombok


www.nusabali.com-hasil-karyanya-merambah-lombok

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Krama yang yang datang padanya ada nangiang (membuat barong baru), ngodakin (mengecat ulang), dan ngamecikang (memperbaiki).
Meski usianya sudah sepuh, Anak Agung Ketut Oka Hartawan, 70, tetap berkarya membuat barong. Semangat berkarya terus membara karena pekerjaannya diapresiasi masyarakat. Apalagi barong maupun pratima yang ia kerjakan menjadi benda sakral, sungsungan umat. 

Dedikasinya dalam berkarya mendapat anugerah dari Pemrop Bali berupa penghargaan seni Dharma Kusuma. Sementara Pemkab Bangli memberikan penghargaan seni Wija Kusuma kepada seniman asal Puri Kawan Bangli ini. Penghargaan Dharma Kusuma diterimanya dari Gubernur Dewa Made Beratha. Sedang penghargaan Wija Kusuma diterima dari Bupati Bangli I Nengah Arnawa.

Agung Oka Hartawan mengaku sebagai ‘undagi  barong’ secara kebetulan. Dia tak pernah mengecap sekolah seni. Ia belajar pada lingkungan. Pamannya, Anak Agung Anom Rai merupakan sangging barong kondang dan mataksu. Krama dari berbagai desa di Bangli dan luar Bangli banyak ke Puri Denpasar, Bangli meminta dibuatkan barong sungsungan.Tentu saja permohonan krama dipenuhi oleh Agung Anom Rai. “Ngayah kepada krama merupakan swadharma,” ucap Agung Hartawan kepada NusaBali, belum lama ini. 

Hampir setiap hari pamannya, Anak Agung Anom Rai meladeni krama membuat barong, secara tidak langsung Agung Oka Hartawan belajar otodidak. Ia memperhatikan dengan seksama roses barong dikerjakan. Diawal imemotong kayu (kayu pule), merancang bakalan, memahat, ngalusin, hinggga memulas dan seterusnya sampai ngatep. “Saya awalnya diminta bantu-bantu, mungkin karena dianggap berbakat,” kenang Agung Oka Hartawan. Dari membantu yang ringan-ringan, dia belajar merancang dan merampungkan barong. Mulai dari barong ketet/ket, barong macan, barong celeng, dan rangda. Juga membuat arca dan pratima. 

Proses nyantrik itu terus berlangsung di sela-sela pekerjaannya sehari-hari sebagai PNS. Sampai suatu siang di tahun 1972, Agung Oka Hartawan tidak ingat hari, tanggal dan bulannya. Ketika itu dia datang ke Puri Denpasar, menemui pamannya yang sibuk menggarap barong. Agung Oka Hartawan, masih ingat pamannya menggarap barong macan, rangda, dan raksasa. Barong macan berikut rangda dan tapel raksasa merupakan permintaan krama.

Sambil sibuk dengan pahat dan pengotok, Anak Agung Anom Rai memanggil Agung Oka Hartawan. Dia kemudian diminta duduk. “Ning, Ajung suba tua jani (Nak, Paman sekarang sudah tua),” ucap Gung Oka Hartawan mengenang perkataan pamannya. “Ajung suba sing nyidang magae, cening ngelanjutang gae ne nyen (Paman sudah tidak mampu lagi kerja, tolong ananda melanjutkan pekerjaan ini,” lanjutnya menirukan pamannya. 

Agung Oka Hartawan yang diminta melanjutkan ‘ngayah’ meladeni krama yang meminta dibuatkan barong, pratima maupun barang sakral untuk kepentingan upacara keagamaan pun bersedia melanjutkan pesan pamannya. Tiga tahun berselang, yakni tahun 1975 setelah memberi ‘wasiat’, Agung Anom Rai berpulang. Sejak itu pula, Agung Oka Hartawan melanjutkan tradisi ngayah membuat barong. “Otomatis karena paman sudah tidak ada, warga akhirnya datang ke tiang,” ujarnya.

Sebagaimana, mendiang Anak Agung Anom Rai, Agung Oka Hartawan didatangi warga berkaitan dengan barong. Sebagian besar barong sesuhunan/sungsungan. Ada yang nangiang (membuat barong baru), ada yang ngodakin (mengecat ulang), ngamecikang (memperbaiki) dan lainnya. “Kadang krama yang datang, atau tyang yang diminta datang ke desa atau pura tempat pembuatan barong,” ungkapnya. Mendatangi atau didatangi, bagi Agung Oka Hartawan tak masalah. Karena baginya, keduanya ngayah dan mengabdi kepada krama.

Sampai sekarang, entah sudah berapa barong yang dibuatnya. Agung Oka Hartawan, mengaku tak pernah menghitungnya. “Inilah yang tiang takutkan, biar tak salah sebut,” katanya. Yang jelas,  warga dari banyak tempat datang menemuinya untuk urusan barong. Bukan saja warga dari desa-desa adat/pakraman di Bangli, tidak sedikit yang datang dari luar Bangli. Termasuk barong sungsungan krama dari Lombok. “Di Lombok itu barong ket,” ungkap Agung Oka Hartawan.

Meski semakin berumur, Agung Oka Hartawan masih semangat berkarya. Kesehariannya berkutat dengan kayu, cat, pahat, belulang, dan material bahan barong. “Sekarang sedang menggarap barong ket,” ungkapnya sambil menunjukkan bakalan barong ket dari salah satu banjar adat di Kecamatan Tembuku, Bangli. Jika jenuh bekerja, ayah tiga anak ini akan keluar puri sekadar cari suasana baru agar segar kembali. Setelah refresh, suami Anak Ayu Muter Kartini ini kembali berkutat dengan pahat dan kayu, walau kadang harus begadang.  “Syukur masih bisa ngayah untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya. 

(NusaBali)

Related

Berita Ekonomi 2987866406777775144

Post a Comment

item