Perang Suriah: Penduduk melarikan diri dari pengeboman di Ghouta Timur

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Penduduk Ghouta Timur, Suriah, dilaporkan melarikan diri dari daerah kantong yang dikuasai pemberontak yang dibombardir oleh pasukan pemerintah dalam situasi yang disebut "lebih dari kritis".
Petempur dari kubu pemberontak di Ghouta Timur bergerak mundur ketika pasukan pemerintah berhasil merebut kembali wilayah yang lebih luas.
Salah satu kelompok pemberontak di sana, Jaysh al-Islam, mengatakan pihaknya menggalang kekuatan selagi ribuan warga melarikan diri dari serangan pasukan pemerintah.
Menurut kelompok pemantau yang berkantor di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights, pasukan pemerintah kini menguasai sekitar 25% wilayah yang sebelumnya dikuasai pemberontak.
Para petempur pemberontak yang berada di kota Misraba - di bagian tengah - dilaporkan merundingkan syarat-syarat penarikan diri dengan pemerintah. Jika langkah itu terwujud maka pemerintah berpeluang membelah Ghouta Timur menjadi dua bagian.

Bagaimana skala situasi kemanusiaan di sana?

Baik jeda kemanusiaan harian selama lima jam yang diperintahkan oleh Rusia -pendukung utama Suriah - maupun perintah gencatan senjata di seluruh wilayah Suriah oleh Dewan Keamanan PBB tidak mampu membantu meringankan beban kemanusiaan di daerah kantong Ghouta Timur.

PBB mengatakan "hukuman kolektif atas warga sipil sama sekali tidak bisa diterima".
Masih menurut PBB, pihaknya gagal mendapatkan izin dari pihak berwenang Suriah untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dengan 40 truk ke kota penting, Douma.
"Aliha-alih penangguhan yang sebenarnya sangat diperlukan, kita terus menyaksikan petempuran lagi, kematian lebih banyak, dan laporan-laporan lebih banyak yang mengganggu tentang kelaparan dan rumah sakit-rumah sakit yang dibom," kata koordinator kemanusiaan regional PBB, Panos Moumtzis.
Sekitar 393.000 warga terjebak di daerah kantong yang dikepung itu.
Ke mana penduduk melarikan diri?
Sumber-sumber oposisi dan wartawan yang meliput di lapangan mengatakan ratusan orang melarikan diri dari pengeboman di Beit Sawa, di selatan Douma dan di ujung timur Ghouta Timur pusat yang padat penduduknya.
Daerah kantong itu merupakan kawasan pertanian yang luasnya sekitar Manchester di Inggris.
Para warga, banyak di antara mereka perempuan dan anak-anak, dilaporkan menyelamatkan diri ke pusat daerah kantong itu. Pertempuran semakin sengit di Beit Sawa antara pasukan pemerintah dan faksi Jaysh al-Islam.
Ghouta Timur didominasi oleh Jaysh al-Islam. Namun Hayat Tahrir al-Sham, aliansi jihadis pimpinan kelompok mantan afiliasi al-Qaida di Suriah juga mempunyai kehadiran di sana.
Seorang warga yang berbicara kepada BBC menyebut situasi di Ghouta Timur "lebih dari kritis".

Apa tujuan pemerintah Suriah?

Sejumlah laporan menyebutkan pasukan pemerintah berusaha memecah daerah kantong itu menjadi dua.
Media pemerintah Suriah melaporkan pasukan darat berhasil bergerak maju di sejumlah tempat, dan menguasai desa-desa dan ladang pertanian. Di sisi lain pasukan pemerintah melakukan gempuran dari arah timur daerah kantong.
Menurut Syrian Observatory for Human Rights, pasukan pemerintah berada sekitar tiga kilometer dari Douma.
Militer dituduh menjadikan penduduk sipil sebagai sasaran, tetapi militer menegaskan pihaknya berusaha membebaskan daerah kantong, salah satu kantong pemberontak paling kuat, dari pihak yang disebut sebagai teroris.
Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan operasi militer melawan pemberontak di Ghouta Timur harus dilanjutkan.
Dikatakan oleh Assad bahwa situasi di Ghouta Timur yang digambarkan di dunia Barat, tidak benar.

BBC

Related

Dunia 6482917445579011038

Post a Comment

item