Berkat Aplikasi Video Call, Nyawa Wanita Pengidap Stroke Terselamatkan

Cara Rahasia Melacak Lokasi Pacar Diam-diam dengan Iphone

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Seorang wanita yang mengidap gejala stroke, terselamatkan nyawanya berkat aplikasi video call.
Opokua Kwapong, nama wanita itu, tinggal seorang diri di kota New York, Amerika Serikat (AS) ketika gejala stroke menyerang.
Dilansir dari BBC pada Kamis (22/2/2018), saat itu, Kwapong tengah mengobrol dengan adik perempuannya, Adumea Sapong, yang tinggal di Manchester, Inggris, via FaceTime.
Namun, sang adik melihat ada kejanggalan pada kakaknya, yakni terlihat agak pucat dan kerap melantur bicaranya.
Sang adik tahu kakaknya tidak sedang dalam keadaan mabuk, dan sangat mungkin gejala stroke yang diidapnya kambuh.
"Ia (Sapong) mengatakan bahwa wajah saya terlihat letih, dan kehilangan fokus saat mengobrol di video," ujar wanita berusia 58 itu.
"Saya tidak menggubris, meskipun kepala saya sedang agak pening saat itu."
Namun, desakan Sapong membuat Kwapong memutuskan bertanya ke salah seorang kerabatnya yang berprofesi sebagai dokter. Dalam percakapan video paralel tersebut, sang kerabat membenarkan kondisi kesehatan Kwapong terlihat sangat tidak fit.
Merasa khawatir akan kondisi kesehatannya, Kwapong pun menghubungi panggilan darurat setempat.
Beberapa saat kemudian, Kwapong dijemput oleh petugas medis untuk pemeriksaan di rumah sakit, dan mendapatkan kabar yang mengejutkan sekaligus menyedihkan tentang gejala stroke pada dirinya. 
Ia didiagnois mengalami pembekuan sel di hampir seluruh bagian kiri otaknya. Hal tersebut sangat berisiko menyebabkan lumpuh di bagian otak kiri, di mana hal itu akan memicu terjadinya koma, dan bahkan kematian.
"Hidup seorang diri di tengah padatnya kota New York tidak menjamin Anda akan selamat di berbagai kondisi," ujar Kwapong.
"Jika tidak berkomunikasi via FaceTime, saya tidak tahu akan seperti apa nasib saya saat ini."
Kwapong kini tengah menjalani terapi untuk menstimulasi ulang sel-sel di otak kirinya.
Meski hal itu tidak seratus persen menjamin kesembuhan, namun setidaknya bisa mengurangi efek terburuk yang menimpa pengidap gejala stroke seperti Kwapong.
Gejala stroke selalu bermula dari sebuah gangguan kesehatan yang disebut mini stroke.
Mereka yang terkena stroke ringan,  pada sembilan tahun pertama, diprediksi memiliki risiko harapan hidup lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalaminya.
Meski stroke ringan menyerang hanya dalam waktu yang relatif singkat, kondisi ini bisa secara mudah berujung pada stroke sebenarnya, sehingga berdampak permanen.
Kondisi yang lebih parah bisa terjadi jika gejala stroke ringan tersebut tidak terdeteksi. Hal ini, jika dibiarkan, akan berujung pada risiko komplikasi, seperti penglihatan yang kabur, gangguan kognitif dan demensia.
Orang-orang dengan kondisi tertentu wajib mewaspadai kemungkinan terkena stroke ringan. Mereka yang merokok, mempunyai tekanan darah tinggi atau hipertensi, dan berat badan berlebih memiliki risiko lebih besar terkena stroke ringan.
Selain itu, mereka yang memiliki kadar kolesterol tinggi atau mengonsumsi alkohol berlebih secara rutin juga lebih berisiko terkena stroke ringan.















sumber : liputan6.com

Related

Info Unik 2419469475692663844

Post a Comment

item