Warga Berebut Darah Sapi, Dipercaya Jadi Obat Penyembuh

www.nusabali.com-warga-berebut-darah-sapi-dipercaya-jadi-obat-penyembuh

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali   Bertepatan dengan Tilem sasih karo, Wakil Bupati Klungkung, I Made Kasta didampingi Ny Sri Kasta menghadiri  tradisi mecaru majaga-jaga di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung pada Saniscara Pon Matal, Sabtu (11/8). Tradisi ini digelar setiap tahun dengan tujuan untuk menghindari terjadinya malapetaka bagi warga desa.

Dipusatkan di catus pata desa pakraman setempat, upacara diawali sekitar pukul 07.00 WITA, sapi pilihan yang sudah dimandikan mulai diarak oleh warga yang didominasi anak-anak muda. Sapi yang diikat dengan tujuh tali pertama kali diarak ke arah utara sampai di ujung desa sebelah utara. Persisnya di depan Pura Puseh. Di sana, digelar prosesi upacara. Sapi ditebas pada pantat sebelah kanan oleh pamangku catus pata. Sapi tersebut ditebas menggunakan blakas sudamala yang disakralkan. Darahnya pun berceceran.

Kemudian, sapi tersebut kembali diarak krama (warga) menuju arah selatan hingga di batas desa. Persis di depan Pura Dalem, dilakukan proses upacara yang tak jauh beda dengan upacara di perbatasan desa sebelah utara. Sapi ditebas pada pantat bagian kiri. Selanjutnya diarak kembali ke catus pata, sebelum akhirnya diarak lagi ke arah timur sampai di perbatasan desa sebelah timur. 

Di sana, sapi yang tampak kelelahan itu kembali ditebas pada pantat sebalah kanan. “Diarak ke barat sampai di depan Pura Prajapati. Kaki belakang yang lebih ke belakang ditebas. Kemudian kembali ke catus pata untuk upacara selanjutnya,” ujar Bendesa Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Wayan Sulendra didampingi Petajuh, Komang Karyawan.

Ditambahkan, ceceran darah sapi itu diyakini sebagai darah kurban untuk menjaga desa setempat. Baik sekala maupun niskala. “Intinya menetralkan atau membersihkan alam. Baik parhyangan, pawongan dan pelemahan,” bebernya.

Melihat banyaknya darah yang sudah keluar dari tubuh sapi tersebut, warga setempat pun berebut mengambil darah untuk dioleskan di bagian tubuh mereka masing-masing. Sebagian malah mengusapkan darah sapi ke wajah mereka. Darah sapi itu dipercaya dapat mengobati penyakit. Upacara mecaru mejaga-jaga ini menggunakan seekor sapi pilihan. Tidak boleh cacat, sudah dikebiri dan hanya bisa dipilih oleh keturunan pemangku prajapati, pemangku catus pata, serta pamong dalem.

Warga desa sepakat tidak berani mengubah rentetan tradisi yang sudah diwariskan secara turun-menurun itu. Konon, tradisi itu pernah ditiadakan dengan alasan kesibukan krama melaksanakan upacara ngaben. Ternyata, beberapa orang meninggal di sana. Petani juga gagal panen. “Sampai sekarang kami tidak berani tak menggelarnya. Ketika tidak dilaksanakan prosesi upacara ini, maka akan terjadi malapetaka,” ujarnya. 



















































sumber : nusabali.com

Related

Warta Semarapura 6582498051317267583

Post a Comment

item