RS Bali Mandara Batal Launching Gara-Gara Didemo Warga Sanur, Ini Kata Gubernur Pastika


RS Bali Mandara Batal Launching Gara-Gara Didemo Warga Sanur, Ini Kata Gubernur Pastika

Srinadi 99,7 FM | Radio Bali - Setelah ribuan Krama Adat Sanur berhenti menggelar demo di depan Rumah Sakit Bali Mandara, Gubernur Bali Made Mangku Pastika akhirnya mendatangi rumah sakit tersebut, Sabtu (28/10/2017) sekitar pukul 11.10 Wita. 

Usai bersembahyang dengan seluruh karyawan RSBM, Pastika langsung memerintahkan pihak rumah sakit untuk mencabut seluruh atribut launching yang telah dipasang di sekeliling rumah sakit tersebut.
"Saya minta Pak direktur, umbul-umbul dicabut semua, ini (kursi-kursi hias, dan podium) dicopot juga. Ya begitulah. Karena yang ditentangkan launchingnya, bukan rumah sakitnya," kata Pastika kepada awak media.
Orang nomor satu di Pemprov Bali ini menilai Soft Launching sebuah rumah sakit itu antara perlu dan tidak perlu.
Apabila memang ditolak, Pastika mengaku tidak akan menggelar launching.
Hanya saja, mulai 28 Oktober 2017 ini, kata dia, RSBM sudah siap melayani masyarakat.
"Kalau ada pasien sekarang ya kita tolong saja. Kan tanpa harus ada dilaunching. Dokter sudah siap, alat sudah siap, obat sudah siap, sistem sudah siap, izin sudah ada. Sekarang kalau ada orang sakit ke sini mau kita tolak? Kan tidak mungkin," kata mantan Kapolda Bali ini.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika (kacamata hitam), bersama jajaran saat menyambangi RS Bali Mandara Jalan By Pass Ngurah Rai, Denpasar, Sabtu (28/10/2017).
Gubernur Bali Made Mangku Pastika (kacamata hitam), bersama jajaran saat menyambangi RS Bali Mandara Jalan By Pass Ngurah Rai, Denpasar, Sabtu (28/10/2017). (Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara)
Untuk diketahui, Krama Adat Sanur mengancam akan terus menggelar demonstrasi di depan RSBM jika tuntutan mereka untuk mempekerjakan 10 persen karyawan dari Sanur tidak dipenuhi.
Krama Adat Sanur juga mengancam sebelum tuntutan warga Sanurdipenuhi, pihak Pemprov Bali tidak diizinkan mengoperasikan RSBM.
Terkait hal tersebut, Pastika mengatakan hal tersebut sudah keterlaluan.
Sebab, rumah sakit adalah tempat perawatan orang sakit agar cepat mengalami pemulihan.
Itu sebabnya, pihaknya memilih tetap akan mengoperasikan RSBM kendati ditolak ribuan massa.
"Ya keterlaluan lah, kalau ada orang sakit mau berobat digebukin gitu? Saya kira tidak benar. Makanya saya bilang launching tidak perlu," ujar Pastika.
Namun demikian, ia berharap semua pihak nantinya pakedek pakenyum (saling tertawa), sehingga nantinya rumah sakit Bali Mandara bisa diresmikan secara bersama dengan penuh tawa. 
"Ini kan rumah sakit. Rumah sakit itu harus berdasarkan hati yang tulus. Karena kita menghormati orang yang sakit, supaya jadi sehat. Jadi hati itu harus tulus.  Kita tunggulah sampai semuanya pakedek pakenyum," kata pria asal Buleleng, ini.
Sebetulnya pihak Pemprov Bali sudah berwacana bakal memenuhi  tuntutan warga Sanur terkait pemberian jatah 10 persen untuk warga Sanur.
Hanya saja, warga meminta adanya hitam di atas putih atau legalitas. 
Terkait tuntutan legalitas itu, Pastika mengaku akan membahas terlebih dahulu apakah memungkinkan atau tidak memberikan jatah lagi kepada warga Sanur.
Sebab, kata Pastika, rumah sakit tidaklah bisa ditarget jatah karena sangat berpengaruh pada pelayanan. 
"Ini kan minta jatah, rumah sakit itu tidak bisa dikasih jatah. Nanti dikasih jatah demi memenuhi 10 persen, atau 20 persen, trus kita harus terima siapa saja? Ini menyangkut jiwa orang lho," kata Pastika.
(TribunNews)

Related

Seputar Bali 8900331701402642814

Post a Comment

item