Panglukatan Agung Gangga Pratista di Watu Klotok Dipuput 33 Sulinggih

www.nusabali.com-panglukatan-agung-gangga-pratista-di-watu-klotok-dipuput-33-sulinggih

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Ritual panglukatan yang digelar di jaba Pura Watu Kotok ini dipuput 33 sulinggih dari semua wangsa.Pantauan NusaBali, ribuan krama dan 33 sulinggih sudah kumpul di jaba Pura Watu Klotok, Minggu pagi sekitar pukul 08.00 Wita, untuk mengikuti ritual upacara ‘Panglukatan Agung Gangga Pratista, Agni Lingga Puja Amritha Sanjiwani Puja Penyengjeg Jagat, Prayascita Bumi, Dirgahayu Bumi’ yang diprakarsai Serati Yayasan Pramana Danghyang Subali, Griya Jro Taman Arum, Banjar Griya, Desa Malinggih, Kecamatan Payangan, Gianyar ini. Kegiatan ini dihadiri pula Ketua PHDI Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri, hingga Cawagub Bali I Ketut Sudikerta.

Ritual diawali dengan prosesi Tawur Alit lan Pacaruan Manca Sanak Manca Kelud. Kemudian, dilanjut pemujaan Gni Lingga dengan melaksanakan Agni Hotra, Puja Amerta Sanjiwani. Barulah setelah itu, ritual Pangluktan Agung Gangga Pratista dilakukan langsung oleh 33 sulinggih. Ribuan krama mengambil posisi malukat dari arah barat secara bergiliran. Setelah ritual Panglukatan Agung Gangga Pratista, sebanyak 50 krama mengikuti Pewintenan Dasa Bayu. 

Dalam ritual Panglukatan Agung Gangga Pratista kemarin pagi, 33 sulinggih yang muput upacara sama-sama melakukan puja bersamaan. Tujuannya, untuk menyucikan alam semesta ini, menyucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. 

Ketua Panitia Upacara, Ida Mangku Dewa Gede Ambara Putra Manacika, mengatakan sumber dari Panglukatan Agung Gangga Pratista ini adalah Tirta Amertha Sanjiwani, yang tercipta dari pemutaran Mandara Giri. Zaman sekarang, pemutaran Mandara Giri bersifat abstrak, tidak ada di dunia ini, tapi melaksanakan pemutaran melalui Jnana Tatwa. Maka, konsep pelaksanaan penglukatan ini dilakukan oleh wiku. “Panglukatan Agung Gangga Pratista ini adalah momen panglu-katan menggunakan Tirtha Amerta Sanjiwani yang bersumber dari hasil yoga sang meraga wiku,” katanya.

Menurut Mangku Dewa Gede Ambara Putra Manacika, Panglukatan Agung Gangga Pratista ini sudah menjadi bhisama Mahasaba Pandita PHDI Pusat. “Artinya, kalau sudah menjadi bhisama, kita harus melaksanakannya. Maka, perlu dukungan dari pemerintah maupun seluruh umat. Mari kita laksanakan yadnya ini, semoga ini akan memberikan vibrasi yang positif,” ujar Ida Mangku.

Dia mengatakan, momentum Hari Raya Saraswati pada Saniuscara Umanis Watugunung, Sabtu (17/3)---sehari sebelum Banyu Pinaruh---kebetulan jatuh bersamaan dengan Nyepi Tahun Baru Saka 1940. Nyepi merupakan payogan Ida Sang Hyang Brahma Prajapati, sementara Saraswati adalah payogan Ida Batari Saraswati. 

“Kalau kita persepsikan Sang Hyang Brahma dan Ida Batari Dewi Saraswati adalah Purusa dan Pradana, barangkali beliau dalam perjalanannya berjanji ‘Mari dalam 150 tahun sekali bersama-sama melakukan Yoga Samadhi,” terang Ida Mangku. Menurut Ida Mangku, dari payogan Sang Hyang Brahma dalam Nyepi Tahun Baru Saka adalah membangun kedegdegan dan membangun amertha. Sedangkan Saraswati adalah ilmu pengetahuan. “Tidak ada ilmu pengetahuan, tidak ada penciptaan di dunia ini,” katanya. 

Ida Mangku menyebutkan, Pangluktan Agung Gangga Pratista kali ini dilakukan di areal Pura Watu Klotok. Pihaknya berharap untuk kegiatan ritual serupa saat Banu Pinaruh 6 bulan mendatang, bisa dilakukan di kawasan pantai lainnya di Bali, seperti Pantai Masceti (Gianyar), Pantai Sanur (Denpasar), Pantai Petitenget (Badung), dan Pantai Tanah Lot (Tabanan). “Pada hari yang sama dan jam yang sama pula, para wiku (sulinggih) kita dari semua wangsa melaksnakan puja seperti ini diikuti oleh seluruh umat,” ujar Ida Mangku.

Sementara, Ketua PHDI Bali IGN Sudiana mengatakan upacara Pangluktan Agung Gangga Pratista ini sebenarnya merupakan keputusan Sabha Pandita PHDI Pusat. Gangga Pratista itu adalah panglukatan agung yang ditujukan kepada umat Hindu dan alam semesta. 

“Gangga Pratista ini sudah diputuskan tahun 2011 lalu dan ditegaskan lagi pada Pasamuhan Sabha Pandita PHDI Pusat tahun 2015. Dengan keputusan itulah maka Panglukatan Agung Gangga Pratista ini untuk kali pertama ini dilaksanakan di Segara Watu Klotok,” jelas Sudiana.

Menurut Sudiana, kalau di india ada Kumbamela, maka di Bali ada Banyu Pinaruh. Saat Banyu Pinaruh ini, biasanya umat sedharma mandi di pantai, pakai pakaian biasa, maknanya juga tidak jelas. Nah, dengan adanya Gangga Pratista ini, nantinya diharapkan umat tidak lagi mandi-mandi biasa. “Jadi, Banyu Pinaruh sudah ditata oleh PHDI, supaya umat habis mandi di laut mendapatkan panglukatan dari sulinggih yang muput saat Panglukatan Agung Gangga Pratista,” tandas Ketua PHDI Bali yang juga Rektor IHDN Denpasar ini.

Sudiana menegaskan, untuk kegiatan pertama dalam Panglukatan Agung Gangga Pratista di areal Pura Watu Klotok kali ini, hanya dipuput oleh 33 sulinggih. Di masa datang, jumlah sulinggih yang muput akan ditingkatkan menjadi 108 orang.

PHDI Kabupaten/Kota se-Bali, kata Sudiana, akan diinstruksikan agar di setiap pantai nantinya ada Panglukatan Gangga Pratista saat Banyu Pinaruh yang jatuh rutin 6 bulan sekali (210 hari sistem penanggalan Bali) pada Radite Paing Sinta. “Kami harap biayanya dari pemerintah daerah, karena tujuannya bukan untuk pribadi, tapi semua umat,” jelas Sudiana.














sumber: nusabali.com

Related

Warta Semarapura 9095960516077387426

Post a Comment

item