Tulis surat, Anas bantah susun skenario fitnah untuk SBY dari Sukamiskin

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa difitnah terlibat dalam pusaran kasus korupsi proyek KTP elektronik. Nama SBY muncul saat Mirwan Amir bersaksi di pengadilan. Mantan anggota Badan Anggaran itu mengaku sempat melaporkan kepada SBY bahwa proyek e-KTP bermasalah. Namun laporan itu tak digubris.
Merasa difitnah dan disudutkan, SBY melawan. Dia melaporkan pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya ke Bareskrim Polri. Dia menuduh Firman mencemarkan nama baiknya. Sebab, beredar kabar yang menyebutkan Firman ikut merancang isu yang menyudutkan SBY. Isu itu disebut-sebut dirancang di Lapas Sukamiskin bersama Anas Urbaningrum, Mirwan Amir, dan Saan Mustofa. Kabar adanya pertemuan di Sukamiskin disebarluaskan melalui pesan berantai.Anas Urbaningrum menitipkan surat pada orang kepercayaannya sejak masih di Partai Demokrat, Tridianto. Surat itu berisi beberapa poin. Intinya bantahan atas kabar yang menyebut ada pertemuan di Sukamiskin untuk merancang isu menyudutkan SBY."Iya benar surat Mas Anas," ujar Tri, Minggu (11/2).
Dari balik jeruji besi, Anas membantah semua tuduhan dan kabar yang beredar mengenai skenario dari Sukamiskin. "Awalnya saya geli dengar cerita ada tuduhan pertemuan di Sukamiskin untuk merancang fitnah kpd Pak SBY dan Mas Ibas. Tetapi karena menjadi berita luas, dagelan itu perlu diluruskan. Karena bisa menyesatkan," ujar Anas dalam surat yang ditulis tangan.Anas menegaskan tidak pernah ada pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh dia, Firman Wijaya, Mirwan Amir dan Saan Mustopa. Bahkan dia mengaku sama sekali tidak pernah berpikir untuk membuat pertemuan. Karena itu dia menyebut kabar yang beredar adalah hoax. Menurutnya, mudah untuk melihat apakah kabar itu hoax atau tidak yakni melihat bukti di CCTV atau buku tamu lapas Sukamiskin.Dia justru balik mempertanyakan kaitan antara penyebaran kabar hoax itu dengan pernyataan yang dilontarkan SBY sesaat sebelum melaporkan Firman ke Bareskrim. "Hoax juga disebarkan hampir bersamaan dgn narasi jihad untuk keadilan. Ada kontradiksi yg nyata di antara keduanya," ucapnya."Citra, kekuasaan, ketenaran dan kekayaan boleh dicapai. Tapi caranya tdk mesti dgn menista orang lain dgn hoax dan tuduhan konspirasi fitnah. Keadilan musti diperjuangkan dgn cara2 yg sejalan dgn makna keadilan itu sendiri," tambahnya. 






sumber : merdeka.com

Related

Indonesia 4225567028526663612

Post a Comment

item