China siap salip Amerika jadi negara pendonor bantuan terbesar di dunia



Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bantuan luar negeri akan mengalami pemotongan besar-besaran. Kamis lalu Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan akan mundur dari badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan pendidikan dan kebudayaan, UNESCO karena alasan organisasi itu bias anti-Israel. AS akan menarik diri dari UNESCO per 31 Desember.

"Keputusan ini tidak diambil dengan mudah dan menunjukkan keprihatinan AS atas banyaknya tunggakan di UNESCO dan perlunya reformasi mendasar serta bias anti-Israel yang kerap terjadi di UNESCO," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri, seperti dilansir laman Russia Today, Kamis (12/10). 

AS menyumbang dana sebesar USD 80 juta (setara Rp 1 triliun) saban tahun kepada UNESCO atau sekitar seperlima dari anggaran lembaga yang didirikan pada 1945 itu. Presiden Trump secara umum pernah mengeluhkan besarnya biaya yang disumbangkan AS untuk lembaga PBB seperti UNESCO.

Seiring AS yang mengurangi bantuan luar negeri, laporan dari AidData mengungkapkan China bersiap menyalip AS menjadi negara pendonor terbesar di dunia bagi negara berkembang.

"Jika AS menarik diri, China sudah siap untuk menggantikan perannya sebagai pendonor dan pemberi pinjaman bagi negara berkembang," ujar Samantha Custer, direktur analisis kebijakan AidData, seperti dilansir laman CNN, Ahad (15/10).

Bantuan dana cukup besar dari China mengalir ke negara-negara Afrika. Dari 10 proyek bantuan China terbesar, tujuh di antaranya untuk negara-negara Afrika. China memiliki 704 proyek bantuan. Angola dan Ethiopia menjadi negara penerima bantuan China terbesar pada periode 2000-2014 dengan angka mencapai USD 32 miliar atau Rp 430 triliun.

"Pemerintah China sebenarnya menilai program bantuan luar negeri ini adalah termasuk rahasia negara," kata Direktur Eksekutif AidData kepada CNN.

Menurut AidData, bantuan dari Negeri Tirai Bambu diperkirakan lebih besar dari yang diperkirakan.

Sejak 2000 hingga 2014, China mendanai 4.300 proyek di 140 negara. Angkanya mencapai USD 354 miliar. Total bantuan luar negeri AS di periode yang sama mencapai USD 394 miliar, lebih besar sedikit dari China. Dari periode 15 tahun itu ada lima tahun bantuan luar negeri China yang sudah menyalip AS.

Xiaojun Li, profesor politik di Universitas British Columbia, menilai bantuan China untuk negara Afrika lebih diminati negara penerima ketimbang bantuan dari negara Barat.

"Bantuan China dipandang lebih menarik bagi negara penerima karena tidak ada agenda politik dan kerap dibelanjakan lebih cepat dan efisien ketimbang bantuan dari negara Barat," kata Li.

(Merdeka.com)

Related

Dunia 7610546279499148887

Post a Comment

item