Data Pertumbuhan Ekonomi Tak Mampu Angkat IHSG

Data Pertumbuhan Ekonomi Tak Mampu Angkat IHSG

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramalkan melanjutkan pelemahan pada awal pekan ini, Senin (7/5). Data pertumbuhan ekonomi yang bakal dirilis pada hari ini diperkirakan tak akan mampu mengangkat IHSG.

"IHSG sementara masih akan negatif, belum ada sentimen baru," ucap Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo kepada CNNIndonesia.com.

Lucky memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal I yang akan diumumkan hari ini masih akan berada di kisaran yang sama. Dengan kondisi tersebut, menurut dia, sentimen pertumbuhan ekonomi akan bersifat netral pada IHSG.


"Pertumbuhan ekonomi masih di kisaran sama. Tidak memberikan sinyak untuk menaikkan IHSG dalam jangka pendek, jadi sentimennya netral," terang dia. 

Pada kuartal pertama tahun lalu, pertumbuhan ekonomi tercatat berada di kisaran 5,01 persen. Sedangkan pada kuartal IV lalu, pertumbuhan ekonomi tercatat berada di kisaran 5,19 persen. 

Di sisi lain, Lucky menilai pelemahan nilai tukar rupiah masih akan menjadi sentimen negatif bagi laju IHSG. Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (4/5), nilai tukar rupiah ditutup turun enam poin atau 0,04 persen menjadi Rp13.945 per dolar Amerika Serikat (AS). 

"Rupiah juga masih melemah, pelaku pasar juga khawatir soal kenaikan suku bunga The Fed," sambung Lucky.
Tak hanya khawatir soal rencana kenaikan suku bunga The Fed, pelaku pasar juga mengkhawatirkan kebijakan Bank Indonesia (BI) akan terpengaruh kondisi dari The Fed.

"Tapi diharapkan BI tetap mempertahankan suku bunga, kalau pun menaikan dan rupiah menguat. Itu hanya bersifat penguatan sementara saja, karena masih ada kekhawatiran dari The Fed," papar Lucky.

Maka itu, ia meramalkan IHSG pada pekan ini masih berada di area sekitar 5.700 sebagai level support-nya. Sementara, IHSG tetap berpeluang bergerak ke level 5.858.

Di sisi lain, Analis Artha Sekuritas Frederik Rasali menilai IHSG juga masih terkena sentimen negatif dari perang dagang antara AS dan China. 

"Pertemuan kedua belah pihak belum menemui titik temu," terang Frederik dalam risetnya.
Belum lagi, sejumlah saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap) juga sedang tertekan akibat pelemahan IHSG dan perdagangan yang lebih singkat. Untuk hari ini, Frederik meramalkan IHSG berada dalam rentang support 5.751 dan resistance 5.891.

"Kami menyarankan pelaku pasar untuk mengincar saham-saham middle caps," pungkas Frederik.

Sebagai informasi, sepanjang pekan lalu IHSG terkoreksi 2,14 persen ke level 5.792. Dengan begitu, nilai kapitalisasi pasar ikut melemah 1,97 persen menjadi Rp6.448 triliun. 

Sementara itu, kondisi yang berbeda justru terlihat pada bursa saham Wall Street. Tiga indeks utamanya menguat pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (4/5). 

Bila dirinci, Dow Jones naik 1,39 persen, S&P500 naik 1,28 persen, dan Nasdaq Composite naik 1,71 persen.

























sumber : CNNIndonesia.com

Related

Berita Ekonomi 2302340586576027634

Post a Comment

item