Jelang Protes, Pemimpin Oposisi Rusia Diciduk Aparat


Ratusan Demonstran Tuntut PM dan Presiden Rusia Mundur Ditangkap

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Pemimpin kubu oposisi pemerintah Rusia, Alexei Navalny, kembali ditangkap oleh aparat penegak hukum.

Namun, proses penangkapan Navalny dilakukan dalam kondisi yang cukup absurd, yakni sebelum dirinya memimpin aksi protes di Moskow pada 12 Juni 2017.

Alexei Navalny berencana akan melaksanakan aksi protes terhadap pemerintah Rusia di Moskow pada 12 Juni 2017. Aksi protes itu menuntut agar sejumlah pejabat tinggi Negeri Beruang Merah yang diduga kuat terlibat dalam skandal politik dan korupsi, segera lengser dari kursi pemerintahan. Aksi serupa direncanakan turut dilakukan di wilayah lain di Rusia, yakni Vladivostok dan Khabarovsk.

Menurut keterangan sang istri, Yulia Navalny, suaminya ditangkap di kediamannya sekitar 30 menit sebelum demonstrasi di Moskow terlaksana, demikian seperti yang dikutip dari Associated Press, Senin (12/6/2017).
Meski otoritas Moskow telah memberikan izin pelaksanaan demonstrasi di Sakharova Avenue, namun Alexei Navalny meminta pemindahan lokasi aksi ke Tverskaya Street, sebuah jalan raya di Ibu Kota Rusia.
Pemindahan itu dilakukan setelah tim peninjau lokasi demonstrasi menilai bahwa tempat aksi protes yang disetujui oleh otoritas kota telah 'diganggu oleh pejabat pemerintah Rusia'.

Namun di saat yang sama, Tverskaya Street akan ditutup dan dialihfungsikan sebagai salah satu lokasi perayaan Russia Day, sebuah hari raya tahunan yang memperingati Declaration of State Sovereignty of the Russian Soviet Federative Socialist Republic, penanda reformasi konstitusional di Uni Soviet (yang kemudian pecah, salah satunya menjadi Rusia) pada 12 Juni 1990.

Pada hari raya itu, masyarakat Rusia akan melakukan parade mengenakan pakaian tradisional dan diiringi sejumlah pameran replika alutsista Negeri Beruang Merah.

Setelah perubahan lokasi tersebut, kepolisian Moskow mengimbau para peserta demonstran bahwa 'setiap aksi provokatif akan dianggap sebagai ancaman terhadap ketertiban publik dan akan segera ditindak'.

Penangkapan Navalny oleh aparat diduga kuat berkaitan dengan rencana pemindahan lokasi demonstrasi dari Sakharova Avenue ke Tverskaya Street.

Selain itu, penangkapan sejumlah demonstran turut dilakukan di lokasi aksi protes lain. Di Vladivostok, menurut Associated Press, 11 orang yang diduga bertendensi melakukan provokasi, ditangkap oleh kepolisian pada 12 Juni 2017.

Pada Maret 2017 lalu, Navalny turut menyelenggarakan aksi protes serupa di Moskow yang diikuti oleh sekitar ribuan peserta. Mereka memprotes dugaan korupsi yang dilakukan Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev. Tak hanya itu, para demonstran juga menuntut Presiden Rusia Vladimir Putin mundur. Mereka menganggapnya "satu paket" dengan PM Medvedev.

Namun, unjuk rasa yang digelar pada Minggu, 26 Maret 2017 itu berakhir dengan penangkapan ratusan pendemo. Setidaknya ada 500 hingga 1.000 orang ditangkap di Moskow dan sejumlah kota.
Sejumlah TV di Rusia memperlihatkan gambar-gambar demonstran berteriak, "turunkan Putin!" "Putin pencuri," dan "Rusia tanpa Putin."

Menurut sejumlah koresponden media asing, demonstrasi anti-pemerintah ini terbesar di Rusia mengalahkan unjuk rasa serupa pada 2011-2012 atau yang dikenal dengan Snow Revolution. Saat itu warga Rusia menolak hasil pemilu pemilihan anggota legislatif.

(Liputan6)

Related

Dunia 6410104087373251433

Post a Comment

item