Ini Dia, Dua Skenario Erupsi Gunung Agung


www.nusabali.com-ini-dia-dua-skenario-erupsi-gunung-agung

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan ada dua skenario erupsi Gunung Agung.

Skenario pertama, magma yang naik ke permukaan lajunya melemah, karena kehilangan energi akibat gas magmatik semakin berkurang. Skenario kedua, terjadi penyumbatan pipa magma. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan dua skenario erupsi Gunung Agung tersebut merupakan hasil pemantauan dan analisis yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM. 

"Skenario pertama, magma yang naik ke permukaan lajunya melemah karena kehilangan energi akibat gas magmatik semakin berkurang pasca erupsi kemarin dan pada akhirnya habis," ujar Sutopo dilansir CNN Indonesia di Graha BNPB Jakarta, Selasa (5/12). Jika yang terjadi adalah skenario pertama, maka potensi erupsi Gunung Agung akan terus berkurang, bahkan mungkin tidak teramati. Nantinya, erupsi baru akan terjadi lagi dengan catatan muncul magma baru di dalam Gunung Agung.

Sedangkan skenario kedua, kata Sutopo, terjadi penyumbatan pada pipa magma. Itu terjadi karena fluida magma yang bergerak ke permukaan terhalang lava di permukaan yang mendingin dan mengeras. Jika yang terjadi adalah skenario kedua, maka potensi erupsi Gunung Agung akan meningkat, karena terjadinya peningkatan akumulasi tekanan magma dari bawah. 

"Pada waktu tertentu, ketika lava yang menutupi keluarnya magma tadi kekuatannya lebih rendah dari tekanan yang diakumulasi di bawahnya, maka erupsi dapat terjadi," tutur Sutopo.

Menurut Sutopo, saat bencana Gunung Agung meletus tahun 1963, yang terjadi adalah erupsi skenario kedua. Kala itu, Gunung Agung sempat dalam fase 'istirahat' selama dua minggu, sebelum akhirnya meletus dengan ketinggian lontaran material vulkanik mencapai 23 kilometer.

Lamanya fase istirahat Gunung Agung, kata Sutopo, juga akan mempengaruhi kekuatan erupsi. Jika fase istirahat lama, maka erupsinya mungkin akan lebih eksplosif dari sebelumnya. "Jika masa tenangnya pendek, maka kemungkinan akumulasi tekanan tidak besar, erupsi terjadi dengan eksplosivitas mirip erupsi kemarin atau lebih rendah dari letusan tahun 1963," katanya.

Sutopo menjelaskan, dari pemantauan yang dilakukan PVMBG, emisi gas SO2 (Sulfur Dioksida) saat erupsi Gunung Agung pada 26-29 November 2017 mencapai 5.000 ton hingga 10.000 ton per hari. Namun, pada 30 November 2017, emisi gas SO2 tiba-tiba menurun 20 kali lipat dari sebelumnya. "Indikasi kemungkinan ada penyumbatan di bagian bawah," kata Sutopo.

Sedangkan dari pengamatan satelit saat erupsi 26-29 November 2017, diketahui pertumbuhan lava sekitar 100 meter dari lantai kawah. Kemudian, sejak 30 November 2017 hingga saat ini terus melambat dan hanya naik sekitar 10 meter. Menurut Sutopo, PVMBG masih terus melakukan pemantauan terhadap Gunung Agung untuk melihat skenario mana yang kemungkinan akan terjadi.

Namun, harapan semua pihak, Gunung Agung erupsi dengan skenario pertama, sehingga dampak letusannya tidak berkepanjangan dan pengungsi bisa kembali pulang ke desanya masing-masing. "Jalan yang kita harapkan kemungkinan pertama, erupsinya selesai, masyarakat bisa segara pulang dari pengungsian dan kembali beraktivitas normal."

Sementara itu, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana, mengatakan berdasarkan pantauan Geokimia, terekam gas SO2 yang keluar dari perut Gunung Agung rata-rata mencapai 1.300 ton per hari. “Selama ini, yang kita cium di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III umumnya H2S," jelas Devy Kamil dalam keterangan persnya di Pos Pengamatan Gunung Api Agung kawasan Banjar Dangin Pasar, Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem, Selasa kemarin.

Menurut Devy Kamil, gas yang keluar dari kawah Gunung Agung cenderung menurun, karena semakin berkurangnya tekanan dari bawah kantong magma. Sebab, bertambahnya beban di permukaan sehubungan mulai terkumpulnya lava di lantai kawah hingga mencapai 30 juta meter kubik. Pengisian lava di lantai kawah periode 30 Novemebr-5 Desember 2017 disebutkan mencapai 10 meter. Ini masih cukup jauh untuk memenuhi kubangan kawah berdiuameter 900 meter dengan ketinggian 120 meter.

Kendati aktivitas vulkanik Gunung Agung cenderung menurun, kata Devy, masih berpotensi melakukan erupsi ditandai keluarnya magma. Itu sebabnya, status awas  masih diberlakukan.

Pada bagian lain, Devy mengatakan, pengembungan (deformasi) Gunung Agung cen-derung berfluktuasi dan mengalami pengerutan (deflasi), akibat pertambahan beban yang ada di permukaan kawah atau berkurangnya tekanan dalam tubuh gunung. "Deflasi ini ukuran mikro radian, artinya ada fluktuasi yang belum stabil akibat isi perut Gunung Agung mengeluarkan gas dan lava," katanya.

Devy mengatakan, dari pantauan citra satelit, jumlah lava yang ada di dalam kawah Gunung Agung hampir 20 juta meter kubik yang tercatat 2-3 Desember 2017. "Diba-ndingkan saat kondisi Gunung Agung sebelum masuk fase krisis (overscale), justru terjadi inflasi (mengembang), akibat perut gunung berisi material magmatik," ujar Devy.

Devy membandingkan meletusnya Gunung Agung tahun 1963, akibat pertumbuhan lava yang sangat cepat mengisi penuh kawah sehingga keluar guguran lava dan awan panas sehari setelah erupsi. Namun, kondisi Gunung Agung sekarang justru sebaliknya. Setelah erupsi, justru terjadi perlambatan pergerakan lava untuk mengisi isi kawah. "Mungkin disebabkan kawah tahun 1963 tidak terlalu besar seperti saat ini, sehingga kami akan melakukan evaluasi akselarisasinya seperti apa." 

(NusaBali)

Related

Seputar Bali 3189229282997912576

Post a Comment

item