AS Setujui Vaksin Chikungunya Pertama di Dunia

Seorang pekerja kota melakukan pengasapan terhadap nyamuk Aedes aegypti, vektor virus demam berdarah, Zika, dan Chikungunya, sebagai langkah pencegahan di luar Gereja Las Misericordias di Guatemala City pada tanggal 30 Agustus 2023. Guatemala melaporkan 21 kematian dan lebih dari 10.000 kasus penularan demam berdarah hingga 12 Agustus 2023, yang menunjukkan peningkatan 135 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2022, menurut data dari Kementerian Kesehatan. Pada Kamis (9/11/2023), AS menyutuji vaksin cikungunya pertama di dunia.(AFP/JOHAN ORDONEZ)

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada Kamis (9/11/2023) menyetujui vaksin cikungunya pertama di dunia.

Cikungunya adalah penyakit akibat virus yang disebarkan oleh nyamuk yang terinfeksi.

FDA menyebut penyakit cikungunya kini menjadi ancaman kesehatan global yang sedang berkembang.

Vaksin cikungunya yang disetujui AS kali ini dikembangkan oleh Valneva dari Eropa dan akan dipasarkan dengan nama Ixchiq.

FDA mengungkap, vaksin tersebut telah disetujui untuk orang berusia 18 tahun ke atas yang memiliki risiko terpapar lebih tinggi.

Chikungunya, yang menyebabkan demam dan nyeri sendi yang parah, selama ini paling banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis di Afrika, Asia Tenggara, dan sebagian Amerika.

Pejabat senior FDA Peter Marks, menyebut infeksi virus chikungunya dapat menyebabkan penyakit yang parah dan masalah kesehatan yang berkepanjangan, terutama bagi lansia dan individu dengan kondisi medis yang mendasarinya.

"Persetujuan hari ini memenuhi kebutuhan medis yang belum terpenuhi dan merupakan kemajuan penting dalam pencegahan penyakit yang berpotensi melemahkan dengan pilihan pengobatan yang terbatas," terang dia dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari AFP.

Vaksin ini disuntikkan dalam satu dosis dan mengandung virus chikungunya yang hidup dan dilemahkan, seperti halnya vaksin lainnya.

Dua uji klinis dilakukan di Amerika Utara terhadap 3.500 orang.

Sakit kepala, kelelahan, nyeri otot dan sendi, demam dan mual adalah efek samping yang umum dilaporkan.

Reaksi serius dilaporkan terjadi pada 1,6 persen penerima Ixchiq dalam uji coba tersebut, dengan dua di antaranya harus dirawat di rumah sakit.


Sumber : Kompas.com

Artikel Asli

Related

Dunia 5266775737187299062

Post a Comment

emo-but-icon

item