50 Ritel Bakal Tutup


www.nusabali.com-50-ritel-bakal-tutup

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Pengusaha memperkirakan akan ada 50 gerai ritel yang tutup tahun ini dengan tujuan mengubah format bisnisnya. Perubahan format bisnis yang dimaksud adalah dari ritel biasa menjadi ritel mixed-use atau campuran. Di dalamnya bakal banyak fasilitas mulai dari hiburan hingga kuliner.
 
Sarana hiburan ini biasanya meliputi bioskop dan area permainan. Sementara kuliner, ada semacam tempat makan dan minum. Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, konsep mixed use pada ritel merupakan tuntutan zaman, yang mana perilaku konsumen sudah berubah. Dengan konsep mixed use yang diusung oleh ritel diyakini mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

"Kalau konsep mixed use artinya peritel sudah coba mengikuti sesuai perkembangan zaman. Perkembangan zaman di mana sekarang masyarakat atau konsumen itu tidak hanya ingin belanja," katanya.
 
Kata Roy, sekarang ini masyarakat berkunjung ke tempat-tempat berbelanja bukan sekadar untuk membeli barang saja. Mereka ingin mendapatkan pengalaman lebih dengan mendatangi tempat berbelanja.

"Mereka ingin juga menikmati makan, minum atau kalau ada entertainment-nya mereka juga ajak anak mereka dikasih entertainment. Nah, jadi konsep mixed use itu adalah konsep terpadu sebenarnya yang berada pada satu kawasan atau satu lokasi," lanjutnya.

Dia menilai hal itu harus mulai dipertimbangkan oleh pelaku usaha ritel jika ingin tetap eksis saat ini. Sebagaimana diketahui tahun lalu banyak gerai ritel berguguran. 7-Eleven, Lotus, hingga Debenhams hengkang dari Indonesia. Ramayana dan Matahari juga menutup sejumlah gerainya.
 
Berapa modal yang dibutuhkan untuk ubah konsep tersebut? Modalnya cukup signifikan antara membangun ritel biasa yang sekadar untuk berbelanja barang dengan toko ritel mixed use. Bedanya bisa 3 kali lipat. "Katakanlah contohnya department store itu mungkin bisa sekitar angka Rp 30 an miliar untuk 1 toko. Kalau mixed use bisa 3 kalinya, atau 2-3 kalinya," sebutnya,  seperti dilansir detik Kamis (4/1).
 
Besarnya modal untuk membuat ritel berkonsep mixed use lantaran kebutuhannya lebih banyak, meliputi layanan hiburan hingga kuliner. "Karena kan kita mesti sediakan sarana dan prasarana juga kan. Jadi untuk pengadaan bioskopnya, tempat bioskopnya, tentu kan akan menyewa kan," papar Roy.
 
"Kan peritel ada yang memiliki perusahaan sinema, ada juga yang tidak memiliki perusahaan sinema kan. Jadi tentu kalau yang tidak punya harus menyiapkan saranannya kan untuk bioskop bisa masuk. Kemudian tempat bermain anak-anak ya. Jadi itu agak lumayan karena itu kan perlu di persiapkan," tambahnya. 

(NusaBali)

Related

Berita Ekonomi 3376225006308502598

Post a Comment

item