Korban Selada Terkontaminasi E Coli Bertambah Jadi 98 Orang

Korban Selada Terkontaminasi E Coli Bertambah Jadi 98 Orang

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali     Bakteri Escherichia coli atau E. coli yang berbahaya tak hanya berkembang pada daging atau air saja. Bakteri jahat itu ternyata juga bisa hidup pada sayur-sayuran seperti selada dan menyerang manusia.

Sejak diketahui mulai mewabah pada awal tahun ini, E. coli pada selada itu dilaporkan telah menyerang 98 orang di 22 wilayah Amerika Serikat. Bakteri E. coli itu disebut menghasilkan zat berbahaya yang dikenal sebagai racun Shiga. Racun ini dapat menyebabkan muntah, kram perut parah, hingga diare berdarah.

Akibat bakteri E. coli pada selada itu, sebanyak 46 orang dilarikan ke rumah sakit dan 10 di antaranya menderita gagal ginjal.
"Kami mengharapkan lebih banyak laporan tentang penyakit ini karena ada penundaan dua hingga tiga minggu antara waktu seseorang sakit dan dapat dikonfirmasikan sebagai wabah," kata perwakilan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) Matthew Wise, seperti diberitakan Reuters.

Wabah E. coli ini berkembang pada selada berjenis Romaine yang berasal dari kawasan Yuma, Arizona. Jenis selada romaine ini serupa dengan selada yang banyak tumbuh di Indonesia. 

Bulan lalu, CDC sudah mengeluarkan perintah kepada masyarakat untuk memeriksa terlebih dahulu selada yang hendak dibeli. CDC meminta konsumen tidak membeli selada yang berasal dari daerah Yuma, Arizona lantaran diduga terkontaminasi bakteri E. coli yang berbahaya. Jika sudah terlanjur membeli, CDC meminta konsumen untuk langsung membuang selada itu.

Saat ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sedang menginvestigasi perkebunan lain yang diduga juga terkontaminasi bakteri E. Coli.

"Sebagian besar dari penyakit yang timbul akibat selada Romaine tidak berhubungan dengan selada yang berasal dari Yuma. Kami sedang menginvestigasi belasan perkebunan lain yang menghasilkan selada Romaine," kata perwakilan FDA.
Diberitakan The Daily Meal, perwakilan dari CDC yang menangani kasus ini Laura Gieraltowski memprediksi laporan akibat bakteri E. Coli ini bakal terus meningkat hingga beberapa pekan ke depan. Pasalnya, selada itu masih beredar di pasaran termasuk beberapa restoran besar di AS. 

Sementara itu, laporan konsumen dalam organisasi non profit Consumer Reports meminta agar masyarakat AS tidak mengonsumsi semua jenis selada sampai wabah ini berhasil ditangani pemerintah. Hal ini lantaran selada berjenis romaine dari Arizona itu sulit dibedakan dengan selada lainnya dari daerah lain. 

Laporan itu juga menyebut pemerintah AS sejauh ini juga belum dapat memastikan jenis selada yang aman untuk dikonsumsi. Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, konsumen diminta untuk tidak mengonsumsi selada untuk sementara waktu.

Ini merupakan kali kedua organisasi itu menyarankan agar masyarakat tak mengonsumsi selada sejak wabah mulai menyerang pada awal tahun ini. Peringatan pertama dikeluarkan pada Januari lalu.

Di Indonesia, selada yang merupakan sayuran utama dalam lalapan masih tergolong aman untuk dikonsumsi. Kendati demikian, masyarakat tetap mesti waspada dalam menyantap selada
Ada baiknya mencuci selada terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk menghindari bakteri E. coli yang melekat pada daun selada.

Beberapa gejala yang terkontaminasi bakteri E. coli diantaranya seperti keram perut parah, diare yang sering disertai darah, muntah, dan demam. Gejala ini muncul mulai satu atau tiga hari bahkan juga bisa hingga 10 hari setelah mengonsumsi selada. 




















sumber : CNNIndonesia.com

Related

Gaya Hidup 7311770180882450678

Post a Comment

item