Berbahan Batu Andesit, Dikubur Warga karena Takut


www.nusabali.com-berbahan-batu-andesit-dikubur-warga-karena-takut

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Sepasang batu Lingga Yoni kembali ditemukan di Banjar Tibah, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Benda bersejarah kali ini ditemukan di kebun milik keluarga I Gusti Ngurah Rai, warga asal Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng. Lingga Yoni yang terbuat dari batu andesit ini sempat dikibur warga, karena ketakutan saat menemukannya.

Lingga Yoni kedua ini di Banjar Tibah, Desa Bengkala ini sudah ditemukan sekitar 2 tahun silam, namun baru terungkap ke publik, Minggu (6/8). Lingga Yoni yang ditemukan ini berbeda dengan sepasang Lingga Yoni yang sebelumnya ditemukan di lahan milik Made Suyasa di Desa Bengkala, 7 tahun lalu. Lingga Yoni yang baru ditemukan kemarin berukuran lebih besar dan memiliki dasaran berbentuk persegi ukuran 66 cm x 66 cm. Sedangkan Lingga Yoni yang terletak di atasnya belum da-pat diukur, karena sebagian masih tertimbun tanah.

Adalah I Wayan Sutara, seorang warga Banjuar Tibah, Desa Bengkala yang pertama kali mengetahui keberadaan Lingga Yoni di kebun milik I Gusti Ngurah Rai, 2 tahun lalu. Kebetulan, Wayan Sutara bekerja sbagai penyakap tanah di sana.

Menurut Sekretaris Desa Pakraman Bengkala, I Ketut Darpa, ketika itu Wayan Sutara mendapat job untuk bekerja mengolah dan menjaga (seba-gai penyakap) lahan milik Gusti Ngurah Rai. Nah, saat membersihkan kebun, Wayan Sutara tiba-tiba menemukan Lingga Yoni. Namun, karena takut, Lingga Yoni yang ditemukan itu langsung dikubur Sutara dengan ditimun tanah dan ranting-ranting pohon.

Belakangan, Made Suyasa, warga Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan yang notabene mantan Camat Buleleng, menyerahkan Lingga Yoni temuan pertama 7 tahun silam ke pihak Desa Pakraman Bengkala, 23 Juli 2017. Nah, setelah Made Suyasa kembalikan Lingga Yoni karena sempat didera sederet musibah, barulah Sutara berani buka mulut soal Lingga Yoni yang ditemukan di kebun milik I Gusti Ngurah Rai. 

“Awalnya, Lingga Yoni ini disembunyikan, karena Wayan Sutara ketakutan. Tapi, selama disembunyikan (ditimbun) dalam tanah, Lingga Yoni tersebut tetap diberi haturan banten saat dia ke kebun. Info ini baru kami dapatkan kemarin (Sabtu), dikasi tahu langsung oleh Wayan Sutara,” ungkap Ketut Darpa kepada NusaBali, Minggu kemarin.

Ketut Darpa mengatakan, begitu mendapat informasi tersebut dari Sutara, pihaknya langsung berkoordinasi dan melakukan peninjauan dengan petugas Balai Arkeologi Denpasar yang kebetulan terjun ke lokasi, Sabtu (5/8) lalu. Menurut Ketut Darpa, pihaknya segera akan berkoordinasi dengan pemilik lahan di mana Lingga Yoni terkubur, I Gusti Ngurah Rai, agar tidak terjadi ketersinggungan.

Bukan hanya itu, Desa Pakraman Bengkala juga akan menggelar paruman (rapat adat) untuk menentukan langkah lebih lanjut terkait temuan Lingga Yoni kedua di Banjuar Tibah, Desa Bengkala ini. “Kalau nanti diizinkan, kami bersama Balai Arkeologi akan melakukan penggalian Lingga Yoni. Sebab, di bawahnya diduga masih ada batu bersejarah dan bangunan pemujaan lainnya,” jelas Ketut Darpa.

Sementara itu, Kepala Balai Arkeologi Denpasar, I Gusti Made Suarbawa, mengatakan dari peninjauan awal, Lingga Yoni yang baru ditemukan di kebun milik keluarga I Gusti Ngurah Rai ini memiliki ukuran lebih besar dari yang ditemukan pertama di lahan milik Made Suyasa. Lingga Yoni kedua ini dipastikan merupakan salah satu sarana pemujaan di zaman pra Hindu-Budha. 

Menurut IGM Suarbawa, Lingga Yoni yang terbuat dari batu andesit ini terbilang spesial. Sebab, dari temuan benda serupa di Jawa maupun tempat lainnya di Bali, sangat jarang ada Lingga Yoni berhaban batu andesit. Yang ditemukan selama ini, kebanyakan terbuat dari batu tupa.

“Ukuran dasarnya juga cukup besar, 66 cm x 66 cm. Tapi, untuk Lingga Yoni belum dapat kami ukur, karena sebagian masih tertanam di dalam tanah. Untuk Yoni-nya sendiri menyatu dengan dasaran di bawahnya yang berbentuk persegi. Kemungkinan di sekitaran tempat itu ada benda-benda pemujaan lainnya,” tandas IGM Suarbawa yang dikonfirmasi NusaBali terpisah, Minggu kemarin.

Suarbawa menegaskan, Lingga Yoni kuran besar yang ditemukan di kebun kawasan Banjar Tibah, Desa Bengaka ini belum dapat dipastikan fungsinya, apakah digunakan untuk pemujaan massal atau tidak? Hanya saja, benda bersejarah tersebut diyakini sebagai benda keagamaan bagi penganut paham Siwaistis. “Kami masih menunggu koordinasi lanjutan dari warga setempat, yang jelas ini tetap menjadi bahan kajian kami di Balai Arkelologi Denpasar, sebagai temuan baru,” kata Suarbawa.

Sebelumnya, sepasang Lingga Yoni sudah lebih dulu ditemukan di lahan milik keluarga Made Suyasa di Desa Bengkala, 7 tahun silam. Yang pertama ditemukan Made Suraya--- mantan Camat Buleleng yang kini menjabat Sekretaris Perpustakaan Daerah Buleleng---adalah batu berbentuk yoni (simbol perempuan). Batu berwarna abu-abu ini ditemukan terserak di atas permukaan tanah di bawah pohon Mangga. Sedangkan batu berbentuk lonjong yang disebut lingga (simbol lelaki) ditemukan dalam jarak 10 meter dari posisi yono. Batu berbentuk lonjong yang juga warna abu-abu ini memiliki panjang 10 cm dan diameter sekitar 5 cm.

Oleh Made Suyasa, sepasang Lingga Yoni itu kemudian dibawa pulang ke rumahnya di Kota Singaraja dan ditempatkan di Palinggih Surya dalam merajan (pura keluarga)-nya. Sejak simpan Lingga Yoni, Suyasa mengalami berbagai masalah, di mana usaha bisnisnya bangkrut, sempat kecelakaan lalulintas, kariernya di birokrasi pun anjlok.

Hingga akhirnya suatu ketika bathin Suyasa mendapatkan petunjuk untuk mengembalikan batu berbentuk Lingga Yoni tersebut ke tempat asalnya di Desa Bengkala. Pada akhirnya, Lingga Yoni tersebut dikembalikan melalui prosei ritual kepada Desa Pakraman Bengkala pada Saniscara Pon Ugu, Sabtu, 23 Juli 2017.

(NusaBali)

Related

Seputar Bali 4174397662520914444

Post a Comment

item