Nekad Uji Coba Rudal, PBB Jatuhkan Sanksi Paling Keras untuk Korut


Nekad Uji Coba Rudal, PBB Jatuhkan Sanksi Paling Keras  untuk Korut

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali -  Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa ( DK PBB) menyepakati sanksi baru terhadap Korea Utara( Korut) terkait program-program rudal negeri itu.
Dalam sidangnya, dengan suara bulat para anggota DK PBBmenyetujui sebuah resolusi yang melarang ekspor Korut dan membatasi investasi di negara tersebut.
Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan bahwa ini adalah "sanksi paling keras terhadap suatu negara dalam satu generasi," demikian dilaporkan BBC, Minggu (6/82017).
Korut menguji dua rudal balistik antarbenua pada Juli 2017, kemudian menyatakan bahwa sekarang mereka memiliki kemampuan untuk menyerang wilayah manapun di AS.
Namun, para ahli meragukan kemampuan rudal-rudal Korut untuk mencapai target mereka secara tepat.
Uji coba itu dikutuk oleh Korea Selatan ( Korsel), Jepang dan Amerika Serikat (AS), dan mendorong disusunnya sanksi terbaru PBB ini.
Diperkirakan, Korut mendapatkan sekitar 3 miliar dollar AS pendapatan setiap tahun dari ekspor batubara, bijih besi dan bahan mentah lainnya ke China – dan sanksi ini dapat menghilangkan sepertiga dari perdagangan yang merupakan satu dari setikit sumber pemasukan Korut.
Awal tahun ini, China menghentikan impor batubara untuk meningkatkan tekanan pada Pyongyang.
Namun, sanksi berulang sejauh ini selalu gagal untuk mencegah Korut melanjutkan pembangunan rudalnya.
China, satu-satunya sekutu internasional Korut dan anggota DK PBByang memegang hak veto, kali ini mendukung resolusi tersebut.
Sebelumnya, China sering kali melindungi Pyongyang dari resolusi yang berdampak buruk terhadap Korut.
Duta Besar AS Nikki Haley imengatakan DK telah meningkatkan hukuman atas aktivitas rudal balistik Korut "ke suatu tingkat yang sangat lain."
"Hari ini DK telah berkumpul untuk memperingatkan diktator Korut," kata Haley di DK PBB setelah pemungutan suara.
"Tindakan Korea Utara yang serampangan dan tidak bertanggung jawab terbukti merupakan hal yang mahal bagi rezim tersebut," katanya sambil juga memuji sikap China.
Duta Besar China, Liu Jieyi, mengatakan bahwa resolusi tersebut menunjukkan bahwa dunia "bersatu dalam sikapnya mengenai nuklir di semenanjung Korea".
Dia menyambut baik pernyataan Menlu AS sebelumnya bahwa AS tidak bermaksud mengupayakan perubahan rezim atau memprioritaskan penyatuan kembali Korea.
Tapi -bersama duta besar Rusia- dia mengecam penempatan sistem rudal THAAD di Korsel, dan menyerukan agar hal itu dihentikan.
Pertemuan Utara-Selatan?
Uji coba rudal dan senjata nuklir negara yang dikucilkan dunia itu dikecam oleh negara-negara tetangga di wilayah tersebut.
Namun Korsel mengatakan bahwa pihaknya mungkin akan mengadakan pembicaraan langsung dengan Korut dalam sebuah pertemuan regional akhir pekan ini.
Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung-wha mengatakan bahwa dia bersedia untuk berbicara dengan mitranya dari Pyongyang, jika muncul kesempatan 'secara alami.'
Para menteri luar negeri dari Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) bertemu di Manila Filipina, akhir pekan ini.
Kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan 'ada kemungkinan' Kang Kyung akan bertemu dengan mitranya dari Korut,  Ri Yong Ho di sela-sela forum tersebut.
"Jika ada kesempatan yang munvul secara alami, kami harus berbicara," kata Kang.
"Saya ingin menyampaikan keinginan kami kepada Korut untuk menghentikan provokasinya dan menanggapi secara positif ajakan khusus baru-baru ini (untuk melangsungkan pembicaraan) yang bertujuan untuk membangun sebuah perdamaian."
Sekretaris Negara AS Rex Tillerson juga akan menghadiri perundingan akhir pekan ini, yang dijadwalkan akan menjadikan program nuklir Korut sebagai topik utama.
Saat pertemuan dimulai, anggota-anggota ASEAN mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang mengatakan bahwa mereka memiliki 'keprihatinan yang mendalam' atas tindakan Korut, yang 'secara serius mengancam perdamaian.'
(TribunNews)

Related

Dunia 8244664907557633510

Post a Comment

item