Setelah Dapat Penghargaan Berkat Tong Sampah Inovatif


www.nusabali.com-setelah-dapat-penghargaan-berkat-tong-sampah-inovatif

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Dua siswa SMAN Bali Mandara, Buleleng kembali mendulang prestasi membanggakan di bidang penelitian. Mereka adalah I Gede Herry Arun Wijaya, 18, dan Ni Putu Gita Naraswati, 18, yang berhasil menyabet Special Award dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berkat penemuan tong sampah inovatif yang diberi nama ‘Smart Trash Can’. Sayangnya, kedua siswa berprestasi ini terancam gagal berangkat lomba ke Jepang karena kesulitan biaya.

Baik Gede Herry Arun Wijaya maupun Putu Gita Naraswati baru menyelesaikan pendidikan di SMAN Bali Mandara tahun ajaran 2016/2017. Kedua siswa jebolan Kelas XII IPA SMAN Bali Mandara ini merancang sebuah tekonologi tepat guna berupa tong smapah inovatif, yang diberi nama Smart Trash Can, sejak akhir Desember 2015 silam. Hasil karyanya kemudian mendapat hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM per tanggal 18 November 2016.

Dengan memadu-padankan ilmu yang dimilikinya, tong sampah buatan dua siswa SMAN Bali Mandara ini mampu mendeteksi empat jenis sampah berbeda: organik, plastik, kaca, besi. Jadi, dengan tong sampah inovatif ciptaan Gede Herry Arun dan Gita Naraswari, masyarakat tidak perlu susah-susah untuk memilah sampah. Tong sampah yang dilengkapi dengan sensor ini dapat mendeteksi dan membuka sendiri tutup tong sampah, disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dibuang. 

Menurut Gede Herry, dengan teknologi inovatif yang diciptakannya, masyarakat terbantu untuk memilah sampah secara otomatis. “Kami sediakan empat tong sampah yang diperuntukkan buat sampah organik, plastik, kaca, dan besi. Nah, sensor yang ada di depan tong sampah otomatis akan mendeteksi jenis sampah yang dibuang. Tong yang terdeteksi akan membuka sendiri tutupnya. Jadi, pengguna tidak usah susah-susah lagi memilah dan melihat tong smapah mana yang akan dibuka,” ujar Gede Herry menjelaskan mekanisme kerja dari hasil temuannya saat ditemui NusaBali di SMAN Bali Mandara, Desa/Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, beberapa hari lalu.

Menurut Gede Herry, idenya untuk membuat tong sampah inovatif bermula saat dia mendapatkan inspirasi di tempat keramaian yang penuh dengan sampah. Beberapa warga masyarakat memang sudah memiliki kesadaran membuang sampah di tempatnya, namun belum terbiasa membuang sampah di tong yang sudah disediakan sesuai pengelompokan jenis sampahnya. Ketika berkunjung ke Tempat Pembu-angan Akhir (TPA) di Bueleng, Gede Herry juga masih melihat banyak sampah yang tercampur, sehingga memerlukan waktu untuk memilahnya dan mendaur ulang. 

Berangkat dari situ, Gede Herry bersama Putu Gita Naraswati tergerak untuk menciptakan tong sampah inovatif, yang diberi nama Smart Trash Can. Tong sampah inovatif ini mereka buat melalui proses yang sangat panjang. Bahkan, mereka sempat gagal beberapa kali, terutama dalam menentukan besaran kapasitas masing-masing sampah di dalam sensor yang terbuat dari dua plat besi sejajar.

Sampai akhirnya mereka melengkapi tong sampah inovatif tersebut dengan micro crontroler sensor dan dua plat besi aluminium yang menerima nilai kapsitas sampah. “Nah, nilai yang terdeteksi inilah kemudian diolah oleh micro controler untuk membuka tutup tong secara otomatis, sesuai dengan jenis sampah yang akan dibuang,” kenang peneliti muda kelahiran 2 Juni 1999 asal Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kota Singaraja, Kecamatan Buleleng ini.

Kerja keras Gede Herry dan Gita Nariswati yang didampingi guru pembina, pun membuahkan hasil. Semula tong sampah ini hanya diperuntukkan buat sampah organik dan non organik. Setelah mendapatkan predikat jawara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) salah satu perguruan tinggi swasta di Denpasar, tong sampah inovatif karya dua siswa SMAN Bali Mandara ini kemudian diperbaharui dengan empat tong untuk empat jenis sampah berbeda.

Pada akhirnya, hasil penelitian tong sampah inovatif ini diikutkan dalam lomba hasil penelitian yang diselenggarakan LIPI. Dari 700 peserta lomba asal berbagai kawasan se-Indonesia, karya Tim SMAN Bali Mandara masuk 30 besar di babak penyisihan. Kemudian, 30 peserta (tim) ini dipanggil kembali untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Mereka pun dianugerahi Special Award dari LIPI dan ditetapkan sebagai wakil Indonesia ke jenjang Internasional yang akan berlangsung di Jepang, Juni 2017 mendatang.

Sayangnya, perjuangan duet Gede Herry dan Gita Naraswati terancam sia-sia alias gagal berangkat ke Jepang, lantaran tidak ada biaya. Masalahnya, pihak LIPI tidak menanggung biaya, meskipun mereka berangkat ke Jepang untuk mewakili Indonesia dalam lomba tingkat internasioal tersebut. Pembiayaan diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. 

Gede Herrry dan Gita Naraswati (siswi berprestasi kelahiran 22 Oktober 1999 asal Banjar Pesangkan, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem) mengaku degdegan menunggu kabar apakah mereka akan mendapatkan sponsor berangkat lomba ke Jepang atau tidak. Padahal, untuk menjadi yang terbaik di ajang internasional, mereka sudah menyiapkan penyempurnaan tong sampah inovatif Smart Trash Can hasil ciptaannya tersebut.

Sementara itu, Kepala Sekolah (Kasek) SMAN Bali Mandara, Drs I Nyoman Darta MPd, mengatakan pihaknya sejauh ini masih menunggu sponsor untuk memberangkatkan Gede Herry Arun Wijaya dan Ni Putu Gita Naraswati ke Jepang. Sebab, pihak sekolah sama sekali tidak menganggarkan keberangkatan siswanya mengikuti lomba ke luar negeri, apalagi biayanya cukup mahal. “Mudah-mudahan, ada pihak yang membantu anak didik kami, sehingga bisa tampilkan hasil penelitian me-reka di Jepang,” papar Kasek Nyoman Darta kepada NusaBali.

Nyoman Darta menyebutkan, setelah dinyatakan meraih Special Award dari LIPI, tong sampah inovatif Smart Trash Can hasil karya dua siswa SMAN Bali Mandara tersebut sudah memiliki hak cipta per 18 November 2016. Hak cipta dengan nomor seri L00201604737 ini diberikan Kementerian Hukum dan HAM. 

Dengan label hak cipta ini, kata Nyoman Darta, pihaknya berharap ke depannya ada kalangan swasta yang mau bekerjasama dengan SMAN Bali Mandara untuk menggandakan hasil penelitian siswanya. “Sehingga, ada royalti untuk mereka (Gede Herry dan Gita Naraswati) yang dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan perekonomiannya,” jelas mantan Kasek SMAN 1 Singaraja ini. 

(NusaBali)

Related

Seputar Bali 2272242316567779904

Post a Comment

item